Open Pit Nam Salu Belitung :  Bekas Tambang Eksotik yang Berbarcode

12 August 2019

Bekas tambang timah di Belitung dijadikan lokasi wisata? Ketika pertama kali mendengar informasi tempat ini,  dan  kemudian dinyatakan sebagai Geopark Nasional di tahun 2017, terus terang saya tertantang untuk datang meliput. Terlebih,  beberapa tahun kemudian Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengusulkan Pulau Belitung sebagai geopark dunia untuk diakui secara internasional oleh UNESCO.

Spot Beda, Tak Ada Dua 

Saya ingin sekali membuat liputan sekaligus membuat foto-foto yang menarik. Foto yang layak masuk seleksi instagramable. Karena  buat saya pribadi, Geopark ini menjadi  tempat wisata langka, dengan spot berbeda;  tak ada dua. Baik dari sisi lokasi maupun sejarah yang menggurat di dalamnya.  Satu keunikan dari Pulau Belitung memang karena adanya bebatuan granit yang berusia ratusan juta tahun. 

Bangka dan Belitung  sejak lama terkenal sebagai penghasil timah terbaik di dunia. 10 negara, yaitu Perancis, Jerman, Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, China, Thailand, Jepang dan Singapura, menggantungkan pasokan timah dari sana. Bertahun-tahun Bangka-Belitung tercatat gemilang dalam peta tambang timah dunia.

Namun di balik itu, ada dampak buruk yang ditimbulkannya.  Lingkungan rusak tak terkendali, baik oleh tambang resmi maupun ilegal. Sebanyak tiga perempat wilayah Kepulauan Bangka-Belitung yang seluas 1,6 juta hektar, masuk dalam Izin Usaha Pertambangan (IUP) skala besar dan inkonvensional.  Di sana banyak tertinggal  lubang-lubang sisa pertambangan. 

Kalau kini,  Pemda  berniat  mengubah bekas tambang yang tak terpakai   menjadi lahan wisata, berarti ada kerja  inovasi dan revitalisasi galian menjadi lahan produktif. Dan ini  pastilah bukan pekerjaan mudah.

Akan Dibiarkan Seperti Aslinya

Beruntung kesempatan   untuk meliput lahan bekas tambang itu datang  juga.  Saya dari XposeIndonesia  diundang dalam  Famtrim Exploring Bangka Belitung 2019. 

Sejak awal  perjalanan  dari Jakarta, saya sudah mencari  beberapa  tulisan tentang Geopark ini via internet.  Dua hal yang saya ingat jelas. Bahwa lokasinya  berada 1 km dari Kota Kelapa Kampit. Kemudian, kendaraan hanya mencapai   kaki gunung Kik Karak. Artinya, kami harus berjalan kaki sekitar 400 meter dari tempat parkir terakhir menuju spot Geopark. 

Saat saya bersama rombongan Famtrim Exploring Bangka Belitung 2019 tiba  di tempat parkir terakhir, segera terlihat  hamparan tanah  merah  yang penuh bebatuan dan kering.  Dengan posisi jalan menanjak.

Sempat  saya tanyakan pada petugas yang  mengantar kami, “Kenapa jalan ini tidak di aspal saja, agar memudahkan wisatawan berjalan?”  

Jawaban dari petugas itu  cukup mengejutkan saya. “Ini justru tantangan menarik ketika mendatangi bekas tambang.  Kalau  jalannya di aspal,  jejak bekas tambangnya malah  hilang!”

Kemudian  sang petugas melanjutkan cerita. “Dulu,  ini merupakan  jalan setapak. Kemudian diperlebar dengan membuka hutan. Sampai nanti, jalan ini akan dipertahankan bukan untuk dilalui kendaraan!” kata petugas.

Geopark Pulau Belitung memiliki 12 Geosite yang terletak di dua kabupaten, yakni Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.  Salah satu yang paling populer ialah Open Pit Nam Salu,  yang tengah kami kunjungi.  “Ini  merupakan penambangan timah  terbuka dan terdalam pertama, bukan hanya di Belitung, tapi juga Indonesia,” kata petugas.

Sepajang perjalanan,  kami menemukan setidaknya tiga buah papan informasi yang terpasang di pinggir jalan.  Unik dan canggihnya,  pada papan tersebut, termuat barcode yang ketika ditempelkan pada handphone, dan akan bisa mengakses sejarah Open Pit.  

“Tempelkan saja handphone-nya, kemudian  scan barcode,  langsung keluar informasi tentang Open Pit ini,” kata  petugas. 

Setelah membaca kilasan sejarah Open Pit Nam Salu, kami melanjutkan perjalanan. Berbagai tumbuhan dan rindangnya pepohonan di tepi jalan menyertai perjalanan. 

Jalanan yang tak rata dan menanjak ditambah medan bebatuan berwana kuning kemerahan dan licin, membuat  kami wajib berjalan ekstra hati-hati agar tidak terpeleset. Ini memang perjalanan menantang, dibutuhkan kesiapan fisik prima untuk menaklukannya.

Sampai di kaki gunung Kik Karak, terlihat pemandangan bekas tambang yang menganga, berbentuk  ceruk luas dan menjelma sebagai danau dengan  air berwarna turquois dan biru. 

Danau ini dikelilingi oleh batuan cadas yang dulunya ditambang sehingga memberi tekstur warna yang menakjubkan. 

Dari  sini  pula terlihat bentang alam yang luar biasa indah tak tergantikan. Bunyi angin yang tanpa penghalang menambah suasana lain, (kalau tidak berlebihan bisa disebut ngeri) di kawasan ini.  Putaran angin yang sangat kencang, memang membutuhkan kehati-hatian ekstra untuk  berdiri di posisi ini. 

Di kanan kiri jalan memang terpasang rantai pengaman, agar wisatawan  tidak  terpeleset. Namun,  tetap dibutuhkan kehati-hatian tinggi, terutama  ketika mendekati bekas tambang yang memiliki  kedalaman lebih dari 51 meter.

Menurut catatan sejarah, tambang ini dibuka oleh perusahaan tambang kongsi Tiongkok pada 1906 di era NV Billiton Maatschappij (BM).  

Penambangan pertama  tercatat sedalam 51 meter  dan ditemukan urat timah baru.  Dalam masa dua tahun pertama, tambang ini menghasilkan 1.617 pikul timah.

Kemudian, sejak 1945 operasi penambangan dilakukan Perusahaan Pertambangan Timah Belitung (PPTB) milik Pemerintah RI berkedudukan di Tanjung Pandan. Namun, berakhir pada 1985 dan kini menyisakan ceruk luas menganga dan menjelma danau.

Belum Lengkap 3 A

Setelah melihat,  menjelajahi  dan memotret Open Pit Nam Salu, saya lihat memang belum sepenuhnya memenuhi klasifikasi 3A (Atraksi, Akses dan Amenitas), seperti  yang dicanangkan Menteri Arief Yahya sebagai syarat menggapai sukses Pariwisata. 

Terutama untuk A yang ketiga;  Amenitas.  Lantaran tempat ini belum memiliki kelengkapan tempat wisata, terutama  untuk ketersediaan  restoran dan  jasa transportasi lokal,  seperti angkutan umum. 

Hermanto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung mengatakan, upaya pengembangan destinasi di kawasan Geopark Belitung harus menjadi kesatuan pembangunan kepariwisataan berbasis konservasi maupun edukasi di Belitung,” katanya. XPOSEINDONESIA Teks dan Foto : Dudut Suhendra Putra.

More Pictures

Last modified on Friday, 23 August 2019 15:09
Login to post comments