Pejuang Musik Indonesia

15 January 2014

Di Era Digital & Multi Media, terjadi pergeseran pemikiran masalah Hak Cipta. Dulu memutar Lagu Baru di Radio takut dibajak, kini Lagu Baru di upload ke YouTube, Facebook dan Twitter buat memburu Off air.

Sebuah sukses  bagi industri seni budaya, acapkali  mengandung sensasi. Sukses Koes Bersaudara misalnya, juga dilalui lewat masuknya Tonny Koeswoyo dan saudaranya dalam tembok bui, tapi waktu band ini bermetamorfosa menjadi Koes Plus, mereka membuat album serial yang sangat terkenal ‘Nusantara’…….

Sukses rekaman grup indie Bali Superman is Dead menjadi kontroversial dikalangan penggemar musik punk rock Indonesia, karena mereka ‘menyerah’ masik major label Sony Music pada 2003. Sukses rekaman NOAH dan menjadi band termahal di Indonesia, setelah vokalisnya Ariel, masuk penjara sewaktu masih memakai nama Peterpan.

Dan sukses lainnya adalah, munculnya trend lagu-lagu tema perjuangan dan cinta tanah air menjadi lagu superhit pada banyak band dan solois, seperti Gombloh dengan lagu ‘Kebyar dan Kebyar’, Cokelat membawakan lagu ‘Bendera’ ciptaan Eross Chandra Sheila on 7, Peewee Gaskins dengan ‘Dimata Sang Garuda’ , atau Netral melalui ‘Garuda di Dadaku’……atau Anda cari lagu-lagu tema cinta tanah air itu pada album 21st Night, KOTAK, atau satu dua lagu ditengah ratusan lagu ciptaan Yovie Widianto.

Hits Maker vs Musisi Asing

Sejarah Industri Rekaman di Indobnesia juga menyimpan banyak hits maker, dan era perkembangan musik dunia yang dikelola melalui teknologi. Untuk industri rekaman dengan penggemar anak muda, nama Fariz RM, Chrisye, Melly Goeslaw, Dewiq, Eross Chandra ( Sheila on 7 ), Iwan Fals, Ahmad Dhani, Ariel NOAH, Azis Jamrud, Yovie Widianto…..adalah sebagian pembuat lagu hits untuk kalangan ‘pendengar gedongan’.

Untuk hits maker kelas dan genre musik lainnya, Indonesia pernah punya nama Rinto Harahap, Pance Pondaag, Obbie Mesakh, sampai Doddy gitaris Kangen Band, Charly Van Houten ex ST12 dan Apoy pencipta lagu hit ‘Cari Jodoh’, atau Rhoma Irama buat musik dangdut, bahkan lagu Rhoma ‘Kereta Malam’ yang pernak direkam Elvy Sukaesih, kembali happening melalui program TV Yuk Keep Smile setelah diaransemen ulang gaya koplo dan dinyanyikan mantan pesinden Soimah

Tapi tak semua hits maker itu bisa bertahan lama sampai puncak popularitasnya, seringkali kariernya memudar seiring dengan munculnya regenerasi dan era teknologi baru, seperti memudarnya Ring Back Tone (RBT) sekitar tahun 2011 dan munculnya iTunes di era digital.

Melly Goeslaw misalnya, tiba-tiba saja menjadi hits maker untuk lagu-lagu tema musik film, yang beredar melalui soundtrack music film. Walaupun Melly Goeslaw pernah merajai pembuatan soundtrack music film pada tahun 2000-an, tapi dari dunia rekaman lagu-lagu film ini, sejauh yang kita ingat, tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan album Badai Pasti Berlalu hasil kongsi rekaman antara Erros Djarot dan Debby Nasution serta anak-anak band Gank Pegangsaan di tahun 1977.

Album Badai Pasti Berlalu versi aslinya, masih menjadi album legendaris yang dicari para kolektor kaset, hingga kini. Dan awal tahun ini, Promotor menggelontorkan dananya untuk menggelar karya cipta Erros Djarot di JCC.

