XPOSEINDONESIA.COM - XPOSEINDONESIA.COM - On Stage https://www.xposeindonesia.com Tue, 07 Jul 2020 14:00:53 +0700 Joomla! - Open Source Content Management en-gb Java Festival Gelar Live Streaming  Melomaniac https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/3100/java-festival-gelar-live-streaming-melomaniac.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/3100/java-festival-gelar-live-streaming-melomaniac.html Java Festival Gelar Live Streaming  Melomaniac
Lebih dari tiga bulan ini, pandemi Covod 19 telah membatasi event organizer dalam menyelenggarakan pertunjukan musik secara live yang dapat…

Melihat kekosongan itu, Java Festival Production  memenuhi kerinduan penonton, dengan menggelar konser musik live steaming  bertajuk “Melomaniac”.

Untuk edisi pertama,  pentas “Melomaniac”.bertajuk: Black American Music Edition bisa disimak gratis  lewat livestream  pada hari Sabtu, 4 Juli 2020 pukul 19:30 WIB. Akses masuk  bisa  didapat dengan mendaftar di jfp.events

Pentas Melomaniac sesi pertama akan menampilkan Dira Sugandi, Elfa Zulham, Sri Hanuraga, Dhani Syah, Kevin Yosua dan Ayoe yang akan membawakan   lagu-lagu dari Marvin Gaye, Aretha Franklin, Stevie Wonder, Whitney Houston dan masih banyak lagi.  

Pentas yang dirancang untuk memenuhi kerinduan akan menonton konser musik live sekaligus untuk mendukung industri musik di tengah pandemic yang telah terjadi, ini didukung Kedutaan Besar Amerika Serikat, Interindo Multimedia, Peplus Audio Indonesia, Lemmon Productions, CBN & Dens.TV, Sima Agustus dan Total Rental. XPOSEINDONESIA Foto : Dokumentasi 

 

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Thu, 02 Jul 2020 09:02:35 +0700
Mostly  Jazz  Live  Online :  Sejarah Panggung yang Direncanakan  https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/3029/mostly-jazz-live-online-sejarah-panggung-yang-direncanakan.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/3029/mostly-jazz-live-online-sejarah-panggung-yang-direncanakan.html Mostly  Jazz  Live  Online :  Sejarah Panggung yang Direncanakan 
Pertumbuhan teknologi di dunia musik bergerak sangat cepat. 15 tahun lalu, tak terbayang kita bisa menonton live music bahkan dengan…

Dan pada 30 April lalu, tepat pukul 20.00 WIB lewat platform loket.com, untuk pertama kalinya  dalam sejarah panggung musik jazz Indonesia, berhasil digelar “Mostly  Jazz  Live  Online” (MJLO), sebuah pentas live  streaming berbayar  yang bisa diakses lewat handphone maupun laptop. 

“MJLO sendiri adalah sebuah pentas live jarak jauh yang menampilkan kolaburasi Indra Lesmana (Bali) dan Dewa Budjana (Jakarta), plus guest star Eva Celia (Jakarta) dengan  kendali teknis audio  dan video dipegang Djundi Karjadi  (Jakarta), sementara tata cahaya dari Lemmon ID milik Lemmy Ibrahim,” ujar Hon Lesmana founder of Mostly Jazz & Co.founder & co.Producer of Mostly Jazz Live Online  dalam press conference yang digelar secara online, 25/04.

Saat pentas dibuka, segera terlihat kualitas gambar sempurna terpancar dari dalam studio Indra Lesmana maupun Dewa Budjana. Dari sisi audio pun terdengar super jernih. 

Ketika dua maestro musik itu berdialog, tidak terkesan adanya latency (delay), seperti yang dikhawatirkan sejak awal. 

Indra Lesmana Dewa Budjana (ILDB) kemudian membuka pentas dengan membawakan lagu “Greenfield” dilanjut dengan “Mountain of Light”.  

“Bagusss. Ini seperti nonton konser  langsung tapi dari dalam kamar pribadi,” puji seseorang dalam kolam Chat.

Konser berjalan  mulus, sama sekali tak mengesankan  posisi kedua musisi tengah berada tidak dalam satu ruangan yang sama. “Suasananya persis kayak lagi nonton di Jamz,” puji penonton dalam kolam chat.  

Tetapi sebelum lagu kedua berakhir, mendadak terjadi buffering, tiba tiba  tayangan terhenti.  Di layar gadget penonton hanya terlihat seperti foto ILDB. 

Sementara, pada kolom chat, penonton yang saat itu baru berjumlah di atas 300, tetap  bisa mengirim pesan. Dengan isi sama: kenapa tayangan berhenti? Kok Mati? Apakah ini gara-gara  saya nonton yang tiketnya murah?

Usai konser,  Djundi mengaku pada lagu kedua tersebut, mendadak internet miliknya lah yang mati, “Kiriman gua ke server loket.com putus, dan ini bukan salah loket. Ini mempengaruhi semua penonton,  karena  memang dari gue nya berhenti,” ungkap  Djundi*.

“Gua kirim emergency screen aja ke loket.com ngga terima. Kalau di Java Jazz kita biasa pakai backup connectionbackup server dan lain lain. Kalau ini kan personal setup... ngga ada luxury  semacam itu. Padahal selama ini, selama latihan nggak  muncul masalah begini, eh  kok malah  pas hari H justru  kejadian,” ungkap Djundi lagi. “Untung, bisa hidup lagi, ngga lama…Jadi (tontonan) bisa lanjut lagi!”

Djundi mengaku detik itu mengalami super stress. “Ha…ha…ha… but it is part of the experience, semua kerja remotely from their own home ada batasannya. Kalau di Java Jazz team gua banyak.   Di sini, harus dilakukan semuanya sendiri. Jadi harus belajar effisien, cari tools yang bisa membantu gue untuk bisa multi-tasking,” ungkap Djundi, yang setiap tahun berperan sebagai Technical Director pada penyelenggaraan  Java Jazz Festival itu.

Soal gangguan teknis, sejak awal sudah diprediksi Djundi Karjadi.  Tapi di pemasalahan yang lain. Yakni, soal infrastruktur internet di Indonesia yang memang masih belum merata. 

“Cara orang connect ke internet juga bermacam-macam. Ada yang menggunakan handphone lewat telco (Telkomsel dan lain-lain), ada yang pakai broadband/wifi, nyambung via ISP yang berbeda-beda.  Ada yang bagus, ada yang nggak. Ini memang problem yang sama dimana-mana, termasuk di luar negri sekali pun,” ujar Djundi yang lulusan Northeastern University, jurusan Computer Science, 1988.

Bisa berlanjutnya tayangan di posisi Djundi,  tidak serta merta langsung berlanjut di gadget penonton. Menurut Djundi, dari posisi jaringan yang digunakannya ke loket.com sendiri,  tidak ada ada masalah.  Clear 100 persen. Dan jaringannya pun super kuat.

“Nah, tetapi dari dari sisi penonton, jalurnya kan macam-macam. Apalagi di tengah kondisi pandemi kayak begini, di mana jalurnya pasti tambah padat, karena semua orang pasti pakai internet.”

Sejarah yang Direncanakan

Setelah sekian menit jaringan terputus tadi, pentas ILDB bisa berlanjut lagi. Namun, di posisi penonton (yang jumlahnya mulai merangkak ke angka 400 pembeli tiket), mereka mengalami kehilangan moment lagu yang beragam. 

Ada yang hanya kehilangan lagu, “Distance", ada juga yang tak bisa melihat lanjutannya pada lagu “Somewhere Somehow”. 

ILDB kemudian terdengar memainkan komposisi lagu “Friendship”, dan “Wanita”.

Sebelum masuk pada sesi Eva Celia menyanyi “I'll Remember April”, Indra Lesmana mengaku 11 tahun lalu, pernah mencoba teknologi pertunjukan macam ini, ketika anaknya, Eva tinggal di Amerika. 

“Saya ingat itu di Red White,” kata Budjana.

“Waktu itu pakai Skype, dengan teknologi seadanya. Ayah main piano, kamu nyanyi. Tapi ada telat-telatnya. So it is so good to try this again after what so many years!” ujar Indra

“I hope sekarang semua lancar,” jawab Eva sebelum menyanyikan  I'll Remember April  yang kemudian memang terdengar sangat mulus.

Pentas berlanjut dengan ILDB berkolaburasi menyelesaikan dua lagu  terakhir  yakni “Barong Landung”, dan “Bulan Di Atas Asia”

ILDB dengan bantuan teknologi yang dikendalikan Djundi  Karjadi telah membuat  sejarah baru, menggelar pentas  music live  jarak jauh dan berbayar, dengan tiket dipatok dalam beragam harga, antara lain Rp 25.000, Rp 50.000,  Rp 100 ribu, Rp 250 ribu, Rp 500 ribu, plus  kategori donasi Jazz Hero (Rp 1 juta & Rp 2 juta). Dan tercatat jumlah penonton melewati angka 400.

Djundi  tidak mau menyedut pentas ini sebagai sebuah sejarah baru pentas musik dunia,  “Karena jujur saya engga tau… tapi yang saya lihat memang kebanyakan bukan pentas live beneran,  karena sebagian (menggunakan) playbackor play solo… but I could be wrong.”

Menurut Djundi, sepanjang masa karantina pandemic Covid 19, di Indonesia juga banyak yang mencoba menggelar pentas semacam ini. “Kami sendiri juga masih mencari dan mencoba menyempurnakan untuk  bisa perfect physically, not possible for now… just as close as we can!”

Dengan merendah, Djundi menyebut dirinya tidak mungkin bisa melakukan semua itu sendiri. 

“Ini kebetulan  ketemu partner yang punya visi sama.  Indra bagi saya … is not only a musical genius, tetapi dia juga mengerti teknologi… jadi tek tok an nya  bisa asik banget.  Malah  banyak input dari dia, terus kita coba bareng-bareng,” ujar Djundi

Djundi Karjadi yang pernah mengeyam  pendidikan musik di Berklee College of Music jurusan Audio Engineering, dan menyelesaikannya tahun 1984 itu, mengaku, “Dalam musik, gua engga bisa selevel Indra  dan  Budjana. Tetapi gua selalu admire mereka yang punya world class talent!! Mungkin pandemi ini mempertemukan kita untuk kolaborasi. Supaya para fans mereka, tetap bisa menikmati karya-karya ILDB!” 

Musik di Era New Normal  

“MJLO” pertama yang menampilan ILDB disengaja dimunculkan pada perayaan International Jazz Day yang selalu diperingati pada 30 April.   

MJLO dirancang merupakan sebuah program music & interactive webisode berkala mingguan yang berbayar dapat diakses melalui platform Loket.com dan  GoTix. Pentas  berikutnya dirancang digelar pada 8 Mei  2020 akan  menampilkan Tohpati dan Eva Celia.

