Brink Man Ship Eksplorasi music ala Swiss

15 November 2013
Brink Man Ship, band Jazz asal Swiss ini  tampil di acara Serambi Jazz di GoetheHaus Jakarta pada Kamis 14/11/13 lalu setelah 2 hari sebelumnya tampil di Bandung. Brink Man Ship digawangi oleh Jan Galega Brönnimann (klarinet bas), René Reimann (gitar), Emanuel Schnyder (bas) dan Christoph Staudenmann (drum) Brink Man Ship, band Jazz asal Swiss ini tampil di acara Serambi Jazz di GoetheHaus Jakarta pada Kamis 14/11/13 lalu setelah 2 hari sebelumnya tampil di Bandung. Brink Man Ship digawangi oleh Jan Galega Brönnimann (klarinet bas), René Reimann (gitar), Emanuel Schnyder (bas) dan Christoph Staudenmann (drum) XPOSEINDONESIA / Indrawan Ibonk

72

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Bagi pencinta jazz di Indonesia, nama Brink Man Ship mungkin terdengar sedikit asing di telinga. Kelompok musik yang berasal dari Swiss ini  tampil di acara Serambi Jazz di GoetheHaus Jakarta pada Kamis 14/11/13 lalu melanjutkan penampilannya di beberapa kota di Indonesia yang yakni Bandung, Jakarta dan Yogyakarta. Mereka inilah yang disebut-sebut sebagai simbol jazz moderen Swiss. Brink Man Ship digawangi oleh Jan Galega Brönnimann (klarinet bas), René Reimann (gitar), Emanuel Schnyder (bas) dan Christoph Staudenmann (drum).

‘Phonoclick’ adalah komposisi pembuka kelompok ini dengan latar belakang suara digital elektronik yang cukup lembut ditimpali tiupan klarinet Jan Galega. Sangat mencuri perhatian, dilanjutkan setelahnya dengan ‘Tölt’ yang tak jauh berbeda. Eksplorasi bunyi dan kesan asing serta permainan masing-masing instrumen disuguhkan dengan sempurna.

Brink Man Ship sebelumnya telah menjelaskan bahwa jazz yang mereka usung adalah  ‘Urban Electronic Jazz’. Tapi terus terang musik mereka sangat dingin, menenggelamkan perasaan audiens yang hadir. Apalagi beberapa karya ditingkahi dengan visualisasi layar yang menggambarkan kedalam laut. Memperkuat eksplorasi jazz eksperimental yang mereka bawakan. Banyak mengolah bebunyian elektronik, dengan memadukan synthesizer, looping, drum n’ bass dengan permainan instrumen yang impresif.

Selanjutnya bergulir nomor-nomor lanjutan seperti ‘Online Predator’, ‘St. Petersburg’, ‘Sakitu’, ’Dadaisten’, yang makin menampakkan ketertarikan mereka akan sebuah improvisasi musik yang berbeda dengan bebunyian baru. Tidak terasa berat namun harus memakai hati untuk menikmatinya.

Penampilan mereka ditutup dengan menghadirkan ‘Klirrbeat’ dan ‘Dubstep’  yang sedikit lebih enerjik. Secara keseluruhan ke empat musisi asal Swiss ini cukup berhasil mengamankan ritme penampilan mereka dengan memadumadankan bunyi instrumen musik standar dan perangkat elektronik.

Cukup memuaskan, apalagi bagi mereka yang ingin mencari olahan musik posmoderen yang penuh dengan kontras, detil melodi dan beragam irama. (XPOSEINDONESIA/ IWB)

More Pictures

Last modified on Thursday, 06 March 2014 11:44
Login to post comments

Music

July 13, 2013 0

Andi Auriec Menunggu Berkah ‘Sampai Mati’

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke  Ancol Beach City...
July 27, 2013 0

Metalica Live in Jakarta

Metallica, akan manggung di Jakarta pada Minggu, 25...
July 27, 2013 0

“Best Song Ever” dari One Direction

Superstar global, One Direction merilis single terbaru...
July 29, 2013 0

Alicia Keys Manggung di Jakarta

Alicia Keys terkenal di dunia musik sebagai pelantun...