Yang menarik ada peran hits maker seperti Fariz RM, Ahmad Dhani, Dewiq dan Yovie Widianto, banyak yang mengatakan mereka lahir  sebagai musisi jenius. Fariz yang banyak memiliki band di masa mudanya ( Superdigi, GIF, Jakarta Rhythm Section, dan lain-lain) ini, banyak menciptakan lagu hits, sejauh ini yang sangat fenomenal dan kuat karakternya adakah ‘’Sakura’ dan ‘Barcelona’.  Jika saja Fariz tak terjegal oleh drugs, mantan anak Menteng ini pasti tetap jadi musisi yang paling mencorong dalam berbagai dekade perkembangan musik.

Sejauh ini, kekuatan sebagai penyokong lahirnya lagu hits yang longlasting masih dipegang Yovie Widianto, dan itu dibuktikan oleh 2 konser yang dipimpinnya, yakni pada ultah 25 Tahun Kahitna ( 2011 ) dan Konser Tak Tergantikan 30 Tahun Yovie Mengabdi di Dunia Musik, Oktober 2013. Dua konser ini menandai kekuatan musisi Indonesia melawan invasi musisi asing yang perform ke Indonesia.

Indie Yang Membanggakan

Kecuali memiliki label rekaman yang bermain di wilayah musik mainstream pop, dengan sebutan major label, ada yang unik di industri rekaman Indonesia, yakni major label juga menaungi band-band dan artis indie ( independent ), seperti Aquarius Musikindo yang membuka label baru buat menampung band indie macam Type X, Rumah Sakit.

Sebelum punya label indie, Aquarius pernah mengontrak grup rock Suckerhead dan PAS Band, sementara Sony Music semasa masih berkongsi dengan BMG, mengontrak jangka panjang band punk rock Bali Superman is Dead, Bahkan yang sangat menarik adalah, gagasan SID untuk mengedarkan album khusus dalam bentuk vinyl alias piringan hitam, juga diapresiasi label internasional yang kini bernama Sony Musin Entertainment ini,

Harus Anda tahu, di Eropa dan Amerika, album vinyl ( cakram piringan hitam ), kini beredar lagi, mengingatkan kita ke era The Beatles (yang paling fenomenal adalah album Beatles yang menyeberang Abbey Road ), Rolling Stones, Deep Purple Led Zepp atau  The Who….

Maka, tatkala tanggal 15 Maret  2012, Sony Music merilis pengumuman SID menerima pre order pembelian album vinyl berjudul The Early Years Blood, Sweat & Tears – Antara lain berisi lagu hits lamanya, maka orang pun terkejut. Koq label Internasional yang  manaungi band indie ini, mau mengongkosi peredaran album vinyl grup indie, sementara mereka membiarkan band-band tangguh dan musisi hebatnya keluar, atau tak memperpanjang kontrak mereka, seperti keluarnya GIGI, tak diperpanjang kontrak /rif dan mundurnya Glenn Fredly, Bondan Prakoso dan Ruth Sahanaya dari Sony Music.

Bagi banyak musisi, ternyata main di ranah indie justru menarik. Seperti kita tahu, indie adalah kependekan dari independent, filosofinya adalah : tidak mau diatur, bebas merdeka dan umumnya artis indie punya pergerakan yang dahsyat, karena memiliki komunitas. Slank misalnya, memutuskan untuk berindie ria sejak tahun 1997, tatkala mereka baru saja kehilangan 3 musisi terbaiknya  ditengah issue Slank terantuk drugs .

Musisi Slank yang keluar atu adalah Indra Qadarsih ( keyboardist ), Pay ( gitaris ) dan Bongky ( bassist ). Tahun 1997 dalam tur Jawa Bali, Slank membuktikan bahwa, mereka adalah band dengan jumlah fans loyal yang sulit ditandingi, yakni Slankers yang fanatik. Slank juga membuktikan, diujung tahun 2013 Slank memiliki 3 event yang booming : merilis album gres, film bioskop keduanya beredar dan Desember 2013, menandai ultahnya ke 30, Slank menggelar Konser Slank Nggak Ada Matinya di Stadion Utama Senayan yang dihadiri lebih 30.000 Slankers dan 2 Menteri (Menteri Perdagangan Gita Wiryawan dan Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo) serta  Gubernur DKI Jokowi.