Indra Lesmana mengaku, ide  pembuatan live streaming ini lahir karena adanya pembatasan keluar rumah akibat pandemic Covide 19. 

Pascapandemic, besar kemungkinan event organizer akan kembali membuat panggung pertunjukan live, dengan pengumpulan banyak massa.  

Di masa New Normal nanti, menikmati panggung musik seperti  lewat live streaming, bisa jadi akan menyusut. Hanya terjadi untuk kegiatan khusus, untuk memperpendek jarak antara para musisi, yang bisa jadi tengah tinggal di luar daerah atau di luar negeri.  

Budjana dalam steatmentnya saat live, menyebut, “Mungkin 5 tahun lagi, kegiatan kita sekarang ini akan diketawain orang!”

Pascapandemi COVID-19 diperkirakan akan terjadi paradigma dan tren menikmati musik cara baru dengan teknologi baru, yang mungkin saja sangat berbeda. 

Namun, satu yang perlu disepakati, penonton tetap wajib membeli tiket,  jika kegiatan menonton, bahkan termasuk  lewat live streaming memasang tarif berbayar. Sangat disarankan untuk tidak meminta link pada teman, yang sudah membeli tiket.  XPOSEINDONESIA/NS Foto : Tyas Yahya, Dokumentasi Djundi Karjadi, Indra Lesmana, Dewa Budjana   

More Pictures

 

[widgetkit id=2117]

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Sat, 02 May 2020 05:13:18 +0700
Mostly  Jazz  Live  Online  : Terobosan Baru Musik Live Jarak Jauh https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/3015/mostly-jazz-live-online-terobosan-baru-musik-live-jarak-jauh.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/3015/mostly-jazz-live-online-terobosan-baru-musik-live-jarak-jauh.html XPOSEINDONESIA Foto : Dokumentasi Mostly  Jazz  Live  Online
Indra Lesmana, Dewa Bujana (ILDB) dengan special guest star Eva Celia bersama Djundi Karjadi akan membuat sejarah baru dalam industri…

Untuk pertama kali, mereka akan membuat terobosan dengan mengelar realtime livestream, sebuah  penampilan  kolaborasi  musik  live  dari jarak jauh bertajuk  “Mostly Jazz Live Online“. 

Pentas  online berdurasi 60 menit  ini akan digelar pada 30 April 2020 pukul 20.00 WIB.  “Saya dan Bujana akan membawakan  lagu-lagu yang pernah kami ciptakan bersama,”kata Indra Lesmana dalam press conference  dan online gathering melalui Zoom, Sabtu, 25/04/2020.

Menurut rencana, Indra Lesmana akan bermain dari Bali, sementara Bujana, Eva Celia  dan Djundi akan berada di Jakarta, tetapi dari tempat yang saling berbeda. 

Upaya panggung ini dilakukan, di tengah  merebaknya pandemi  COVID-19,   yang memaksa seluruh masyarakat  untuk tetap menjaga jarak, dan tetap tinggal di rumah sesuai anjuran pemerintah.

“Kita sudah kangen untuk main bareng. Kangennya  sudah di puncak kepala,” ungkap Indra Lesmana.

Interaksi Musik Terobosan Baru

Menurut Indra, interakasi bermusik  itu sangat  penting bagi musisi,  “Karenanya saya dan Bujana,  mencari cara untuk bisa bikin pangung, meski  tetap tidak bisa ke luar rumah. Akhirnya, kami dipertemukan  dengan Djundi yang saya  kenal umur 20, sejak penggarapan album Karina,” kata Indra tentang Djundi Karjadi yang berperan sebagai Produser bidang Teknis Audio dari  “Mostly Jazz Live Online“.

Kata Indra, di tengah situasi Pandemi Covid 19 yang tidak menentu seperti saat ini, ia terpacu menggarap suatu terobosan baru.

“Semangat dalam bermusik jazz dan adanya International Jazz Day ini  menjadi inspirasi bagi kami untuk berkreasi, belajar dan berimprovisasi mencari solusi terbaik.”

Melalui program Mostly Jazz Live Online,  Indra berharap,  “bisa  menjadi  suatu  ruang  pagelaran  karya  musik  dengan  kualitas  sistem  teknis  audio  dan video yang selaras walaupun dari jarak yang berjauhan“. 

Pentas live online ini menurut Indra Lesmana memang akan menghadapi berbagai kendala  teknis.  “Salah satunya  karena kapasitas  public  internet  yang  mengakibatkan  latency  (delay)  yang  tidak  dapat  diprediksi,” ungkapnya.

Namun, dengan  bantuan  skill  dan teknologi IT yang dimilik Djundi yang disebut Indra sebagai Nerd (orang yang dipandang sangat  intelektual, obsesif, sangat teknis,  sekaligus abstrak ini),  persoalan  teknis yang terhubung bisa dihadapi bersama. 

“Tantangan  soal ini  bagi Djundi sama seperti menghadapi hidangan lezat,” ungkap Indra.  “Dan akhirnya kami menemukan suatu sistem dan memberanikan diri melakukan  sebuah  kolaburasi secara live,  mungkin ini untuk pertama kali  di dunia. Kita benar benar excited, sedikit deg-degan, karena ini  baru pertama kali, semoga  tanggal 30 April  nanti berjalan lancar,” ungkap Indra Lesmana (54 tahun)  yang telah memproduksi 89 album rekaman (solo/duo/group) 

Sementara itu, dalam pandangan Bujana,  proses  mereka  latihan bertiga,  untuk mempersiapkan pertunjukan ini,  jauh lebih sulit  dan berbeda dibanding ia latihan ngeband  seperti biasa.  

“Untuk latihan, kami janjian masuk studio masing-masing. Saya masuk ruangan studio di rumah, ngidupin alat,  mendengar sambil melihat yang dikerjakan Djundi di studionya. Kebanyakan harus nunggu, dan  itu bisa seharian. Bunyi alatnya mungkin  cuma 20  persen. Kadang, kami cuma disuruh tepuk tangan sama Djundi,” kata Bujana yang mengaku tak perlu mandi dan pakai sepatu untuk latihan kali ini.

Djundi Karjadi menyebut, persoalan latency tidak bisa dibuang sama sekali, terlebih dengan kondisi infrastruktur internet yang tersedia di Indonesia. 

“Jadi kita memang harus nebeng infrastruktur publik yang tersedia. Bagaimana ngakalinnya?  Itu PR buat saya aja deh,” ungkap Djundi tanpa merinci soal teknis tersebut. 

Tapi ia mengakui, selama berhari-hari  telah melakukan  diskusi,  pelatihan  dan  percobaan  untuk  mempersiapkan  teknis  produksi  di  rumah  pribadi masing-masing.  

“Hal yang tidak  pernah  kami  lakukan sebelumnya.  Ini  tentu  menjadi  sejarah  yang  menarik  dalam  perjalanan  musik  di  Indonesia,“ ujarnya.

Menurut Djundi yang lebih penting, “Mostly Jazz Live Online“  ini  adalah sebuah project  yang disukainya, dan ia  senang dilibatkan.

“Dulu,  gue  main musik,  walaupun  sekarang  gak performing lagi. Tapi kalau kita bertiga main bareng, seolah seolah gue ikut main musik bareng Indra dan Bujana,  tapi dengan art  berbeda,” kata Djundi.

Program Musik Inteaktive Mingguan

Hon Lesmana, founder of Mostly Jazz & Co.founder & co.Producer of Mostly Jazz Live Online menyebut, “Mostly Jazz Live Online  yang digelar pada 30 April itu masuk  dalam kalender perayaan International Jazz Day yang selalu diperingati pada 30 April 

Mostly  Jazz  Live  Online  sendiri dirancang merupakan sebuah program music & interactive webisode berkala mingguan yang berbayar dapat diakses melalui platform Loket.com dan  GoTix. 

Tersedia  beberapa  pilihan  tiket  dengan  harga  mulai  dari  Rp20.000  yang  bisa  didapatkan  mulai  22  April 2020.  Selain  itu,  juga  terbuka  ruang  donasi  dengan  penyematan  Jazz  Heroes  yang  akan  mendapatkan bentuk apresiasi khusus dari Indra Lesmana dan Dewa Budjana. 

“Acara  dibuka  dengan  pertunjukan  musik,  dilanjutkan  transisi  ke sketsa dialog antar musisi, dan ada interaksi  pula dengan penonton,” ungkap Hon.

Lemmy Ibrahim sebagai salah satu co.produser program Mostly Jazz Live Online menyampaikan acara  ini  juga  bertujuan  menjadi  alternatif  media untuk  membantu  tenaga  kerja  praktisi  musik  lepasan  yang  kehilangan  pekerjaan  selain  semangat  untuk  terus  menjaga  dan  meningkatkan presentasi  Indonesia  di  mata  dunia.  

“Besar  harapan  kami  program  ini  dapat  berjalan  dengan  lancar  dan  terus  menjadi  suatu  bentuk  tayangan  yang  memberikan  inspirasi  yang  positif  dan bermanfaat khususnya untuk generasi penerus musik Indonesia“ ungkapnya. 

Sementara itu, VP  Commercial  LOKET  Ario  Adimas  juga  mengungkapkan  bahwa  LOKET  siap  mendukung  program  Mostly  Jazz  Live  Online  melalui  pemanfaatan  inovasi  teknologi  terbaru  LOKET.  

LOKET berkomitmen untuk membantu menuntaskan kerinduan itu, dengan memberikan  pengalaman  terbaik  bagi  para  musisi  dan  juga  pecinta  musik  jazz melalui layanan  komprehensif  di  platform  Loket.com.  

“Dengan  integrasi  teknologi,  kini  pecinta  musik  jazz  dapat menikmati  gelaran  Mostly  Jazz  Live  Online  secara  eksklusif  cukup  dengan  mengunjungi  Loket.com untuk melakukan pembelian tiket, pembayaran, serta tayangan live berkualitas tinggi.”

Lebih jauh, Ario  Adimas  mengingatkan  di tengah masa pandemi yang belum ketahuan kapan akan berakhir ini, musisi diharapkan tetap harus produktif, dan  terus menghasilkan karya, supaya industri  musik  terus berjalan.  “That’s way  kita  menyiapkan platformnya.”

