Otokritik pada World Ethnic Music Festival 2013

03 December 2013

Tidak mudah membuat kegiatan Seni Budaya berskala Internasional. Apalagi jika barkaitan dengan Seni Budaya, lebih khusus lagi Seni Musik Ethnic. Adalah Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) yang menerima mandat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggelar acara World Ethnic Music Festival, bagian dari kegiatan World Culture Forum yang digelar di GWK Bali, 24 November 2013

 Bens LeoRapat-rapat awal di Kemendikbud dimulai sejak awal tahun 2013. Dharma Oratmangun – Ketua Umum KCI – bertanggung jawab pada sukses event Musik Internasional yang bersifat non-kompetitif ini. Rapat lebih intens dibahas sejak Juli 2013, dengan melibatkan banyak narasumber, buat memformulasikan tema, judul dan materi acara,

Gagasan paling luhur yang sejak awal dicanangkan Kemendikbud adalah, Indonesia harus menjadi basis segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan. Lebih-lebih jika bicara tentang  kebudayaan ‘daerah’, lebih khusus lagi musik etnik. Menurut etnomusikolog Franki Raden, tak ada satupun negara di dunia yang bisa menyamai Indonesia jika dikaitkan dengan seni etnik-nya. Dengan jumlah Provinsi 34 ( termasuk Provinsi baru Kalimantan Utara ), maka Indonesia adalah sorga dunia seni etnik.

Istilah World Music muncul kemudian, tatkala ada upaya besar memadukan  musik etnik dengan musik modern, baik melalui nada maupun intrumennya. Mempertemukan budaya Timur dan Barat.               

Nama-nama Guruh Soekarno dengan Guruh Gipsy, Gong 2000 yang memadu musik rock dengan gamelan Bali pimpinan Kompang Raka, Dwiki Dharmawan yang berawal dengan Krakatau, dan membawa angklung Mang Ujo ke panggung Java Jazz. Viky Sianipar dengan Eksplorasi Musik Batak dan Franki Raden dengan Orkes Nusantara, juga etnomusikolog Rizaldi Siagian, alm Ben Pasaribu dari Medan Dasri Bali ada  Ayu Laksmi dan Swara Semesta, sedang  alm. Sapto Rahardjo dengan Festival Gamelan –nya di Yogya, Djaduk Ferianto yang kondang dengan Orkes Sinten Remen dan Quaetnika-nya ( Yogya ) adalah bagian kecil dari para musisi yang peduli pada kekayaan Nusantara dan mengangkatnya ke tingkat dunia.

Pada rapat-rapat awal berlangsung di Kemendikbud, sejatinya dengan mudah para peserta rapat bisa melihat ‘medan yang akan dilalui’ sebuah event musik Internasional yang kemudian dikasih nama World Ethnic Music Festival. Dalam intern Panitia inti di Jakarta, anggota steering committee hanya 4 orang, mereka adalah Enteng Tanamal, Dharma Oratmangun, Franki Raden dan Bens Leo.

Jalur-jalur pergaulan Internasional dalam musik etnik, Franki yang sangat menguasai petanya, apalagi lebih 5 tahun terakhir Franki Raden memilih tinggal di Ubud Bali, untuk mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan musik, termasuk musik etnik.

Bens ditugasi memetakan dan mengusulkan, siapa gerangan musisi Indonesia yang layak mewakili negara yang multi etnis dan budaya ini ke World Ethnic Music Festival. Akhir September, di Bali, Bens berjumpa dengan Balawan yang sedang menyaksikan Sanur Village Festival, yang – Antaralain diisi oleh anak-anak Jepang yang menetap di Bali menari dengan aneka aksesori Jepangnya. Balawan – menurut Bens layak dilbatkan.

Bens juga berfikir pada kekuatan Viky Sianipar dan Ayu Laksmi. Referensi karya 2 musisi eksploratif ini mudah ditemui di google, youtube atau sosial media lainnya, “Saya juga amat menikmati karya Ayu Laksmi di Bentara Budaya Jakarta dan Bali juga pergelaran Ayu Laksmi dan Swara Semesta  di Java Jazz,” kata Bens.

