Payung Merah Putih di Gili Trawangan Pecahkan Rekor Dunia

03 October 2015

Pemasangan 2.292 payung berwarna merah putih di di sepanjang jalan keliling Gili Trawangan atau sekitar 2 kilometer,  sejak 17 Agustus 2015 lalu, berhasil memecahkan rekor dunia versi Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pemasangan payung terbanyak.Sertifikat pengakuan diserahkan langsung oleh Wakil Direktur MURI, Osmar Semesta Susilo di Gili Trawangan, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU) Rabu kemarin (30/9).

Sertifikat pemecahan rekor pemasangan payung merah putih terbanyak itu diterima oleh pemrakarsa, sekaligus pelaksana yaitu Kepala Desa Gili Indah HM Taufik, pelaku usaha wisata Sama Sama Regae Bar Acok Bassok dan Ketua APGT (Asosiasi Pengusaha Gili Trawangan), yang diwakili Humas APGT, Sam Samba.

Penyerahan ini disaksikan pula oleh Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat, Erni Tjahjo Kumolo, Ketua Umum Tim Penggerak PKK NTB, Hj Erica Zaenul Majdi, Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) NTB, Hj Syamsiah Amin, serta Kepala Disbudpar NTB, HL Moh Faozal.

“Kami mengapresiasi apa yang telah dilakukan para pengusaha wisata dan warga Gili Trawangan ini. Pemecahan rekor dunia pemasangan payung merah putih terbanyak sepanjang jalan keliling Gili Trawangan yang mendapat pengakuan MURI ini, kami yakini akan semakin mengharumkan nama Gili Trawangan di kalangan masyarakat dunia,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Pusat, Erni Tjahjo Kumolo, dalam sambutan.

Hanya saja pesannya, sebagai destinasi wisata utama di NTB yang telah mendunia, dia berharap masyarakat dan pengusaha wisata selalu menjaga keramahan, kebersihan, kenyamanan dan keamanan pulau. Sehingga para wisatawan yang datang berkunjung menjadi terkesan, dan betah berlama-lama menikmati liburannya.

“Saya sering mendengar Gili Trawangan yang konon keindahan alamnya seperti “surga”. Namun baru kali ini kami berkesempatan ke Gili Trawangan, dan memang benar-benar indah,” tutur Erni.

Pernyataan senada disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Hj Erica Zaenul Majdi, bahwa saking terkesannya Erni Tjahjo Kumolo terhadap keindahan alam di pulau Lombok, khususnya Gili Trawangan. Erni suatu saat bahkan berencana berkunjung lagi ke NTB. “Tapi ada syaratnya, Ketua Umum janji datang lagi ke Lombok (NTB), kalau kita sudah memiliki cagar budaya asli NTB,” papar Erica.

Terkait itu sambungnya, Tim Penggerak PKK NTB diminta agar terlibat aktif menjaga keberadaan cagar budaya yang ada. “Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengabdian kaum perempuan NTB terhadap pelestarian alam dan budaya asli masyarakat pulau Lombok dan Sumbawa, yang nantinya akan diwariskan kepada generasi penerus,” jelas Erica.

Sedangkan Kepala Disbudpar NTB, HL Moh. Faozal, dalam pemaparannya menyatakan bahwa Gili Trawangan, bersama dua gili lainnya, Gili Meno dan Gili Air merupakan destinasi wisata utama yang ada di NTB.

“Wisatawan yang berkunjung ke Gili Trawangan ini tidak mengenal high season (musim ramai) maupun low season (musim sepi). Setiap hari Gili Trawangan ini selalu ramai dengan kunjungan wisatawan,” tuturnya.

Menariknya lagi lanjut Faozal, seluruh masyarakat di Gili Trawangan yang berjumlah sekitar 200 KK (kepala keluarga), atau sekitar 1000-an jiwa, semua familiar dengan para wisatawan atau sangat mendukung pengembangan pariwisata di daerahnya.

“Dengan sikap masyarakat itu, kami yakini target kunjungan 2 juta wisatawan ke NTB akan tercapai, bahkan terlampaui. Termasuk kunjungan rombongan Tim Penggerak PKK Pusat kali ini, akan kami catat dengan tinta emas, karena turut berkonstribusi terhadap arus kunjungan wisatawan ke NTB,” beber Faozal.

Ketua APGT sekaligus Owner Sama Sama Bar, Acok Bassok yang dijumpai usai penyerahan piagam rekor dunia MURI menyatakan, apa yang dilakukan dengan  memasang payung merah putih sepanjang jalan keliling Gili Trawangan, awalnya adalah untuk memperingati dan memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan RI ke 70, pada 17 Agustus 2015. “Saat itu, kami memasang payung merah putih agar masyarakat dunia (wisatawan) mengetahui kalau pada momen kali itu seluruh bangsa Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaannya,” jelasnya.

Selain itu lanjutnya, juga untuk menggugah semangat dan nasionalisme warga Gili Trawangan, agar senantiasa tumbuh jiwa patriotisme dalam hatinya. Sehingga meskipun sehari-hari warga Gili Trawangan dan dua gili lainnya berkutat dengan para wisatawan dari berbagai negara. Namun ketika momen peringatan hari kemerdekaan bangsa, juga turut merayakan, bahkan juga menggelar apel bendera.

“Pemasangan ribuan payung merah putih di jalan keliling Gili Trawangan, selain untuk mempercantik pulau, sekaligus sebagai cara kami mengingat perjuangan para pahlawan terdahulu. Juga memberitahukan kepada para wisatawan, bahwa hari ini kami sedang bersuka cita merayakan kemerdakaan Indonesia,” ucap Bassok.

Sedangkan Wakil Direktur MURI, Osmar Semesta Susilo, menyampaikan penghargaan atas prestasi yang diraih warga Gili Trawangan itu. “Pemasangan ribuan payung merah putih ini tidak berhasil memecahkan rekor di Indonesia, tapi berhasil memecahkan rekor dunia,” candanya, namun serius.

Sebelumnya memang ada rekor dunia pembagian payung terbanyak di Jakarta, 7000 payung pada saat pemilu yang dilakukan oleh Partai Demokrat ketika sedang kampanye.

“Namun itu momen berbeda, pembagian payung. Kalau di Gili Trawangan ini pemasangan payung di jalan, dan warnanya juga merah putih, sehingga berbeda dan unik,” jelas Osmar.

Untuk diketahui sambungnya, pemasangan payung terbanyak di Gili Trawangan ini tercatat dalam buku rekor MURI dengan nomor register 7.103.

“Sebelumnya, di NTB juga telah banyak menyumbang rekor-rekor dunia lainnya. Semoga kedepan masih ada lagi tercipta rekor-rekor baru,” harap Osmar seraya memaparkan tiga kriteria untuk mendapat pengakuan rekor dunia dari MURI, yaitu harus menjadi yang pertama (pioneer), kuantitatif (terbesar, terpanjang, terpendek, terkecil, dan ter-ter lainnya), dan ketiga harus unik serta langka. XPOSEINDONESIA/Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Tuesday, 06 October 2015 18:57
Login to post comments