Ario lebih jauh menyebut, “Kerja sama bareng  Mostly  Jazz  Live  Online  ini, diharapkan bakal memantik industri  ini jadi terbakar  kembali dan bikin semua musisi pada bangun, bahwa ini saatnya untuk bangkit, bukan cuma  diam  dan menunggu keadaan berangsur membaik.”  XPOSEINDONESIA/NS Foto : Dokumentasi Mostly  Jazz  Live  Online , Dion Momongan, Facebook Djundi Karjadi 

More Pictures

[widgetkit id=2103]

 

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Sun, 26 Apr 2020 07:36:39 +0700
#K2C Memperingati 13 Tahun Wafat Chrisye lewat Media Sosial https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2980/k2c-memperingati-13-tahun-wafat-chrisye-lewat-media-sosial.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2980/k2c-memperingati-13-tahun-wafat-chrisye-lewat-media-sosial.html #K2C Memperingati 13 Tahun Wafat Chrisye lewat Media Sosial
Respek itu bukan sekedar hormat, tapi juga disertai cinta dan kekaguman. Aroma respek inilah yang terlihat kuat ditunjukkan sejumlah penyanyi…

 

“#K2C menghimbau sejumlah nama musisi dan penyanyi untuk membawakan dan menyanyikan sekaligus merekam video lagu hits Chrisye dari rumah masing-masing pada 30 Maret 2020, tanggal  di mana Chrisye wafat,” ujar Gideon Momongan, anggota #K2C 

Video diunggah ke akun social media disertai hastag #K2C, #mengenangchrisye. #dirumahaja

“Selain sebagai moment memperingati wafat Chrisye, kegiatan ini bisa  jadi hiburan buat masyarakat  umum,  yang menjadi follower  para selebriti tersebut. Rata-rata kan sedang tidak bisa keluar rumah,” ungkap Gideon 

Para musisi dan penyanyi yang diundang untuk menjadi bagian dari gerakan ini, meski  hanya tampil dalam video berdurasi sekitar dua menit,  terlihat mempersiapkan diri sangat serius. 

“Mereka membuat  aransemen baru, di atas lagu Chrisye yang sudah sangat melegenda,” kata Gideon sambil menyebut  contoh, Otti Jamalus  dan Yance Manusama tatkala membawakan  “Serasa”  .(Eros Djarot/Chrisye) yang digubah menjadi sangat jazzy.

Atau  Mr. Wancum dengan gitar elektronik memainkan lagu balada “Damai BersamaMu (Jhony Sahilatua) menjadi  ‘garang’ dan ekspresif.

Kreativitas yang  nyaris mirip  diperlihatkan pula  oleh  Andy/rif  (“Angin Malam”),  John Ivan Paul & Windy Saraswati  (“Aku Cinta Dia”),  Jubing Kristianto  (“Berita Ironi”),  Netta KD (“Malam Pertama”), Noldy Benyamin  dengan gitarnya memainkan instrumental “Kisah Kasih di Sekolah”,  Rian D’Masiv  (“Kala Sang Surya Tenggelam”), Restu Fortuna (Sendiri) Che Chupumanik (Andai Aku Bisa),  Arry  Syaff ("Smaradhana") dan sejumlah nama  lain. 

Bukti nyata kuatnya respek, saat mengenang wafat Chrisye makin terasa ketika Rian D’Masiv  yang sambil bermain gitar muncul dalam IGTV  @rianekkypradipta  pada 30/03/2020, pukul 20.34.  

“Chrisye buat saya adalah pahlawan musik,  dan saya suka musik karena Chrisye. Lagu-lagunya masih terus menemani hari hari saya hingga sekarang,” begitu kata Rian mengungkapkan kekagumannnya pada Chrisye.

“Lagu barusan adalah salah satu lagu yang saya suka, dan saya memainkannya dengan gitar pemberian almarhum Chrisye. Yang diberikan oleh almarhumah Tante Yanti Noor,” ujar Rian lagi.

Dalam catatan sejarah musik rekaman Indonesia, “Kala Sang Surya Tenggelam” (Guruh Soekarno), pernah dibawakan Chrisye dalam album Sabda Alam (1978). 

Lagu ini direkam ulang Rian dengan sentuhan kekinian dan diedarkan Musica Studios (perusahaan rekaman yang sama dengan Chrisye) pada 2020.

 

Legenda Yang Terus Dicintai 

 

Ketua #K2C, Ferry Mursyidan Baldan mengaku surprise  menyaksikan penampilan dari para musisi dan penyanyi di hari peringatan 13 Tahun Chrisye wafat tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih sekaligus menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya. Ini sebuah langkah nyata, bagaimana kita tetap harus terus menghormati  legenda musik,  yang sudah wafat dan tidak serta mereta melupakannya.”

Ferry lebih lanjut membayangkan, berapa banyak nama besar musisi dan penyanyi yang telah wafat seperti Chrisye. 

“Tetapi tidak banyak yang masih dikenang secara luas,  baik dari sisi kepribadiannya apalagi tanggal kematiannya,” ungkap Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional era Kabinet Kerja Presiden Jokowi  (27 Oktober 2014 -27 Juli 2016)

Efek dari peringatan wafat Chrisye yang dibuat  #K2C kali ini, diakui Ferry terasa jauh lebih menggema. 

“Karena bisa lebih memancing kreativitas musisi dan penyanyi. Sekaligus menginsyaratkan respek, empati  dan simpati  musisi pada  Chrisye yang  masih tebal,” katanya

#K2C sendiri  memang  punya tradisi memperingati tanggal kepergian Chrisye.  Biasanya, selalu digelar acara pengajian bersama anak yatim, atau kumpul bersama keluarga dan kerabat dekat almarhum Chrisye. 

Dalam kurun waktu 13 tahun  setelah kepergian Chrisye, #K2C juga sudah merilis tiga judul buku tentang Chrisye, yakni ‘Chrisye Kesan  di Mata Media dan Fans (2012), “10 Tahun Setelah Chrisye Pergi  (2017)”, “Kumpulan Tulisan Wartawan  tentang Chrisye (2019).

“Kami juga pernah menggelar lomba nyanyi lagu lagu yang dipopulerkan Chrisye, dengan peserta khusus para jurnalis hiburan di tahun 2015,” ungkap Ferry.  “Saya  sendiri masih punya  keinginan  menggelar kegiatan yang sama, tapi dengan peserta lomba  dari Paduan Suara  dari anak-anak SMU,” ujar Ferry.

Untuk peringatan wafat Chrisye di tahun 2020, sebetulnya sudah dirancang acara diskusi terbatas, yang digelar di sebuah kafe, dengan narasumber  Erwin Gutawa, Candra Darusman dan  Keenan Nasution.  

Namun, menguatnya pandemi Corona, dan munculnya pelarangan mengumpulkan banyak orang, membuat acara ini didesain ulang.  

“Diskusi secara tatap muka kami urungkan. Kami disain ulang dalam format video. Narasumber mengirim jawaban via video. Editing rekaman itu kami upload ke YouTube!” ungkap Ferry Mursyidan Baldan, sambil menyebut physical distancing  dengan narasumber sangat terjaga dalam proses pembuatan video ini.  

Video kreasi K2C berdurasi 39 menit lebih dan  diunggah ke YouTube tersebut, memuat pula salam perpisahan untuk isteri Chrisye, Damayanti Noor yang wafat pada 8 Februari lalu. "Sejak Chrisye wafat 2007, Mbak Yanti selalu mendukung kegiatan #K2C," ujar Ferry.

“Di luar semua itu, Kami juga mebuat video lagu "Lilin Lilin Kecil" karya James F. Sundah dengan penyanyi para wartawan  hiburan. Mereka membuat rekaman video tengah menyanyikan lagu itu dengan gaya masing-masing. Ada 16 wartawan yang mengirimkan karya dengan kualitas nyanyi berbeda-beda, semua  kami masukan tanpa kecuali!” ungkap Ferry. 

Sementara itu, partisipasi penyanyi dan musisi untuk memainkan karya di akun media social,  ternyata tak langsung berhenti di tanggal 30 Maret. 

“Beberapa teman mengaku minta waktu lebih panjang,  karena ternyata persiapan untuk ini, perlu melibatkan beberapa orang. Selain membuat aransemen, mempersiapkan alat, dan merekam, menayangkannya pun ternyata butuh keahlian khusus,” tutup Gideon Momongan. XPOSEINDONESIA/NS Foto Dudut Suhendra Putra dan Dokumentasi #K2C

More Pictures

[widgetkit id=2071]

 

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Wed, 01 Apr 2020 03:54:20 +0700
Yamaha Music Project : Panggung untuk Shanty, Marcell & Andein https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2967/yamaha-music-project-panggung-untuk-shant-marcell-andein.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2967/yamaha-music-project-panggung-untuk-shant-marcell-andein.html Yamaha Music Project : Panggung untuk Shanty, Marcell & Andein
Untuk ke 7 kalinya, Yamaha Music kembali ikut meramaikan ajang Java Jazz 2020 lewat event yang diberi nama Yamaha Music…

 

Tidak hanya itu, musisi lain dari Indonesia seperti Andien, Marcell dan Shanty juga turut meramaikan Yamaha Music Project. Ketiganya berkolaborasi di panggung musik dan Yamaha motor untuk menjadi juri memilih jingle terbaik.

“Kolaborasi ini menunjukan kecanggihan produk kami, bersinergi mendekatkan diri ke konsumen,” kata Livius Chandra, Assisten GM Marketing Division PT Yamaha Music Indonesia Distributor Minggu (1/3/2020).  “Java jazz menjadi ajang yang tepat untuk menunjukan kecangihan produk-produk kami,”katanya.

Sementara itu, di Teh Botol Hall, dirancang panggung pertunjukan unruk Andien, Marcell dan Shanty diiringi Yamaha Music Project. 

Konser dibuka dengan penari latar yang mengiringi Marcell dan Shanty menyuarakan  hits “Hanya Memuji”. Sebuah lagu   yang membawa  nama Shanty melejit menjadi penyanyi. Sebelumnya  ia terkenal sebagai VJ MTV. Lagu “Hanya Memuji” terdapat dalam album pertama Shanty yang dirilis pada tahun 2000. Aha. Usia lagu itu sudah 20 tahun!.

"Terakhir kali manggung di sini  dengan full set  (pada tahun) 2003. Sekian lama vakum dan langsung dikasih panggung dan penonton seperti ini, I can't thank God enough," ujar Shanty, yang kini berkarir sebagai Ibu rumah tangga, dan memilih tinggal di Hong Kong.

Mantan VJ MTV, yang kini lebih banyak muncul sebagai pemain film itu melanjutkan panggungnya “Persembahan Dari Hati”  karya Melly Goeslaw yang  terdapat dalam album kedua Shanty. Bahkan, koreografinya pun masih sama persis dengan yang dibuat pada 20 tahun silam.

Ia pun mengajak penonton menyanyikan lagu “Berharap Tak Berpisah”  sebelum penampilannya digantikan Andien yang menyuarakan  beberapa lagu antara lain  “Milikmu Selalu” (album Gemintang, 2005) , “Sahabat Setia”  (album KInanti, 2002),  “Kuingin Kembali” 

Sementara Marcel,  seperti biasa, selalu tampil prima dan bagus. Ia menyuarakan “Firasat”, lagu  yang termuat dalam album pertamanya yang dirilis pada 2003 juga “Semusim”. Dan “Tak Kan Terganti”.    Tiga lagu ini selalu ditampilkan Marcell berbeda  dengan materi yang sama  yang pernah termuat dalam album  rekamannya. 

