Lagu dan Lirik adalah Selera, Etika yang Utama

15 May 2014

Tahun 1978, di Jakarta Selatan, digelar Festival Vokal Grup Amigos se Jabodetabek. Amigos adalah nama radio swasta di Kebayoran Baru.  

Dalam festival vokal grup ini,  tidak ada persyaratan harus menulis lagu sendiri, tapi ada satu kelompok vokal – CHASEIRO, (nama ini dibentuk dari intial pemainnya = Candra Darusman, Helmy, Aswin Sastrowardoyo, Eddy Hudioro, Irwan, Rizali Indrakesuma dan Omen) menyodorkan lagu karyanya berjudul ‘Pemuda’, tepatnya ciptaan Candra Darusman, sebagai Lagu Pilihan. 

Lagu ini  bisa dinilai sebagai ‘karya baru yang orisinal’ dari pecahan vokal.  Lagu ‘Pemuda’ menjadi Lagu Terbaik, dan Chaseiro terpilih sehagai Vokal Grup Terbaik. Kemenangan Chaseiro mengantarnya masuk rekaman di Musica Studio’s, dengan first single ‘Pemuda’. 

Di jaman itu, tema lagu spirit pada gerak anak muda, atau lagu tema patriotik adalah barang langka, apalagi untuk single pertama. Tapi Chaseiro yang terdiri dari musisi dari Kampus UI ini justru kondang karena lirik dan melodi lagu ‘Pemuda’. Liriknya seperti ini :

Pemuda, kemana langkahmu menuju 

 Apa yang membuat engkau ragu 

 Tujuan sejati menunggumu sudah 

 Tetaplah pada pendirian semula

Dimana artinya berjuang 

Tanpa sesuatu pengurbanan 

Kemana arti rasa satu itu

Reff :

Bersatulah semua seperti dahulu 

 Liihatlah ke muka 

 Keinginan luhur kan terjangkau semua

Pemuda kenapa wajahmu tersirat 

 Dengan pena yang bertinta belang 

 Cerminan tindakan akan perpecahan 

 Bersihkanlah nodamu semua

Masa depan yang akan tiba 

 Menuntut bukanya nuansa 

Yang selalu menabirimu Pemuda

Menurut hemat saya, Candra Darusman telah membuat tafsiran tepat pada sikap pemuda ( saat itu ), yang awalnya suka ragu, galau melangkah, rada apatis tapi Candra mengunci lirik dengan memberi spirit, menawarkan harapan.

 ‘Kebyar dan Kebyar’ , serta ‘Bendera’

Pada tahun 1980-an, nama Gombloh sangat kondang. Lelaki ceking asal Surabaya, bersuara lantang ini cakap memulis lirik dan melodi lagu. Kadang kontradiktif.

Ada lagu yang olok-olok ( ‘Tai Kucing Serasa Coklat” ), ada lirik bercanda ( ‘Di Radio’ ), lagu tema alam dan lingkungan ( ‘Lestari Alamku....’ ), tapi Gombloh menjadi sangat dikagumi karena superhitnya, ‘Kebyar dan Kebyar’. Lagu ini diarahkan pencipta (sekaligus penyanyinya),  sebagai Lagu Tema Cinta Tanah Air.  Melodinya indah, musiknya tanpa intro, Gombloh langsung menyanyi dengan suara di not tinggi. Sebagian lirik ‘Kebyar dan Kebyar’  begini :

Indonesia, merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatmu

Indonesia debar jantungku.....dst....Kebyar Kebyar, pelangi jiwa.....

‘Kebyar dan Kebyar’ liriknya sederhana tapi dahsyat. Mudah dicerna, tidak multi interpretatif. Gombloh membuat tafsir : merah = darah, putih = tulang. Bersatu dalam semangat.....’Kebyar dan Kebyar’ memiliki peran penting dalam industtri musik pop rekaman, karena lagu ini pernah seperti lagu pendamping ‘Indonesia Raya’ dalam event event penting kenegaraan. 

Menpora Adhyaksa Dault memberikan penghargaan buat Gombloh, pada perayaan Sumpah Pemuda di Istana Wapres Jusuf Kalla ( waktu itu ). Sepanjang yang kita tahu, ‘Kebyar dan Kebyar’ adalah lagu pop yang long lasting......panjang usianya, punya relevansi dengan jaman.

Bandingkan dengan lirik lagu ‘Bendera’ ciptaan Eross Chandra gitaris Sheila on 7, yang kukuh sekali dengan tema patriotik. ‘Bendera’ menjadi lagu hit ditangan dan tenggorokan Kikan  dari Cokelat ( saat itu ). 

Cokelat adalah band pop rock asal Bandung yang sakti dengan lagu-lagu ciptaan vokalis Kikan, tapi Produser Eksekutif Jan Djuhana dari Sony Music waktu itu, menyodorkan lagu ‘Bendera’ karya Eross Chandra, buat dinyanyikan Kikan dan diaransemen Cokelat. Kenapa tidak direkam oleh Sheila on 7? 

Eross menjawab, “Waktu itu dianggap nggak pas buat karakter musik Sheila on 7,” Dan ‘Bendera’ itulah lagu pertama Eross Chandra yang direkam oleh artis lain diluar Sheila, apalagi yang merekamnya band setangguh Cokelat. 

Kenapa? Karena Sheila on 7 sendiri tak yakin lagu itu bisa jadi hit jika masuk dalam albumnya. ‘Bendera’ punya lirik yang berisi, tema cinta Tanah Air, sayang Merah Putih, tapi tatkala dinyanyikan, kata-katanya terbaca dan terdengar tak menggurui.