Kekuatan indie Slank akhirnya memberi inspirasi bagi banyak artis lain, untuk memilih independent tak mau diatur label rekaman, mereka adalah para kampiun GIGI – membuat rekaman di Abbey Road Studio London -,  Iwan Fals ( punya Oi, Januari 2014 akan membuat Konser Tunggal di Medan  ), Glenn Fredly, /rif,……

Artis indie lain yang kondang namanya adalah White Shoes and the Couples Company, Efek Rumah Kaca, Koil, Tengkorak, Betrayer, Mocca, Endank Soekamti, Shaggy Dog, dan sangat banyak lainnya. Sebagai pemilik spirit kebebasan, genre music indie juga sangat beragam.

Anda boleh menikmati musik indie anak muda yang memakai software gamelan Bali, Sunda, suling Padang pada grup Parisude yang didukung Lembaga Pendidikan Musik Purwa Caraka. Bisa menikmati lagu dengan vocal eksploratif dan imajinatif dari Ubiet yang berkolaborasi dengan Dian HP, juga yang agak jazzy seperti Mocca, atau ‘pop masalalu’ dan elektronika, atau rock yang cukup kencang macam Koil.

Duo Endah Rhesa juga bentuk kekuatan komunitas indie. Di Indonesia, label rekaman yang menaungi indie antaralain D’Majors, Catz Records, Platinum, Roltrevore Records, dulu juga ( pernah ) populer nama Aksara…..

Para Pejuang Perempuan

Setidaknya ada dua nama perempuan musisi dan penyanyi Indonesia yang layak disebut pejuang tangguh, kerena keyakinannya menaklukkan dunia dan berani melangkah jauh, melabihi bayangan orang banyak. Walapun keduanya berbeda era, yakni Anggun Sasmi berangkat ke Eropa dan langsung ditangani manajemen asing, menetap di Italia, dan berkarier internasional, tanpa memakai bantuan teknoligi ( jaman Anggun belum ada internet, FB, twitter,  youtube dan lain lain ), tapi spirit Anggun adaklah spirit spartan. Di Eropa ia belajar menulis lagu sendiri, dan tampil dalam figur Timur yang berkarakter, dan Anggun berhasil.

Agnes Monica adalah artis masakini yang lahir di era multi media, hanya bermodal awal website pribadinya, tahun 2010 Agnes terpilih menjadi host red carpet American Music Awards, dan sejak saat itulah Agnes mulai berambisi besar untuk menaklukkan dunia, ia berhasil berduet dengan sejumah musisi Kanada dan Amerika, sampai akhirnya diproduseri oleh komposer Timbaland dan merilis single ‘Coke Bottle’ September 2013  dan pusat promonya di Los Angeles…….

Musik Indonesia menjadi pasang surut karena era yang berubah ubah. RBT tumbang, berganti dengan era digital yang mengandalkan kekuatan promo melalui sosial media. Dulu tak pernah terbayangkan orang bebas men-download lagu tanpa seijin penciptanya, kini para musisi membiarkan karyanya dibajak, dengan cara mengunggah karya barunya melalui youtube, FB.

Kini yang diburu popularitas, yang ujungnya banyak manggung dan itu brarti : profit. Sementara itu penjualan dengan sistem bandling , beli ayam dapat CD dianggap gak tabu, juga masih ada di KFC meski tak segencar dulu.

Sementara itu, Indomaret sudah hampir 2 tahun ini membuka label rekaman dan menjadi Produser Eksekutif, banyak artisnya yang ditangani Trie Utami sebagai Produser Musik.

Jaman memang sudah berubah, untuk jagad Musik Indonesia jadi beda. Yang dulu dianggap tabu dan dihindari,  kini menjadi sah-sah saja….( Bens Leo buat Kuliah Terbuka di Kampus UI, dan Metro TV 28 Januari 2014 )

 More Pictures :

 

 

Last modified on Thursday, 16 January 2014 08:46
Login to post comments