Para penyanyi yang dalam Yamaha Music Project ini memperlihatkan kualitas penyanyi dengan lagu-lagu hitsnya di masa lalu,  tetap indah didengar dan  bisa  terus dinyanyikan bahkan oleh milenials.  XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=2060]

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Wed, 04 Mar 2020 11:42:46 +0700
Omar Apollo Meraih Sukses di Java Jazz 2020 https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2966/omar-apollo-meraih-sukses-di-java-jazz-2020.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2966/omar-apollo-meraih-sukses-di-java-jazz-2020.html Omar Apollo Meraih Sukses di Java Jazz 2020
Penampilan spesial Omar Apollo di hari terakhir BNI Java Jazz Festival 2020, pada 1 Maret 2020 dipenuhi penonton milenial. Mereka…

Omar Apollo memang sungguh terkenal di mata penonton.  Pria lembut dan manis itu telah merilis dua EP yakni Stereo pada 2018 dan Friends pada 2019.

Sebelum Omar terlihat di panggung, penonton  terlebih dulu diajak menyanyikan Indonesia Raya, yang dibawakan musisi muda  yang sedang hits, Ardhito Promono.

Usai itu, Omar muncul di tengah panggung disambut dengan teriakan dan tepuk tangan dari penonton. Ia membuka panggung dengan menyuarakan lagu Ashamed  yang videonya di Youtube sudah di view sekitar 900 ribu lebih sejak dirilis setahun silam. 

Omar kemudian menyambungnya dengan lagu hitsnya, Kickback, lagu ini meski lebih baru dipublish di Youtube, popularitasnya lebih unggul dari  lagu sebelumnya, dan sudah di view sebanyak 1,2 juta kali.

Setelah usai dua lagu tadi, Omar menyapa penontonnnya. "Hallo Jakarta, terasa baik berada di sini!

Ia pun melanjutkan dengan membawakan lagu Frio, lagu berteks Spanyol, tentang kesedihan akibat patah hati, namun karena digarap dalam beat riang, penonton  suka cita bergoyang mengikuti alunan lagu.

“Apa kalian ingin menari, ya aku juga ingin menari," ucap Omar. Ucapannya itu disambut histeris penonton. Dan lagu Ignorin  dengan pun langsung dibawakan dengan penuh semangat, Disambung Unothered dan Erase. Omar pun tampil sambil menari-nari lincah di atas panggung.

Lagu "There for Me", "Trouble", dan "Brake Light " dibawakan dengan membawa gitar.

"Saya dari Indiana, pernah dengar Indiana?" sapa Omar setelah membawakan lagu Brake Light. Kemudian ia memperkenalkan anggota band pengiringnya. Setelah itu, Omar membawakan lagu Queen  berjudul Cool Cat, dilanjutkan Hit Me Up, dan Ugotme.  Judul lagu terakhir itulah yang mengangkat namanya secara internasional.

Penyanyi bernama lengkap Omar Velasco, kelahiran 20 Mei 1997 itu kemudian menyajikan So Good dan Hijo de Su Made  yang menjadi lagu penutup penampilannya di BNI Java Jazz  Festival 2020. XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=2057]

 

 

 

 

 

 

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Tue, 03 Mar 2020 13:17:17 +0700
The Jacksons Ceria Dalam Soul dan Disco https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2965/the-jacksons-ceria-dalam-soul-dan-disco.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2965/the-jacksons-ceria-dalam-soul-dan-disco.html The Jacksons Ceria  Dalam Soul dan Disco
BNI Java Jazz 2020 menghadirkan The Jacksons dalam Special Show di hari kedua, Sabtu (29/2). Dengan sejumlah lagu hits, Jackie…

Sebelum muncul ke panggung,  Yura Yunita membuka panggung dengan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, terdengar intro “I Want You Back” dan pada layar besar terlihat slideshow berisikan foto-foto lama dari The Jackson 5.

Ya, di tahun 60 an akhir,  kelompok  ini ternama sebagai Jacksons 5. Berisi Jackie, Tito, Jermaine, Marlon dan Michael Jackson.

The Jackson 5 berganti nama jadi The Jacksons, seusai Michael Jackson dan Jermaine memilih bersolo karier. 

Tanpa menunggu lama, The Jacksons muncul ke tengah panggung mengenakan busana serba hitam, memperdengarkan “Can You Feel It”, “Blame it on the Boogie”, dan “Rock with You”.  Tiga lagu superhits yang telah menjadi legenda dan masterpiece dari modern dance/pop music.

Meski rata-rata umur  para personil sudah di atas 60 tahun, mereka mampu menyanyikan lagu-lagu hits, seperti “Enjoy Yourself”, “Show You The Way To Go”, dan  “Lovely One”. 

Bahkan, dengan sempurna mereka menyelesaikan lagu “ABC”, sebuah lagu Jackson 5 yang popular dengan lengkingan  tinggi suara Michael Jackson. Lagu ini pada saat  pertama dirilis, pada 24 Februari 1970, berhasil menggapai tangga Billboard 1 sepanjang empat minggu berturut turut.  

Layaknya gaya superstar yang mendunia di era 70an, The Jacksons cenderung tidak terlalu banyak berinteraksi dengan penonton Java Jazz malam ini.  

Namun, kelihatannya penonton juga tak peduli. Mereka hanyut dengan lagu lagu  superhits seperti “I'll Be There”, “Can't Let Her Get Way” dan “Heartbreak Hotel” (This Place Hotel). Suasana  mendadak meriah dengan kumandang suara nyanyian penonoton mengikuti The Jackson bernyanyi.

Suasana makin hangat dan bergelora di tengah penonton ketika  lagu “Shake Your Body (Down To The Ground) “dan “Wanna Be Startin' Something menjadi dua lagu terakhir The Jacksons. Dua lagu yang kuat memancarkan unsur  disco  dan mengingatkan penonton justru pada mendiang Michael Jackson, adik bungsu  The Jacksons. XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=2056]

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Tue, 03 Mar 2020 13:03:46 +0700
Gerald Situmorang & Sri Hanuraga Duet Tidak Organik  https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2964/gerald-situmorang-sri-hanuraga-duet-tidak-organik.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2964/gerald-situmorang-sri-hanuraga-duet-tidak-organik.html Gerald Situmorang & Sri Hanuraga Duet Tidak Organik 
 Meski tampil cukup malam pukul 22.45 WIB, pasangan Gerald Situmorang (gitar) & Sri Hanuraga (piano), mendapat sambutan cukup meriah di…

 

Gerald Situmorang (Gesit), sebelum ini ternama sebagai pemain bas  Barasuara. Bersama Sri Hanuraga (pianis jazz yang lulusan Conservatorium van Amsterdam), keduanya telah merilis album bertajuk “Meta”.  

Di panggung Java Jazz ini pula sebagian besar lagu di album “Meta”   diperdengarkan , antara lain “Rintik Hujan”, “Hyperreality”, “Thrown Words”, “His Spirit” .

Lagu-lagu ini berfokus utama   mengeksplorasi timbre, dari masing masing instrumen divariasi dengan efek.  Dari sini, mereka sukses mengubah paradigma  bahwa duet gitar dan piano dalam jazz  akan terdengar organik.

Ify Alyssa  kemudian bergabung  ke tengah panggung menguatkan vocal untuk sejumlah lagu yang sebelumnya  bahkan belum pernah ditempel vocal. XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan. 

More Pictures

[widgetkit id=2054]

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Sun, 01 Mar 2020 19:45:56 +0700
Isyana Lebih Ekspresif di Java Jazz 2020 https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2963/isyana-lebih-ekspresif-di-java-jazz-2020.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2963/isyana-lebih-ekspresif-di-java-jazz-2020.html Isyana Lebih Ekspresif di Java Jazz 2020
Teh Botol Sosro Stage, BNI Java Jazz Festival hari pertama (28/02), menjadi panggung pertama bagi Isyana Sarasvati, sebagai isteri Rayhan…

Isyana membawakan sembilan lagu yang diambil dari album Lexicon,  yang dilepas 29 November 2019.  

"Album ini sangat berarti buat saya karena ini emosi yang enggak bisa saya luapkan semua dan akhirnya saya merampungkan menjadi album Lexicon," kata Isyana dari atas panggung.

Sebagai lagu pembuka,  Isyana menyuarakan “Sikap Duniawi”, lagu berdurasi empat setengah menit yang memperlihatkan ia bernyanyi dengan nada sangat tinggi bak penyanyi seriosa.  Ini segera memperlihatkan gaya nyanyinya pada lagu ini sangat berbeda dibanding lagu lagunya yang lain .

Berturut turut kemudian ia melagukan “Mad”, “Pendekar Cahaya”, “Biarkan Aku Tertidur” dan, masih banyak lagi.  

Penampilan Isyana dalam gelaran Java Jazz Festival 2020 terasa sangat berbeda dari biasanya.   Ekspektasi penonton  ia akan membawakan lagu-lagu sendu seperti biasanya rasanya buyar. 

Isyana tampil  sangat  enerjik dan emosional, sesekali  ia  memainkan hand keyboard. Set panggung  pun terlihat full band dengan musik megah serta lebih keras dari biasanya.

Yang terisitimewa, Isyana mengajak sang suami Rayhan  yang berprofesi sebagai dokter itu untuk naik panggung  menyanyikan lagu “Tanpa Judul”. 

Rayhan dengan setelan jas   dengan  gitar akustik masuk panggung, mencium pipi isterinya  tanpa canggung, meski kalimat pertamanya terkesan canggung, “Oh begini  ya rasanya di sini!”

Lagu  “Tanpa Judul” pertama kali dipublish saat pernikahan keduanya 2 Februari 2020, “dan di sini kami menyanyikannya untuk kedua kalinya,” ujar Rayhan

“Ini adalah lagu perjalanan kami. Lika liku selama 12 tahun, dan kami ciptakan tanpa judul. Jadi kalua ada yang mau kasih judul, boleh saran-sarannya,” sambut Isyana melanjutkan XPOSEINDONESIA/NS – Foto : Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=2053]

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Sun, 01 Mar 2020 13:40:44 +0700
Nonton Bareng Chrisye By Erwin Gutawa di Java Jazz 2020 https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2962/nonton-bareng-chrisye-by-erwin-gutawa.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2962/nonton-bareng-chrisye-by-erwin-gutawa.html Nonton Bareng Chrisye By Erwin Gutawa di Java Jazz 2020
Di antara 11 panggung penyelenggaraaan BNI Java Jazz Festival 2020 hari pertama, rasanya pentas Chrisye Live by Erwin Gutawa with…

Bagaimana tidak,  ribuan penonton   dengan beragam kelas usia sudah antri memadati ruang depan BNI Hall, sebelum waktu pertunjukan  dimulai pukul 21.00 WIB. 