Di Bali, bersama Franki Raden dan pemilik hotel Legian Village, Agung Sujana, Franki dan Bens berkunjung ke Rumah Wayang dan Topeng di Ubud. Tempat ini view- nya bagus, nuansa Bali-nya kuat, ada ruang pergelaran indoor dengan kapasitas 200 orang, dan ruang indoor lain yang hanya memuat 75 orang, venue ini biasa dipakai Franki Raden bergaul dengan musisi indie asing ( luar Indonesia), untuk perform, berinteraksi dengan apresiatornya. Rumah Wayang juga memiliki amphi teater dengan view pohon kelapa dan sawah bergaya subak, indah.

Topeng Ubud.  Pada akhir rapat mengerucut menggugurkan Viky dan grupnya, karena masalah teknis latihan yang jauh – Jakarta dan Bali, dan memastikan  memasukkan nama Ayu Laksmi dan Swara Semesta dengan Balawan sebagai creator melalui sound gitar-nya.

Gagasan cerdas datang dari Dharma Oratmangun, “Untuk menguatkan citra Indonesia sebagai pusat peradaban musik etnik Dunia, kita harus siapkan sesuatu yang besar, yakni Kesepakatan Bali para Delegasi Musik Etnik  dan mendirikan Prasasti Musik Etnik di Bali,“ kata Dharma. Dharma juga menggarap musik baru, sebagai pengawal tarian dengan basic etnik Tanimbar, Maluku. Enteng Tanamal bertugas sebagai supervisor semua aktivitas ini.

Tugas paling penting ada di tangan Franki Raden, karena harus menghubungi musisi 9 negara luar yang memiliki kekuatan musik etnik dengan musisi yang eksploratif. Akhirnya diputuskan memilih wakil dari India, Cina, Korea Selatan, Australia, Iran, Burkina Faso ( Afrika ), Amerika dan Rusia.

Dalam technical meeting peserta, lumayan banyak masalah yang muncul. Musisi Burkina Faso misalnya, dari Afrika transit di Hongkong, beberapa musisinya keluar dari airport, tak bisa masuk Hongkong lagi karena tak memiliki visa, akhirnya harus dideportasi, Franki menggabungkan sisa musisi Afrika itu  dengan musisi dari negara lain.

Rusia tidak menampilkan musisi etnik, tapi diwakili oleh 2 grup, yakni grup rock bernama Indonesia – karena ortu gitarisnya pernah tinggal di Indonesia - yang mereka sebut dengen Russian Rock Band, dan trio penyanyi yang masih belajar di konservatorium musik Moscow. Problem lain yang tak kalah seru adalah, gagalnya pawang meredam hujan, baik waktu masih gladi resik tanggal 24 November maupun pada saat pergelaran 10 negara pada tanggal 25 dan 26 November.

Hujan yang mengganggu penampilan peserta hari pertama, memaksa Panitia menghentikan acara hanya sampai performer ketiga, tujuh negara lainnya urung tampil di hari pertama festival yang digelar di Art Centre Denpasar yang outdoor. Hari kedua tanggal 26 November, hujan yang mengguyur Denpasar dan setting alat musik yang tidak sempat dilakukan GR hari sebelumnya, menjadikan acara molor, dan festival music berakhir di atas pukul 02.00 WITA, padahal rundown acara tertulis, World Ethnic Music Festival harus berakhir pada pukul 00.00 WITA saban harinya. 

Selesai makan siang di sebuah restoran di Tanah Lot, yang dijamu Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, S.Sos, Dharma dan Bupati menunjukkan tempat Prasasti World Ethnic Music Akan dibangun. Dari sini, rombongan bergerak menuju ke area farewell party di Rumah Wayang dan Topeng di Ubud.

Sayang acara jam session yang rencananya akan digelar usai makan malam, terlambat dimulai karena lampu venue mati sepanjang 2 jam. Jam session akhirnya sempat dilakukan di salah satu ruang Rumah Wayang, melibatkan beberapa musisi dari sekitar 5 negara, main bas, drum dan perkusi. Panggung Amphi Teater sempat diisi oleh penampilan tari 60 anak-anak Jepang yang tergabung dalam Japanese Kids Dancer, Tari Bali dan main angklung bersama dipimpin team pelatih Angklung Mang Ujo dari Bandung. 

More Picture

 

 

Last modified on Tuesday, 03 December 2013 12:36
Login to post comments