Pergelaran Guruh Sukarno Putra ‘Sri Mimpi Indonesia’

03 September 2013

Untuk mewujudkan faham Cinta Budaya, Cinta Kasih Manusia dan Cinta Tanah Air, Guruh Sukarno Putra dengan Kinarya GSP kembali menggelar  Pentas Tari, Musik / Nyanyi dengan tata busana gemerlap. Diberi judul ‘Sri Mimpi Indonesia’.

Karya Cipta Guruh Dan Clan-nya yang Seksi

Dimulai tahun 1979 dengan Karya Cipta Guruh Sukarno Putra  pertama yang digelar di Balai Sidang Jakarta – kini Jakarta Convention Centre ( JCC ) – Putera terkecil dari Presiden Soekarno – Ibu Fatmawati ini selalu konsisten dengan warna terkuatnya : memadukan budaya etnik dan modern, baik untuk Tari ( koreografi ), Musik / Lagu, Busana ( kostum ) dan Tata Panggungnya. ‘Sri Mimpi Indonesia’ yang berdurasi berkisar 2 jam juga mempertahankan 4 hal di atas sebagai basis kerja utama. Bedanya, jika di awal karier membuat Pergelaran kolosal di tahun 1979 Guruh banyak bekerja sendiri, mengkonsep naskah, sebagai koreografer, pemikir artistik dan busana, kali ini Guruh banyak membagi tugas pada Pekerja Seni lainnya untuk pergelaran dengan 89 orang  penampil di panggung ini.

Alex Hassim ditugasi menulis Naskah, Koreografer ( bersama Guruh, Michael Ngantung dan Duddy Gunawan ) dan  Sutradara ‘Sri Mimpi Indonesia’ , Musik set up Magenta Orchestra oleh Andi Rianto,  sementara Artistik – dengan panggung yang berbasis gapura Bali oleh Rani Badrikalianda. Penata Busana dikoordinasikan oleh Tonny Tosya.

Untuk membuat efek gemerlap di panggung seperti di awal pergelaran Karya Cipta-nya, Guruh tak harus mencari grenjeng ( bungkus dalam rokok yang berwarna perak / gold untuk mendapat efek gemerlap jika kena cahaya ), tapi dalam ‘Sri Mimpi Indonesia’ banyak dukungan gemerlap dari tata lampu, tata suara, dan disain panggung.

Busana dan basic tari dengan keragaman budaya Nusantara yang dimodernisir, menampilkan eksplorasi seni Bali, Melayu ( Sumatere Barat ), Kalimantan dan Jawa. Kecerdasan  Guruh ada di sini.

"Busana Jawa B3 lengkap dengan sanggulnya, yang mendisain saya, " kata Guruh dalam Jumpa Pers  pasca GR terakhir, sekitar pk, 23.30 WIB.  Busana Widi, Nola dan Cynthia Lamusu dari B3 ini, berupa kain batik dan kebaya, dengan atasan yang berlapis dua.

Dalam satu sesi menyanyi, muncul 7 pria ganteng berbadan tegap, telanjang dada, mengitari 3 perempuan cantik lulusan Asia Bagus tadi dan membuka baju lapis pertama B3. Penonton terkejut, adegan sensual ini memang lolos sensor, karena ada kostum kedua yang melekat ditubuh B3 dan kembali mereka menyanyi, “Ini memang bagian yang sangat berwarna Mas Guruh banget, “ kata Widi. ‘B3 berlatih intens satu minggu untuk menyiapkan pergelaran ini, termasuk memberanikan diri tampil seksi di panggung, “ kata Cynthia.

Seperti kita tahu, dalam tiap pergelarannya, Guruh dan Kinarya GSP – dulu juga dalam Swara Maharddhika  - busana-busana sensual yang berbasis Busana Entik Indonesia selalu menjadi sajian menarik dari Karya Cipta Guruh Sukarno Putra. Pergelaran ini juga didukung oleh panari lama spt Citra, Fita Moeslichan, Myrna, Tegs Prita Soraya, Tuti Mogoginta, Wanti Sukarno. Alfani dan Chepy Jamback.