Dan ketika Erwin Gutawa dengan sejumlah musisi pengiring membuka panggung dengan lagu “Semusim” disambung  medley   lagu “Aku Cinta Dia”,  “Nona Lisa”, “Hura Hura” dan “Anak Sekolah”, penonton  bukan hanya ikut menyanyi,  dengan lagu-lagu yang asli dinyanyikan Chrisye lewat video, tapi juga ikutan bergoyang.

Ini membanggakan sekaligus mengharukan. Mengingat Chrisye sudah 13 tahun lalu wafat.  Namun pesona keindahan lagu Chrisye  tak pernah surut dari  ingatan  penonton.

Konsep panggung yang  memadukan  video dokumentasi live show Chrisye  (sejak Konser Sendiri  1994) dengan musik live  garapan Erwin Gutawa,  dipadu permainan lighting dan video mapping  ini,  memang terasa baru. Penonton  seperti  diajak nonton bareng  video musik yang dinyanyikan Chrisye.

Namun dengan cerdik  Erwin memberi sentuhan baru, pada beberapa bagian. Baik dalam penggarapan aransemen musik yang  terdengar lebih fresh, juga menempatkan special guest.

Malam itu,  gitaris akustik Gerald Situmorang sengaja diajak untuk memainkan  gitar akustik mengiringi Chrisye menyanyi “Sendiri”, serta medley “Selamat Jalan Kekasih” dan  “Untukku”.

“Gerald ini adalah musisi milenials, dengan banyak enerji dan multi talenta. Ia banyak ide, banyak  bikin band, dan bisa main bass juga gitar,” puji Erwin sebelum Gerald tampil

Pentas ini, menurut Erwin, “Sengaja diabadikan untuk mengenang tokoh dan legenda musik Indonesia, Chrisye. Di mana, lagu-lagu yang dinyanyikan Chrisye  sejak tahun 1977, telah menjadi kenangan dari perjalanan cinta sebagian besar dari kita,” ungkapnya.

Mendekati akhir pertunjukan, Erwin Gutawa  mempersembahkan lagu  “Kidung Abadi” yang liriknya ditulis Gita Gutawa, sebuah lagu khusus yang diciptakan Erwin  setelah lima tahun Chrisye wafat.  

“Berkat teknologi, kami  berhasil menciptakan lagu baru yang dinyanyikan Chrisye. Kami mengumpulkan 246 suku kata dari dokumentasi suara asli  Chrisye, dan  membentuk rangkaian nada baru,” kata Erwin.

Dan kemudian panggung menjadi gelap, hanya ada suara Chrisye bernyanyi. Cahaya terang hanya muncul pada video, yang  memperlihatkan barisan lirik “Kidung Abadi” yang terasa mencekat juga mengharukan ….

Ku sadari waktu telah berlalu

Dunia pun tak seperti dulu

Lihatlah masa, berganti semua

Ku disini, dan kau disana

Andai ku bisa mengulang kembali

Tapi sadar aku tak mungkin

Walau pun kidung rindu hati ini

Biarkan semua jadi mimpi

Walau kini ku jauh darimu

Ku kan selalu tuk tetap bernyanyi

Kau dengar alunan melody ku

Persembahan ini untukmu

Suasana sendu pelan-pelan diubah Erwin dengan menggulirkan “Kisah Cintaku”, “Cintaku”  dan “Pergilah Kasih”. Tiga lagu yang mengesankan penonton, hingga mereka masih tetap menyanyi, ketika meninggalkan ruangan.

Erwin Gutawa berhasil merancang dan mewujudkan konsep pentas yang terbilang langka dalam seni pertunjukan Indonesia.  Ia berkreasi secara lengkap, dari membuat aransememen seluruh lagu, sekaligus menjadi pemain musik (bahkan memainkan bass, alat musik pertama yang membuatnya dikenal publik)

Di luar itu, sumbangan dokumentasi video musik Chrisye yang digarap Jay Soebijakto maupun Taba Sancabachtiar dan kerja kreatif prduser Gita Gutawa, memungkinkan ide “liar” pentas  ini terwujud indah dan sempurna. XPOSEINDONESIA/NS  Foto : Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=2052]

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Sat, 29 Feb 2020 17:19:53 +0700
Noah Menyelamatkan Slot BCL di Love Fest https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2953/noah-menyelamatkan-slot-bcl-di-love-fest.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2953/noah-menyelamatkan-slot-bcl-di-love-fest.html Noah Menyelamatkan Slot BCL di Love Fest
Band Noah (Ariel, Lukman, David dan beberapa additional player) tampil di panggung LOVE FEST 2020 Love is Live, Jumat (21/2)…

 

Slot  panggung ini,  tersedia bagi Noah untuk menyelamatkan atau tepatnya menggantikan Bunga Citra Lestari alias BCL,  yang batal tampil  lantaran sang suami Ashraf Sinclair, wafat sangat mendadak pada 18/2. 

Bukan secara kebetulan  sebelum ini,  Ariel dan BCL,  sedang dekat untuk menggarap  lagu bersama, baik untuk single terbaru BCL (“Menghapus Jejakmu”, 2020) maupun suara BCL masuk dalam  lagu  “Mencari Cinta” yang termuat album terbaru Noah “Keterkaitan-Keterkaitan” (2019).

Ariel CS muncul di panggung Love Fest dengan setelan jas hitam tanpa dasi. Dan memulai  panggung dengan lagu “Tak Ada yang Abadi”  (lagu yang termuat dalam album Peterpan,  bertajuk “Sebuah Nama Sebuah Cerita”, 2008)

Dari barisan lirik yang dinyanyikannya, terkesan kuat  lagu ini ditujukan untuk menguatkan kesedihan BCL.  

Takkan selamanya

Tanganku mendekapmu

Takkan selamanya

Raga ini menjagamu

Jiwa yang lama segera pergi

Bersiaplah para pengganti

"Malam ini malam yang tak biasa. Mungkin temen-temen ada yang bingung kenapa kita ada di sini," kata Ariel di atas panggung.

Ariel kemudian melanjutkan  panggung dengan  menyanyikan “Mencari Cinta”,  berduet dengan BCL, yang dimunculkan via video.  

"Kita akan berkolaborasi dengan teman kita yang punya slot di sini. Ya, kita tahu dia tidak hadir, tapi dia tetap akan bernyanyi," ungkap Ariel beberapa saat sebelum bernyanyi.

Setidaknya ada tujuh  lagu yang dibawakan Noah.  Rata-rata bernuansa sendu  dan mampu membius para penonton seperti  “Kisah Cintaku”, “Wanitaku”, “Tak Lagi Sama”, dan “Semua Tentang Kita”.

Pentas bergulir  memperdengarkan lagu hits "Separuh Aku". Tembakan confetti di bibir panggung pun menandakan aksi Noah menghibur selesai. XPOSEINDONESIA/ Foto : Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=2041]

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Mon, 24 Feb 2020 11:44:17 +0700
D’Masiv Makin Dewasa di Usia 17 https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2934/d-masiv-makin-dewasa-di-usia-17.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2934/d-masiv-makin-dewasa-di-usia-17.html D’Masiv Makin Dewasa di Usia 17
Setelah 17 tahun berdiri, untuk pertama kalinya D’Masiv menggelar konser tunggal bertajuk ‘Love Concert’, di The Pallas, SCBD, Jakarta, 31…

Di atas pentas itu,  Rian Ekky Pradipta  (vokalis) dan kawan-kawan mengajak para penggemar untuk bernostalgia, dengan memperdengarkan 19 lagu, termasuk lagu  yang termuat di album terbaru bertajuk Love (2019). 

“Kenapa pentas ini dinamakan Love Concert, karena disesuaikan dengan judul album baru kami,” ungkap Ryan  usai  menyanyikan lagu  baru yang termuat di album Love yakni “Lelaki Pantang Menyerah”, “Kesempatan Bersamamu”,  “Pernah Memiliki”.

Dari panggung itu, Ryan juga jujur mengaku,  bahwa perjalanan  kariernya  dalam D’Masiv bersama Dwiki Aditya Marsall (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), Nurul Damar Ramadan (gitar), Wahyu Piadji (drum), tidaklah mudah. 

“Ngeband itu seperti membina rumah tangga. Harus saling pengertian, saling menyayangi dan bisa menahan ego,” kata Ryan, sambil menyebut di kelompok lain, malah banyak vokalis yang tergoda keluar dari grup band, entah untuk bersolo karier, atau untuk menjadi pejabat publik, misalnya. 

“Tapi, saya akan terus menjadi vokalis D’Masiv,” ungkap Ryan sebelum menyuarakan lagu bertajuk “Ingin Lekas Memelukmu Lagi”, sebuah lagu yang  tercipta setelah  Ryan diprotes Ralia, anaknya  lewat video call,  lantaran  ia terlalu lama menggelar tur dan tak pulang-pulang. 

Bisa berjalan sepanjang 17 tahun dan  tetap bisa bersama, menghasilkan enam  album sambil menebar puluhan lagu hits yang mendayu,  ternyata tidak melulu jadi jaminan bagi D’Masiv untuk menggelar pentas dengan sukses. 

Karena sesungguhnya pentas tunggal pertama ini,  telah dirancang untuk digelar pada September 2019. Namun karena, “ada hambatan teknis,  baru bisa digelar sekarang,”  ujar Ryan lagi.

Pada babak berikutnya,  Ryan membawakan lagu yang pernah hits dibawakan Chrisye. “Meski menyesal kita tidak pernah bertemu secara langsung dengan Chrisye, namun dengan bantuan dan ijin Musica, kita  bisa bernyanyi bersama,” kata Ryan sebelum menyuarakan “Selamat Jalan Kekasih” secara duet, kemudian melanjutkan secara solo lagu “Pergiah Kasih”.  

Pentas yang didatangi sejumlah selebgram Jakarta itu kemudian dihiasi lagu-lagu  hits  nostalgia seperti, “Aku Percaya Kamu”, “Jangan menyerah”, “Rindu Setengah Mati” dan lain-lain. 

Menoreh Sejarah

Hari ini, D’Masiv bisa disebut grup band pop  rock, yang masih menjadi anak emas dari Musica Studios, selain Noah Band.  

Band ini sudah memilik trade merk kuat sebagai band pop yang  sering melejitkan lagu dengan lirik khas, mudah dicerna namun dengan pilihan kata yang tidak pasaran. 

