Print this page

Tanara Banten : Wisata Religi Baru dengan Pusat di Ponpes An Nawawi

21 September 2019
Tanara Banten : Wisata Religi Baru dengan Pusat di Ponpes An Nawawi

Apa yang menyebabkan Tanara Banten ditetapkan menjadi lokasi wisata religi?  Ini tak lain, karena  Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani  (lahir di Tanara, Serang, 1230 H/1813 M - meninggal di Mekkah, Hijaz 1314 H/1897 M).

Syekh ini adalah seorang ulama Indonesia  bertaraf Internasional. Ia pernah menjadi Imam Masjidil Haram.  Ia dikenal sebagai ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab. Jumlah karyanya tidak kurang dari 115 kitab.  Yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Ia bergelar al-Bantani karena berasal dari Banten, Indonesia. 

Baru-baru ini, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menargetkan kunjungan wisata religi di tanah kelahiran sang Syekh ini bisa mencapai 300 ribu wisatawan nusantara (wisnus), dan 30 ribu wisatawan mancanegara (wisman). “Prediksi untuk wisman mencapai 1 juta dolar AS dan wisnus Rp 300 miliar,” ujar Arief, seusai launching masterplan wisata religi, penataan pencahayaan di Ponpes An Nawawi Tanara, Kabupaten Serang, Banten Jumat (20/9/2019).

Arief menjelaskan, proyek tersebut akan menghabiskan anggaran senilai Rp 30 triliun. “Jadi ada tiga (masterplan) yang saya serahkan hari ini,” kata Arief lagi.

Masterplan  pertama adalah wisata religi Serang dengan pusat. Ponpes An Nawawi.  “Saya sudah minta konsultan untuk sampai ke seluruh provinsi,  mengembangkan wisata religi.  Tapi tahun ini hanya untuk Serang dan dimulai dari Ponpes An Nawawi,” ujar Arief.

Masterplan yang kedua adalah pengembangan lighting sistem yang akan dimulai dari Ponpes An Nawawi Tanara.  Saat ini desainnya sudah selesai. “Sebentar lagi kita bisa lihat teasernya seperti apa lighting sistem,” ucapnya.

Selanjutnya, dalam upaya pembangunan kawasan tersebut, pihaknya akan memulai dengan kebersihan kawasan. Syarat utama penataan adalah kebersihan lingkungan.  “Karena 2020 akan kami bangun, bersih itu syarat mutlak dari pariwisata,” tutur Menteri Arief lagi.

Ketiga, masterplan Tirta Kalimati. Saat ini desain sudah selesai dan diharapkan akan banyak contoh dari luar seperti Paris, London, atau Vanis.  “Karena kita belum punya (wisata Tirta) yang terbaik di Indonesia maka kita ambil dari luar,” katanya.

Menurutnya, saat ini pengerjaan fokus pada visioning masterplan, sehingga tidak detail tapi jadi pegangan umum.  “Kalau di sini (fisik) mulai 2020. 2019 mulai dengan yang kecil dulu ada lighting system dan kebersihan,” ujar Menteri.

Arief lebih jauh menjelaskan, konsep pengembangan wisata religi di Tanara karena Banten unggul dalam hal wisata religi dibanding daerah lainnya.  Bahkan wisata religi Banten adalah salah satu yang terbaik di Indonesia. “Makanya Banten temanya adalah wisata religi. Kalau misal saya ekstrem yang lain bisa kalah dan tidak bisa jadi nomor satu. Tapi kalau wisata religi bisa nomor satu,” ucapnya.

Alasan ditempatkan di Tanara, karena dari penelitian pusat studi Islam terbaik di dunia ada di Mekkah, Madinah, Uzbekistan dan Indonesia. Indonesia dipilihlah Banten, lebih spesifiknya Tanara.

“Itulah yang akan dibangun Islamic Centernya yang diusulkan Nawawi Center, pusat kajian kitab kuning. Itu di Indonesia yang terkenal di sini. Dua tokoh besar ulama kita Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan adalah murid Syeh Nawawi. Muridnya saja jadi pendiri NU dan Muhammadiyah. Itulah yang akan kita angkat, jadi bisa enggak itu kelas dunia menurut saya bisa,” tuturnya.

Minta Dukungan Masyarakat

Sementara, pihaknya belum berhitung detail total anggaran yang dibutuhkan. Akan tetapi, jika melihat pengembangan di Borobudur atau Mandalika bisa menelan anggaran mencapai Rp 30 triliun.

Bersamaan dengan itu, Kasepuhan Kesultanan Banten Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soeryaatmadja berharap kedepan Provinsi Banten akan berjaya dengan wisata religi selain menciptakan lapangan kerja, meningkatkan indeks kebahagian masyarakatnya, juga  melestarikan budaya.

“Kami berharap wisata religi di Banten dikembangkan secara konprehensif,” kata Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soeryaatmadja.

Hal senada juga disampaikan Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah. Ia  mengatakan, dalam proyek pengembangan wisata reigi yang menjadi titik utama adalah Tanara. Oleh karena itu, kebersihan lingkungan harus menjadi yang utama di wilayah tersebut.

“Karena ini wajib utama.  jadi kami lihat masyarakat di sini sadar kebersihannya masih rendah. Itu yang harus terus dorong. Kebutuhan sarpras untuk kebersihan apa saja nanti DLH masuk ke sini. Tadi dengan provinsi Bu Kadis (Eneng Nurcahyati) sudah bilang nanti akan ada sharing dari provinsi,” ujarnya.

Kemudian, kata Tatu, untuk Pemkab Serang dalam peran pengembangan ini akan membangun pusat kajian kitab kuning. Di sana pula akan dikembangkan wisata kuliner. Untuk pusat kajian kitab kuning, saat ini masih fokus pada pengadaan lahan.

“Tapi harus dana dari mana-mana, karena tidak mungkin Pemda bisa bangun sebesar itu. Kami akan buat proposal dan sebar ke negara Islam, yang sudah ada bahasa bantu itu dari Saudi Arabia,” katanya.

“Untuk pengembangan wisata religi di Serang, Banten harus didukung masyarakat. Kita berharap pengembangan wisata religi ini dapat mengurangi pengganguran sekaligus meningkatkan indeks kebahagian masyarakat,” ungkap Ratu Tatu Chasanah. XPOSEINDONESIA/Foto : Dudut Suhendra Putra 

More Pictures

 

 

 

 

Last modified on Saturday, 21 September 2019 13:18
XPOSE INDONESIA
Login to post comments