Juga bandingkan dengan sejumlah lagu tema Cinta Tanah Air, Patriotik. Kemanusiaan, Kritik Sosial lainnya dari sejumlah kampiun penulis lagu dan lirik, seperti Ebiet G Ade, Iwan Fals, Iwan Aburachman, Bimbo, Bimbim Slank, God Bless, Oppie Andaresta, Nugie, Sawung Jabo, Supeman is Dead,  Navicula, Kotak, The S.I.G.I.T, Netral sampai lagu cinta tanah air yang ditulis band indie anak muda, Peewee Gaskins, ‘Dimata Sang Garuda’. 

Menulis lagu tidak harus sendirian. Jika tidak mampu menulis syair, kasihlah orang yang ahli menulis kata-kata yang puitis, lirikus, agar bahasanya bisa  bernyawa. Analoginya :  Penulis melodi lagu kasihlah gitar, penulis lirik, berilah pena. Seperti kerjasama Bimbo dengan Taufik Ismail, Iwan Abdurachman dan Emma Madjid, atau God Bless meminta lirik lagu ‘Rumah Kita’ dari wartawan senior Theodore KS, atau Kotak meminta bantuan Dewiq dan Pay untuk menulis beberapa lagu hitsnya.

Menurut hemat saya, banyak juga lirikus yang ahli menyusun kata-kata untuk lagu. Jadi bukan pemusik memusikalisasi puisi, tapi spesialis menulis lirik, alias lirikus. Ebiet G Ade misalnya, memiliki porsi yang lengkap sebagai musisi, tema lagunya beragam, bahkan pada tema-tema kemanusiaan, lagu-lagu Ebiet terasa memiliki relevansi sosial, tak lekang oleh jaman, long lasting. Saban ada bencana alam, beberapa lagu Ebiet ditayang kembali di TV untuk ilustrasi berita bencana alam.....

Adakah penulis lirik tema memanusiaan dan cinta yang romantis yang bisa didengar abadi? Lagu-lagu dan lirik Ismail Marzuki, vokalis Is dari Payung Teduh, lirik tema cinta Yovie Widianto, Rian D’Masiv, ( sebagian ) karya Titiek Puspa, ciptaan Iwan Abdurachman, KLa Project – terutama ciptaan Katon Bagaskara, adalah sebagian contohnya. Kita juga harus apresiasi klopnya cara membawakan lagu dan lirik vokalis Momo untuk bandnya yang kondang, Geisha. 

Lagu dan Lirik adalah Selera

Pada Seminar ‘Bahasa Lagu sebagai Media Komunikasi’ yang digelar Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta, Selasa 13 Mei 2014, 2 pembicara, Is vokalis Payung Teduh, Bens Leo dan audienans sepakat, sejatinya tak ada lirik yang buruk pada lagu-lagu Indonesia, “Yang ada adalah masalah selera, segmentasi dan genre musik. Sangat tidak tepat membandingkan lirik lagu Wali dengan D’Masiv misalnya, meski musiknya sesama pop, tapi pilihan segmennya beda, pendengar dan penontonnya juga beda, “ kata Bens Leo. 

Sangat tidak tepat membuat tinjauan lirik lagu ‘Cari Jodoh’ ciptaan Apoy, jika padanannya ‘Jangan Menyerah’ karya Rian D’Masiv. Keduanya pencipta lagu band kondang. Album dengan lagu hit ‘Cari Jodoh’ menembus angka RBT 18 juta, sedang D’Masiv adalah band Indonesia yang terpilih mewakili Indonesia ambil bagian dalam Festival Musik 100 tahun Guinness Beer di Irlandia, tahun lalu.  Wali dan D’Masiv sama-sama memiliki prestasi, tapi bidikan pasarnya beda.

Seorang peserta diskusi bertanya, apa yang harus kita lakukan jika di dalam angkot, kenek atau sopirnya memutar lagu dangdut yang liriknya terkesan kotor, liriknya vulgar,  cerita tentang cewek yang hamil duluan? 

Is, vokalis Payung Teduh menjawab, “Intinya, musik dan lirik adalah selera. Yang membedakan adalah meletakkan penulis lirik itu pada estetika dan etika. Jadi jika Anda mendengar atau melihat ada lirik yang kurang tepat diputar di depan umum, tayang di TV, atau diedarkan tanpa melewati sensor penulis liriknya atau orang yang akan memproduksinya, ada baiknya kita ikut menegur sopir untuk tidak diputar, sebab lagu macam itu tidak mengindahkan etika dan estetika.”

Bens dan Is juga berharap, industri musik bisa tumbuh dengan sempurna, bebas menulis lirik, tapi bertanggung jawab pada konsumennya. Mereka meminta media massa ikut membantu agar industri lagu anak-anak juga tumbuh kembang dengan baik ( lagi ) seperti di era Chicha Koeswoyo,, Adi Bing, atau di jaman Agnez Mo masih anak-anak.....

Salah satu caranya adalah, menganjurkan anak-anak menyanyi lagu-lagu sesuai dengan usianya untuk sebuah kompetisi nyanyi yang tayang di televisi, seperti ‘Idola Cilik’. “Mosok anak-anak disuruh menyanyi lagu bertema selingkuh ciptaan Mata Band......Acara-acara tekevisi hendaknya diawasi secara ketat oleh KPI, ” ujar Bens Leo mengunci diskusi musik di Kampus UNJ ini. XPOSEINDONESIA-Bens Leo Foto : Dok. Payung Teduh, Dok. Chaseiro, Tempo.co, & BL 

More Pictures 

Last modified on Thursday, 15 May 2014 13:09
Login to post comments