Liriknya berkisah tentang perasaan, dengan  mengggunakan bahasa hati yang berirama. Simak pada judul  “Cinta Ini Membunuhku”,  “Rindu Setengah Mati”, “Ingin Lekas Memelukmu Lagi, dan lain-lain.

Di awal karir rekaman mereka pada 2008 lewat album  “Perubahan”,  D’Masiv banyak mendapat kritikan.  Terutama karena beberapa lagu di situ, memiliki kemiripan dengan  lagu barat.  

Di YouTube issue tentang ini  bahkan dibuat dalam bentuk video khusus dan  bisa disimak via  https://www.youtube.com/watch?v=ZUmx8la3LTU

Ryan dalam sebuah jumpa pers yang digelar di Hard Rock Cafe Jakarta 1 April 2009, menyebut ia hanya terinspirasi dengan lagu-lagu dari Muse, Switchfoot dan Incubus dan tidak menjiplak.

Perjalanan D’Masiv akan terus panjang. Mereka akan semakin dewasa dan lebih berhati hati dalam berkarya dan membuat catatan prestasi. Karena rekaman perjalanan itu bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk catatan sejarah perjalanan musik Indonesia. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=2024]

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Sat, 01 Feb 2020 19:37:02 +0700
Kunto Aji & Sal Priadi Meriahkan Pentas Billboard Indonesia Top 100 Live https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2915/kunto-aji-sal-priadi-meriahkan-pentas-billboard-indonesia-top-100-live.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2915/kunto-aji-sal-priadi-meriahkan-pentas-billboard-indonesia-top-100-live.html Kunto Aji & Sal Priadi Meriahkan Pentas Billboard Indonesia Top 100 Live
Sejak 2018 Billboard Indonesia berdiri menjadi barometer utama musik Indonesia serta refleksi dari industri musik di Indonesia. Sukses menjadi barometer…

Billboard Indonesia Top 100 Live adalah pertunjukan musik hidup dari musisi-musisi yang karyanya masuk dalam daftar lagu-lagu lintas genre paling populer di Billboard Indonesia Top 100.

Daftar lagu mingguan ini ditentukan oleh beragam data, mulai dari platform streaming musik, platform streaming video, pemutaran radio mingguan, dan pemutaran mingguan di jaringan karaoke di Indonesia. Pada perhelatan perdana Billboard Indonesia Top 100 Live akan menghadirkan Kunto Aji dan Sal Priadi sebagai persembahan pertama dari Billboard Indonesia yang mewakili dinamika tangga lagu Billboard Indonesia TOP 100.

Sebagai dua musisi bertalenta yang tengah digandrungi pecinta musik dalam negeri, keduanya bukan sosok asing dalam tangga lagu Billboard Indonesia TOP 100.

Kunto Aji berhasil menembus masuk dengan lagu “Pilu Membiru” dari album Mantra Mantra yang diakui mampu membangkitkan kesadaran luas akan topik mengenai kesehatan mental dan telah memenangkan penghargaan Album Terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2019. 

Video klip “Pilu Membiru” mempertemukan seorang psikolog dan praktisi pemulihan batin Adjie Santosoputro dengan 3 orang penggemar Kunto Aji yang memiliki cerita menyayat hati untuk berkonsultasi dan melewati masa-masa sulit. Melalui lagu ini Kunto Aji menyampaikan pesan penting bahwa musik bisa ”menyembuhkan” lewat narasi lagu yang dikonsep dengan optimal. 

Begitu pun Sal Priadi dengan lagu “Amin Paling Serius” yang baik judul maupun liriknya sangat unik karena punya sudut pandang yang tak umum, yaitu mengingatkan kita agar lebih khusyuk dalam memanjatkan doa. Single yang dikolaborasikan Bersama Nadin Amizah ini sukses bertahan di Billboard Indonesia TOP 100 sejak dirilis pertama kali sampai saat ini.

“Tampil awal tahun di Billboard Indonesia Top 100 Live menjadi semangat untuk panggung-panggung di 2020. Semoga bisa memberikan yang terbaik di panggung Billboard tanggal 15 nanti. Much love and respect, terima kasih kesempatannya,” ungkap Sal Priadi.

Saksikan langsung kemagisan kedua lagu tersebut dan lagu-lagu terbaik lainnya dari Kunto Aji dan Sal Priadi dalam Billboard Indonesia Top 100 Live: Tiket bisa didapat di Rajakarcis.com Harga Presale : Rp100.000 (sold out), Regular Rp130.000, dan On The Spot Rp150.000 XPOSEINDONESIA - Foto Istimewa

 

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Thu, 09 Jan 2020 16:39:47 +0700
98 Degrees, HRVY, Sun Rai Meriahkan Pentas Penuh Cinta https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2914/98-degrees-hrvy-sun-rai-meriahkan-pentas-penuh-cinta.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2914/98-degrees-hrvy-sun-rai-meriahkan-pentas-penuh-cinta.html 98  Degrees, HRVY, Sun Rai  Meriahkan Pentas Penuh Cinta
Februari datang, bulan Cinta langsung merebak, dan Love Fest 2020 - Love is Live kembali lagi. Kali ini, Festival digelar…

Love Fest 2020 - Love is Live   adalah pementasan unik dan berbeda dari pagelaran music pada umumnya.  Penonton acara ini, wajib dating dengan dress code khusus dengan menggunakan outfit warna Hitam untuk pria (single)  dan  Merah  wanita (single)  serta Putih (couple).

Dalam  Love Fest 2020 ditawarkan berbagai macam aktifitas yang berhubungan erat dengan perasaan, hubungan dan cinta, seperti penampungan Jomblo, Love Games, Carnival Games, Wheel of Love dan beragam activity booth lainnya,  yang dapat diikuti para pasangan, grup teman, ataupun yang masih single.

Untuk urusan musik, Love Fest 2020 – Love is Live’  kembali  mempersembahkan kenangan tentang cinta yang dikemas dalam suguhan lantunan musik dan melodi yang akan dinyanyikan  oleh nama internasional dan nasional.

Dari kancah Internasional, muncul nama 98 Degrees dari Amerika Serikat. Ini adalah  boyband yang hits di era tahun ’90-an yang memainkan pop dan RnB. Kelompok ini  terdiri dari  Jeff, Nick, Justin dan Drew  yang terkenal dengan hits seperti “Because of You”, “Invisible Man”, “The Harderst Thing” dan lain-lain.

Selain itu, muncul pula Harvey Leigh Cantwell (kelahiran 1999, dikenal dengan nama HRVY),  asal Inggris. Ia tidak hanya pandai bernyanyi, tapi  juga menjadi presenter TV di negaranya. 

HRVY telah membuat dua mini album sejak tahun 2017 yaitu ‘Holiday’ dengan single “Holiday” dan “Phobia” serta mini album ‘Talk to Ya’ dengan single “Personal”.   Video music  “Personal”,  telah dilihat lebih dari 200 juta penonton di YouTube.  HRVY  pernah meraih nominasi penghargaan  BreakTudo Awards 2018  kategori The International New Artist 

Di samping dua nama tadi, Love Fest 2020  juga akan mendatangkan penyanyi Rock, Pop dan Jazz asal Australia Sun Rai dengan hit singlenya “San Francisco Street”. 

Sementara itu, dari deretan penampilan tanah air , akan tampil Reza Artamevia, Marion Jola, Nadin Amizah, Bunga Citra Lestari, Fourtwnty, Nitya Shamdasani, North to East, Rossa, Tulus, Andmesh, Ardhito Pramono, Armand Maulana, Devano Danendra, Glenn Fredly dan Yovie & Arsy Widianto.

Tertarik nonton,  segera cari tiketnya  dari sekarang.  Semoga beruntung! XPOSEINDONESIA/NS -Foto: Istimewa

More Pictures

[widgetkit id=2007]

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Thu, 09 Jan 2020 16:24:42 +0700
Di Bandung Chrisye Sukses Menghibur, Meski Minim Penonton  https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2893/di-bandung-chrisye-sukses-menghibur-meski-minim-penonton.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2893/di-bandung-chrisye-sukses-menghibur-meski-minim-penonton.html Di Bandung Chrisye Sukses Menghibur, Meski Minim Penonton 
Erwin Gutawa berhasil menghibur dan membuat senang hati ratusan penonton dalam Pentas Chrisye Live Tour by Erwin Gutawa yang digelar…

Pentas langka, tidak mainstream dan mengusung konsep multimedia ini  dikelola EG (Erwin Gutawa) Production, bersama Trisatya Show & Entertainment dan KIMS.

Di atas panggung,  Chrisye hanya muncul lewat video yang ditayangkan ke layar  besar yang diletakan  di tengah dan sisi kiri kanan panggung. Dari layar, terlihat Chrisye dalam video yang tengah menyanyi. Video ini diambil  dari berbagai panggung antara tahun 1994 – 2002. 

Sementara suara musik dimainkan secara live  oleh Erwin (piano) dan sejumlah musisi pengiring. Antara lain Jeane Phialsa (drum), Adenanda Refano (bass), Yessi Kristianto (keyboard), Noni Dju (Keyboard & Synth), Erik Nur Firmansyah (Guitar 1) , Galih Galinggis (Guitar 2), Marcella Aprillia (Violin), Dwipa Hanggana Pratala (Cello ), Andika Candra (Saxophone/Flute), Dorry Windhu (Contra Bass/Mallet/Guitar Accoustic/Cuk/Timpani),  Gelar Restusubada (Percussion)

Bersama para musisi itu pula, Erwin dengan mudah membujuk penonton  bernyanyi bahkan bergoyang.  Suasana terasa seolah Chrisye hadir secara nyata di depan penonton. Padahal, Chrisye telah 12 tahun wafat.Sejumlah lagu  Chrisye yang dimainkan malam itu, memang lagu hits yang tak akan terlupakan sepanjang masa.  Antara lain, “Semusim,  “Aku Cinta Dia”, “Kisah Cintaku”, “Anak Sekolah”, “Kidung”, “Gita Cinta” juga “Kala Cinta Menggoda”.  

Ketika intro  “Kala Cinta Menggoda”,  terdengar, seluruh penonton dalam gedung  Sabuga mendadak  tersugesti bergoyang. Lagu ini  ditutup dengan penampilan bass solo dari Erwin yang mengundang tepuk tangan bersemangat. Bass memang alat musik pertama  yang membuat Erwin terkenal di pentas musik Indonesia. 

Duet Virtual ala Smule

Sangat terasa,  Erwin tak ingin membuat panggung malam itu sekadar pentas nostalgia yang terlihat biasa saja.   Karena itu, ia memunculkan Gita Gutawa dan Sandhy Sondoro untuk ambil bagian.  