Komedi Yang Nyinyir Menyindir

Dibuka oleh sekelompok gadis Bali pembawa sesaji, lalu menampilkan Ichsan Akbar ( juga menyanyi ) berbusana melayu sibuk mencari kursi di bangku penonton, disusul oleh Nycta Gina dengan suara cemprengnya – juga mencari kursi dengan bertanya pada penonton dengan memakai Bahasa Inggris yang nabrak-nabrak grammar-nya, ini merupakan pembuka yang tampak jenial.

Mengingatkan pergelaran Guruh dulu yang didukung oleh comedian Warkop Prambors. Kali ini, unsur komedi yang menyasar dengan kritik soSial itu juga didukung oleh Ary Kirana dengan slank Tinonghoa dan Nino Gracia yang memakai busana Jawa dengan blangkon di kepala. Beberapa kritikan tajam terlontar dari mulut Ichsan, “Gak boleh gak hafal Indonesia Raya, “ katanya menyindir, lalu Ary menyahut, “Hayo, dibawa-bawa ke Politik…..”

Beberapa kali juga kwartet comedian yang 3 diantaranya memang berbasis penyanyi ini ( Nino, Ichsan dan Ary ), mengatakan bahwa, sebagai orang Indonesia, harus ingat pesan Mas Guruh, “Pakailah bahasa Indonesia, jangan sok bahasa asing, bahasa Inggris….”

Ary dan Ichsan mengaku, konsep ‘lawakan’ mereka memang ada sinopsisnya, tapi mereka dibolehkan berimprovisasi, “ Jadi mingkin kalimat kami hari ini, akan beda dengan 2 pergelaran besok, “ kata Ary yang berlogat Tionghoa dan ditugasi menyanyi  lagu ‘Putri Tionghoa’ ini.

Mengulang Lagu & Penyanyi  Lama

Guruh mengaku tak pernah lepas dari karya lagu dan tari lamanya, “Itu memang karakter saya banget, “ katanya pada Xpose Indonesia. Lagu-lagu lama itu antralaian ‘Melati Suci’ ( instrumental ) , ‘Kala Sang Surya Tenggelam’, ‘Lenggang Puspita’, ‘Galih dan Ratna’, ‘Kala Sang Surya Gemilang’, ‘Gita Cinta dari SMA’, ‘Kala Cinta Menggoda’, ‘Candu Asmara’  dan banyak lainnya, dinyanyikan oleh B3,  Gabriel,  Titi DJ, Sita ( ex Rida – Sita - Dewi ), Nino. Haikal. Sebagian besar lagu ada di album Chrisye.

Dari panggung B3 mengaku membawakan 2 lagu ciptaan Guruh yang belum pernah dipublikasikan dan dinyanyikan pertamakali oleh B3, “Dan kami bagga karena dipilih Mas Guruh untuk menyanyiannya, “ kata Widi.  Sementara itu, Andi Rianto yang ditugasi sebagai Penata Musik merasa bangga, karena menjadi pilihan Guruh, “Saya menggemari karya Mas Ruh sejak kanak-kanak, warna etnik melodi lagunya selalu menjadi tantangan bagi siapa pun arrangernya, “ kata Andi.

‘Tantangan paling kuat adalah, tatkala saya harus menggarap nuansa etnik gamelan Bali melalui music sampling, sequencer. Yang dipandu Mas Guruh. Hingga akhirnya menyerupai gamelan Bali dan dipakai sebagai iringan tari pembuka yang Bali banget. Ini pekerjaan tak mudah,. “ kata Andi Rianto, arranger ‘lulusan Amerika’ ini. Andi berharap, Musica Studio’s bisa mengambil rekaman audio ‘Sri Panggung Indonesia’ buat diedarkan secara Nasional. ‘Karena secara artistik, sangat memadai dan berkualitas, baik lagu, penyanyi maupun kerja keras yang kami lakukan,” ujar Andi Rianto yang di-amini oleh Ny. Indrawati Widjaja alis Mbak Acin dari Musica yang hadir pada GR terakhir, 31 Agustus malam.

Sri Mimpi Indonesia’ yang dipersembahkan Djarum Foundation ini,  digelar Minggu 1 September  2013 dengan 2 kali pertunjukan, pada pukul 14.00  WIB dan pukul 20.00 WIB, tetap di JCC…..( Bens Leo untuk Xpose Indonesia ).(Foto : Yuri Rahadian)

More Pitcures

Last modified on Tuesday, 03 September 2013 09:12
Login to post comments