Anna Mariana Menggerakan Pesantren Belajar Menenun

01 January 2017

Malam tahun baru sangat biasa diisi dengan letupan kembang api dan bakar bakaran sate maupun ikan.  DR.Hj. Anna Mariana SH.MH.MBA memberlakukan hal yang sama dengan sentuhan berbeda di penghujung malam 2016 yang kebetulan juga merupakan tanggal lahirnya.  Ia  mengajak anak panti asuhan Al Mubarokah dari Jakarta Selatan   untuk membakar "hati" dengan jalan  doa bersama dan shalawat di belakang rumahnya di kawasan Kemang Jakarta Selatan.

Di usianya yang ke 57, Anna memang  seolah tak berhenti berkarya cemerlang untuk negeri ini. Setelah mempelopori  kelahiran songket dan tenun Betawi bersama adalah Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus)  Betawi pada 24 Desember lalu,  di penghujung tahun 2016, sambil menyambut tahun baru,  ia berinisiatif  menggerakan  anak anak pesantren asuhannya untuk mereka belajar mencintai  budaya, terutama lewat tenun dan songket. Kegiatan ini  sejalan dengan Pengembangan Budaya Kain Batik Betawi, serta sosialisasi Pengembangan dan Pembinaan Budaya Kain Tenun dan Songket Betawi.

“Saya akan menurunkan ilmu dan mengajarkan anak-anak pesantren asuhan  saya yang tersebar di Jakarta, Banten  dan Serang, agar mereka mempelajari teknik  tenun dan songket,” ujar Anna Mariana yang baru meraih gelar Doktornya.

Kegiatan belajar menenun ini, kata Anna Mariana bisa dilakukan di saat anak-anak pesantren  senggang  dari kegiatan belajar ilmu agama. 

“Dengan memiliki Ilmu menenun, nantinya mereka bukan hanya akan pintar soal agama dan bisa menjadi ulama, tapi juga berpengetahuan luas, memahami juga semakin mencintai budayanya. Keahlian menenun ini juga bisa membuka lapangan usaha dan mendatang rejeki,” ujar isteri dari Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, SH., MS., MSC ini.

Menurut Anna yang sudah 33 tahun berkarya  untuk perkembangan kain tenun dan songket di nusantara, ia akan mengajarkan  anak-anak itu dari hal paling dasar. Misalnya  pengenalan sejarah, bahwa dalam budaya masyarakat Betawi, belum pernah ada tenun dan songket. “Yang ada hanya kain Batik dengan motif kembang-kembang dengan selalu ada motif Ondel-Ondel. Produksi ini kemudian hanya kita kenal sebagai kain dari Batik Cap, Batik Tulis,  Batik Printing.  Kain yang ada bukan tenun  juga songket, yang proses pembuatannya masih menggunakan cara tradisonal ditenun atau dikerjakan dengan proses handmade!” ungkap Anna.

Karena itulah, Anna Mariana  yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Sejarah Kain Tenun Nusantara bertekad menyiapkan tenaga, peralatan juga dana untuk mempersiapkan ide tersebut.

“Anak-anak  pesantren ini ada yang sudah yatim piatu. Dengan  mereka punya bekal ilmu menenun, mereka diharapkan bisa mandiri, dan punya penghasilan sendiri. Dan yang lebih pasti lagi, mereka  akan menjadi kader penerus  yang pandai menenun," ujar Anna yang bercita-cita bisa melahirkan adanya peringatan hari Tenun dan Songket, seperti peringatan Hari Batik. "Bahkan saya juga ingin tenun dan songket bisa digunakan sebagainkostum resmi ke kantor sama dengan batik!"

Menurut Anna proses pengerjaan kain songket dan tenun  sangat khas dan  memerlukan waktu lama.  Terlebih  untuk  menghasilkan tenun kelas premium yang menggunakan benang sutera.  “Proses pengerjaannya memakan waktu enam bulan bahkan bisa sampai setahun. Diperlukan ketrampilan, keuletan, ketekunan dan kesabaran khusus. Karena menenun dari benang sutra itu rumit, oleh sebab itu pula  harga songket menjadi mahal  bahkan cenderung fantastis.”

Di tengah acara menyambut  tahun baru  dan ulang tahunnya bersama anak-anak yatim piatu itu, terlihat hadir artis Ratna Listy dan pengacara Farhat Abbas juga rekan-rekannya dari Soul Of Speaking. Untuk memeriahkan suasana, Anna Mariana menggelar serangkaian lomba bagi anak yatim piatu yang hadir malam itu, yakni lomba memakai kain paling rapi, lomba fashion show, lomba azan dan lomba membaca shalawat. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Muhamad Ihsan

More Pictures


 

Last modified on Sunday, 01 January 2017 22:22
Login to post comments