Sandhy menyuguhkan lagu “Anak Jalanan” dan “Andai Aku Bisa”, sekaligus berduet dengan Gita dalam “Badai Pasti Berlalu”.  Ini menjadi duet “maut”  dan indah   yang tak terbayangkan sebelumnya. Penyanyi pop dengan jenis suara soprano, dipertemukan dengan penyanyi  soul dan blues. Sungguh paduan indah dan sempurna. 

Sementara Gita secara solo menyanyikan lagu “Sendiri” dan “Kala Sang Surya Tenggelam” dengan mulus dan indah. Dan secara cemerlang, Erwin khusus merancang Gita menyanyi duet virtual dengan Chrisye, lewat lagu “Anggrek Bulan”. 

Lagu ini diambil dari album Chrisye bertajuk Dekade, yang aslinya, dinyanyikan Chrisye bersama Sophia Latjuba. Sophia sendiri pernah dimunculkan dalam duet virtual di atas panggung konser “Kidung Abadi”  pada 2012. Sebuah konser yang didedikasikan untuk memperingati 5 tahun wafatnya Chrisye.

Pola rekaman duet dan  penampilan video “Anggrek Bulan” versi Gita-Chrisye, bagi anak milenial dianggap seperti mengadopsi gaya nyanyi karaoke pada aplikasi  Smule.  

Jauh sebelum Smule lahir, sesungguhnya ide virtual duet rekaman semacam ini, pernah dilakukan David Foster (1991), dengan mempertemukan suara Natalie Cole dan ayahnya Nat King Cole yang sudah wafat 26 tahun sebelum rekam dibuat. 

Khusus penggarapan duet Gita-Chrisye dalam ‘Anggrek Bulan’,  Erwin meninggalkan jejak  cerdas yang patut dicatat sekaligus dikenang baik sebagai karirnya pribadi, karir almarhum Chrisye  dan Gita maupun catatan emas pentas musik rekaman Indonesia. 

Selayaknya, lagu tersebut bisa disebarluaskan menjadi rekaman dan dijaja di toko digital maupun dalam bentuk fisik.  Kalau  memungkinkan, jangan ditunda terlalu lama waktu edarnya. Agar nasibnya tidak seperti lagu ‘Kidung Abadi’.  Lagu unik pertama di dunia, karya Erwin dan Gita ini, seperti kita tahu, diciptakan Erwin Gutawa secara khusus, dengan lirik ditulis Gita dari menggabungan 264 suku kata,  yang diambil dari lagu-lagu yang pernah direkam Chrisye. 

“Ini mungkin pertama kali dalam sejarah dunia, sebuah lagu diciptakan dan direkam dari suara orang yang sudah wafat,” kata Erwin.

Sayangnya, prose penciptaan lagu cerdas itu, terlambat diserbarluaskan  dalam bentuk rekaman. Sehingg  moment “kebaruan” dan "keistimewaan" penggarapannnya, seperti  kurang mendapat atensi masyarakat.

Sukses, Tapi Sepi Peminat

 Bandung  sebagai kota pembuka dari rangkaian tur Chrisye Live Tour by Erwin Gutawa, kelhatannnya kurang anthusias menjadi saksi sejarah dari  konser  nostalgia  untuk mengenang almarhum Chrisye (16 September 1957 - 30 Maret 2007).

Terbukti, hanya separuh kapasitas Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung, yang  terisi penonton.  

“Bisa jadi  harga tiketnya kemahalan, terutama yang di posisi festival,” ungkap  Ferry Mursyidan Baldan, Penggagas dan Pendiri Komunitas Kangen Chrisye (K2C), sesaat sebelum konser digelar. Ferry bersama Komunitas Kangen Chrisye (K2C)  ikut ambil bagian menjadi penonton. Ferry juga mengajak lebih dari 60 orang  sahabat dan kerabat  untuk bernostalgia  dengan Chrisye.  XPOSEINDONESIA/NS Foto: Dudut Suhendra Putra

More Pictures

[widgetkit id=1990]

 

 

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Thu, 12 Dec 2019 09:36:09 +0700
Blues International Festival (JBIF) 2019 Bertabur Bintang Internasional https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2889/blues-international-festival-jbif-2019-bertabur-bintang-internasional.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2889/blues-international-festival-jbif-2019-bertabur-bintang-internasional.html Blues International Festival (JBIF) 2019 Bertabur Bintang Internasional
Banyak nama mendunia yang muncul di Jakarta Blues International Festival (JBIF) 2019 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (7/12/2019).

Dua diantaranya Ron Thal ‘Bumblefoot’  (GnR) dan Paul Gilbert  (Mr. Big)  yang masing masing mengisi sesi coaching clinic Master Class  sepanjang  satu jam di panggung Vintage Stage.

Ron merupakan sosok yang pernah memukau penonton konser GNR di Jakarta pada tahun 2012 lalu, sewaktu memainkan lagu Indonesia Raya  melalui petikan gitar.

Ron menegaskan jika ia siap memberikan pertunjukan terbaik. Tak perduli jika banyak yang menilai genre permainannya jauh dari genre blues.

“Aku nggak perduli kalian mau menilai aku cukup blues atau tidak, gitar sendiri sudah blues,” kata Ron yang  selalu mengenakan topi fedora.

Bumblefoot pernah memukau penonton konser GNR di Jakarta pada tahun 2012 lalu, sewaktu memainkan lagu Indonesia Raya melalui petikan gitar miliknya.

Sementara itu Paul Gilbert secara eksplisit menyebut nama pemain gitar berdarah Banten, Eddie Van Halen, sebagai sosok pemain gitar yang paling berpengaruh baginya.

"Sebenarnya, pemain gitar yang paling mempengaruhi permainan gitar saya memang berasal dari Indonesia. Eddie Van Halen," kata dia dalam jumpa pers JBIF 2019, Sabtu malam, 7 Desember 2019

Selain Paul Gilbert dan Bumblefoot,  GBIF 2019 juga menampilkan banyak musisi-musisi lokal dan internasional lain.

Musisi-musisi internasional yang akan tampil antara lain, Shun Kikuta dari  Jepang, Keyboardist legendaris Uriah Heep, Ken Hensley dan kelompok musik The Calling.

Triadi Noor, Business Development BoardIndonesia selaku promotor acara mengatakan, pengunjung tidak harus membeli tiket khusus untuk mengikuti sesi coaching clinic. Peserta bisa mengikuti sesi sekaligus menikmati acara hanya dengan satu tiket.

"Jadi pertunjukan coaching clinic dan master class termasuk tiket. Jadi bayar tiket itu udahan bisa nonton semuanya," kata dia kepada wartawan, saat jumpa pers di Jakarta, 5 November 2019. XPOSEINDONESIA /NS Foto : Muhamad Ihsan

More Picture

[widgetkit id=1986]

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Sun, 08 Dec 2019 11:24:28 +0700
The Calling Minim Penonton https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2888/the-calling-minim-penonton.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2888/the-calling-minim-penonton.html The Calling Minim Penonton
Kelompok musik pop grunge / alternatif rock asal Los Angeles, California, Amerika Serikat The Calling hadir di acara Jakarta Blues…

Band yang dibentuk pada tahun 1996 ini menjadi bagian Jakarta Blues International Festival 2019 diselenggarakan pada 7-8 Desember 2019.

Pada hari pertama penyelenggaraan,  dengan jumlah penonton yang  minim,  The Calling tampil dengan formasi duo yakni  Alex Band (vokalis) dan Travis Loafman (gitar) dan memainkan akustik  dalam format duo akustik Sabtu (7/12/2019) malam.

Di panggung, Alex Band sempat mengomentari  jumlah  penonton dengan kalimat halus.  "Tempat ini terlalu luas untuk jumlah penonton yang sedikit!"

Di panggung Vintage Stage di Tennis Indoor Senayan itu, Alex dan Travis tampil sembari bermain gitar masing-masing. membawakan "Adrienne", "Our Lives", "One By One", dan "Couldnt be Any Harder". 

Di sela penampilannya, Alex membocorkan rencana The Calling  meluncurkan lagu baru tahun depan. Ia pun berkelakar jika  lagu ini akan  menjadi Wherever You Will go, Single pertama  yang dirilis pada 2001.

Single tersebut meraih super hits dengan video klipnya  telah ditonton di Vevo lebih dari 387 juta Kali. 

Lagu tersebur  juga menduduki posisi ke 5 di  Billboard Hot 100  dan masuk kategori   Adult Top 40 sepanjang  23 minggu. Hits ini menjadi momer 2 terlama yang duduk di posisi puncak  dibarengi  "Smooth" yang diciptakan Santana dan dinyanyikan Rob Thomas.

Sayang memang band berkelas, kurang diminati penonton. XPOSEINDONESIA /NS Foto : Muhamad Ihsan

More Picture

[widgetkit id=1985]

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Sun, 08 Dec 2019 11:17:05 +0700
Barasuara Pentaskan Album Baru https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2825/barasuara-pentaskan-album-baru.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2825/barasuara-pentaskan-album-baru.html Barasuara Pentaskan Album Baru
Barasuara muncul di panggung Synchronize Fest 2019 hari pertama, Jumat (4/10/2019), sekitar pukul 21.00 WIB. Yang mengejutkan mereka menggunakan kostum…

 Iga Massardi (vocal/gitar) berkostum dinosaurus, Gerald Situmorang  (bass) mengenakan kostum bajak laut, Asterika (vocal)  berkostum Pocahontas, Marco Stefano (drum)  kostum berbentuk tomat, sedangan  Puti Chitara  bergaya Poop Chi,

"Selamat malam Sychronize Festival, apa kabar lo semua? Kebetulan kami selalu menganggap serius. Kami selalu serius terutama menggunakan kostum," sapa Iga Massardi.

Sejumlah lagu ditampilkan diambil dari album terbaru, "Pikiran dan Perjalan". Antara lain, "Seribu Racun", "Masa Mesias", "Pancarona", "Tentukan Arah", "Tirai Cahaya" serta "Samara". 

Khusus pada lagu "Samara", Iga dan kawan-kawan mengubah tempo lagu agar penonton ikut bernyanyi.

Sebagai penutup penampilan, diperdengarkan "Guna Manusia" lagu andalan Barasuara pada album terbarunya "Pikiran dan Perjalanan". XPOSEINDONESIA/ Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=1930]

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Mon, 07 Oct 2019 15:55:12 +0700
Erwin Gutawa Ajak Almarhum Chrisye Manggung Lagi  https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2823/erwin-gutawa-ajak-almarhum-chrisye-manggung-lagi.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2823/erwin-gutawa-ajak-almarhum-chrisye-manggung-lagi.html Erwin Gutawa Ajak Almarhum Chrisye Manggung Lagi 
Dengan kecanggihan teknologi, Erwin Gutawa memperlihatkan, bahwa sang legenda musik Indonesia, a.k.a almarhum Chrisye (wafat 30 Maret 2007) akan tetap…

Ini bisa dilihat dalam pertunjukan “Live Chrisye by Erwin Gutawa” yang digelar dalam acara Synchronize Festival 2019,  hari kedua di  Gambir Expo 2019. 

Di atas panggung, Erwin  Gutawa memimpin bandnya memainkan musik  secara live, mengiringi  suara dari rekaman video Chrisye yang diputar di layar besar. Video itu  berisi suara suara asli   Chrisye.  

Dan penonton di bawah panggung menjadi histeris, ikutan menyanyi sepanjang pertunjukan. Mereka ikut  merasakan seolah sosok Chrisye hadir utuh di panggung.  Padahal  Chrisye hanya muncul dalam bentuk video di layar besar. 

Sing Along Sepanjang Pertunjukan

Panggung dibuka dengan lagu  instrumental “Kala  Sang Surya Tenggelam”, di mana   panggung dibiarkan gelap, Erwin dan para musisi bersiap.

Pada giant screen di tengah panggung muncul tulisan  “menampilkan kembali rekaman gambar dan suara Sang Legenda Musik Indonesia yang diambil dari beragam panggung, Tur dan Konser Tunggal mulai  1994-2004.” Kemudian panggung benderang memperlihatkan Erwin Gutawa duduk di balik keyboard, memulai  pertunjukan dengan memainkan lagu "Lilin-lilin Kecil" yang dinyanyikan paduan suara 16 remaja dari EGMS Choir

Sementara itu,  dari  sebuah video yang  terpampang di layar panggung,  terdengar suara Chrisye yang menyapa dengan suara khasnya,  "Halo semua!".

Erwin dan band lantas mengiringi video Chrisye  untuk sejumlah lagu yakni,  "Semusim", "Aku Cinta Dia", "Nona Lisa", dan "Huru Hara". Panggung berlanjut dengan video Chrisye menyanyikan “Anak Jalanan”,  “Kisah Cintaku”,  “Kala Cinta Menggoda”,  “Angin Malam”, “Untukku”,  “Seperti Yang Kau Minta”.  

Pada sejumlah video yang memperdengarkan  lagu  riang, terlihat Chrisye yang  terkesan pemalu, bisa  bergoyang dengan luwes.

Dari  balik  keyboardnya, Erwin  seperti tak  bisa menyembunyikan perasaan kagum pada  Chrisye, sahabatnya,  sosok yang menjadi inspirasi  bagi semua musisi dan penyanyi di Indonesia. “Chrisye adalah seorang legenda, seorang tokoh dan pahlawan musik Indonesia!” ujar Erwin bersemangat.

Namun, sebagai sahabat yang 10 tahun terakhir mendamping Chrisye,  baik di  atas panggung maupun dalam rekaman, Erwin mengaku tidak sempat membuatkan lagu khusus  untuk almarhum.   Sebagai rasa penyesalan,  setelah lima tahun ia wafat,  Erwin menciptakan lagu baru yang dinyanyikan Chrisye. 

“Ini (bisa terjadi) berkat kecanggihan teknologi  dan bantuan teman-teman  yang jago mengedit.  Saya berhasil   merangkai 246 suku kata,  dari master suara  asli Chrisye yang dimiliki Musica Studio.  Jadilah satu lagu baru  berjudul  "Kidung Abadi". Lagu, melodi  dan  musik saya ciptakan sendiri.  Sementara lirik ditulis Gita Gutawa dan dinyanyikan dengan suara asli Chrisye!” kata Erwin sebelum memulai  memainkan lagu “Kidung Abadi” .

Sesaat  video  suara Chrisye dalam “Kidung Abadi” diperdengarkan,  penonton mendadak senyap.  Terpukau. Hanya menatap giant screen yang berwarna hitam memunculkan lirik lagu.  Pemandangan  yang sangat kontras dibanding  penampilan pada beberapa lagu sebelumnya.

Konser benar-benar  selesai, setelah video “Cintaku” dan “Pergilah Kasih”  diputar.  Lagi lagi pada giant screen terlihat Chrisye  membelakangi penonton, dan bernyanyi dengan sepotong lirik  yang diulang-ulang: “Semoga kita jumpa lagi…”  Perasaan haru serta merta menyeruak.

Selama  tiga hari penyelenggaraan Synchronize Festival 2019,   di antara  159 panggung  pertunjukan yang digelar penyelenggara,  “Live Chrisye by Erwin Gutawa”  boleh dicatat sebagai yang tersukses. 

Kata sukses ini, bukan semata dilihat dari ribuan penonton yang tersihir berdiri di depan panggung dan  menyanyi sepanjang pertunjukan, melainkan juga karena konser  ini menorehkan sejarah baru  dalam pertunjukan musik di Indonesia. 

“Live Chrisye by Erwin Gutawa" merupakan pertunjukan musik pertama dalam sejarah panggung musik Indonesia, dengan mengandalkan rekaman dokumentasi video,  dan  Erwin mengiring  live seorang penyanyi yang sudah 12 tahun wafat.   

Ini menjadi sejarah kedua bagi Erwin berkarir bersama Chrsiye yang sudah wafat. Yang pertama, tentu karena spektakulernya teknologi yang mendukung lahirnya lagu “Kidung Abadi”, setelah 5 tahun  Chrisye wafat.  XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=1928]

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Mon, 07 Oct 2019 10:11:34 +0700
“Prophets of Rage  di Hodgepodge Superfest 2019 : “Make Jakarta Rage Again” https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2766/prophets-of-rage-di-hodgepodge-superfest-2019-make-jakarta-rage-again.html https://www.xposeindonesia.com/music/on-stage/2766/prophets-of-rage-di-hodgepodge-superfest-2019-make-jakarta-rage-again.html “Prophets of Rage  di Hodgepodge Superfest 2019 : “Make Jakarta Rage Again”
Harus diakui, peyelenggaraan Hodgepodge Superfest 2019 untuk kedua kalinya di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta Utara pada Minggu (1/9/2019) ini, jauh…

Ini bisa dilihat dari jumlah penonton  sekaligus anthusias mereka ikut  bernyanyi dan “terbakar” penuh semangat di depan panggung yang mempergelarkan  aksi dari  Prophets of Rage.

Dilihat dari usia, band  ini terhitung baru. Karena  dibangun tahun 2016.  Namun, member grup cukup senior di jagat musik. 

Ada 3 persoil band Rage Against the Machine dan Audioslave (Tim Commerford (bassist dan backing vocalist), Tom Morello (gitaris), dan Brad Wilk (drummer), sementara dua personil lagi adalah members dari kelompok Public Enemy (DJ Lord and rapper Chuck D), and rapper B-Real of Cypress Hill

Pukul 22.23, para personil Prophets of Rage memasuki panggung dan terdengar sirine, sebuah bunyi pembuka dan menjadi bagian dari lagu “Prophets of Rage” single pertama grup ini yang dirilis pada 2016. Sebuah lagu yang sukses dengan perolehan view video di Youtube, menyentuh angka 3,5 juta lebih.

Chuck D menyapa penonton dengan mengatakan “Indonesia rage again”  lalu membawakan lagu “Testify” yang aslinya merupakan lagu milik Rage Against the Machine (dirilis pada 1999). “Testify” rupanya sungguh familiar  di telinga penonton  Jakarta, terlihat  mereka bergerak dan  bergoyang seretak.

Mereka tidak segan melompat-lompat mengikuti irama. Kondisi dan suasana begini  berlanjut pada lagu-lagu “Unfuck the World” dan “Guerilla Radio”. 

B-Real menyambut anhusias penonton dengan berseru. “We can’t stop and we won’t stop,” ujar sang rapper, diikuti teriakan penonton dan disambut lagu “Hail to the Chief”, “Know Your Enemy”, dan “Heart Afire”.

B-Real  yang mengenakan kostum bak Sultan Arab, dengan sorban, plus kaca mata hitam juga mengenakan sarung tangan kipper sepakbola melanjutkan pentas dengan  memperdengarkan hip hop klasik  yang menjadi trend  era 90-an seperti “Hand on the Pump”.

Usai lagu  “Hand on the Pump”, B-Real mengajak penonton duduk sejenak. Namun beberapa detik kemudian,  penonton menggila   lagi  mana kala terdengar lagu “Jump Around” . Mereka langsung berlompatan tak terkendali.

Chuck D juga menyapa penonton lagi dan mengatakan “Let me ask you something, do you like hip hop music? Would you like to hear some classic hip hop music? Yo Lord, drop it off”!

Lalu mereka membawakan lagu “Hand on the Pump” milik Cypress Hill, “Can’t Trust it” milik Public Enemy, “Insane in the Brain” milik Cypress Hill. 

Chuck D meminta penonton untuk turun mengambil ancang-ancang sebelum loncat ketika mereka membawakan lagu “Jump Around” milik House of Pain dan dengan lagu itulah sesi hip hop dari pertunjukan Prophets of Rage berakhir.

Usai itu, Tom Morello maju ke tengah panggung. Ia mengucapkan terima kasih kepada penonton, lalu mempersembahkan lagu untuk Chris Cornell, rekannya dalam  kelompok Audioslave yang meninggal dunia pada 2017.

Telinga dan mata penonton juga dimanjakan dengan guitar solo Tom Morello.  Penonton pun terlihat sangat antusias. Setelah penampilan solo Tom Morello, Prophets of Rage membawakan lagu “Take the Power Back”.

Panggung dilanjutkan Morello  dengan membawakan versi instrumental “Cochise”. Ini merupakan  single pertama Audioslave yang dirilis pada 2002. Dan  meraup sukses internasional dengan telah di view lebih dari 51 juta  kali.

“Jika tahu lagu ini, nyanyikan. Jika kalian tidak, ramaikan saja!” ujar Morello. Dan penonton di depan panggung Allianz Ecopark pun kompak bernyanyi, menggantikan  vocal almarhum Chris Cornell.

Selepas  lagu itu, penonton kembali bergelora dengan lagu-lagu rock yang keras. Menjelang akhir konser, backdrop berlogo Prophets of Rage dinaikkan. Layar LED menyala, dengan tulisan “Make Jakarta Rage Again” berlatar merah.

Dua puluh menit menjelang pergantian hari, konser supergrup ini selesai, ditutup lagu “Bombtrack”. Sebuah lagu alternative metal milik  band Rage Against the Machine, yang liriknya bicara tentang ketidaksetaraan sosial. 

Penonton  lagi-lagi “terbakar” di depan panggung.  Namun,  di tengah Lelah sehabis melompat-lompat, mereka  bisa tertib pulang menuju rumah masing-masing. XPOSEINDONESIA Teks dan Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

[widgetkit id=1882]

 

]]>
ihsan@musisiindonesia.com (XPOSE INDONESIA) On Stage Thu, 05 Sep 2019 11:13:26 +0700