Seminar Indonesia Tourism Outlook : Prospek & Tantangan sama Besar di Pariwisata

03 November 2017

Seminar Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018 digelar Ballroom Hotel DoubleTree by Hilton, Jakarta, Rabu (1/11/2017). Acara  yang diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan (industri wisata, Kemenpar, akademisi, wartawan/blogger) ini, menghadirkan pembicara antara lain Menteri Pariwisata Arief Yahya (sebagai pembicara kunci), pengamat ekonomi Faisal Basri, Senior Vice-President, Government and Industry Affairs, World Travel and Tourism Council World Travel & Tourism Council Helen Marano, dan Head of Destination Marketing APAC, TripAdvisor Sarah Mathew.

 

ITO yang diinisiasi oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) dan didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini dibuat sebagai upaya untuk menganalisis prospek, peluang, dan mengumpulkan masukan dari berbagai pihak menuju optimisme tercapainya target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019.  
Sebagai inisiator dan penyelenggara ITO, Forwapar, Fatkhurrohim, mengatakan ITO diharapkan dapat menjadi ajang untuk mengetahui dan memprediksikan peluang pariwisata di 2018 dan berbagai program pariwisata yang harus digenjot pada tahun depan. "Karena itu Forum Wartawan Pariwisata sebagai bagian dari sinergi pentahelix pariwisata sangat concern terhadap haI tersebut. Untuk itu, Forwapar menyelenggarakan seminar Indonesia Tourism Outlook Pariwisata 2018 sebagai ajang berbagi informasi dan diskusi dalam rangka mendorong pertumbuhan Pariwisata Indonesia

Dalam paparannya, Menteri  Pariwisata,   Arief Yahya menyebut Pariwisata Indonesia memiliki potensi dan prospek yang sangat besar,  namun tantangan yang dihadapinya juga tak kalah besar. Sekurangnya ada tiga big challenge yang dihadapi pariwisata Indonesia ke depan yaitu enviromental ,sustainability, digital tourism. dan soal kelembagaan atau regulasi. “Ketiganya itu big challenge dan mau tidak mau harus kita hadapi. Apalagi target 18 juta wisman pada tahun 2018 harus dicapai,” ujar Arief Yahya.


Untuk menghadapi tantangan itu, menurut Arief Yahya dibutuhkan pemikiran, langkah strategis, dan kerja ekstra keras. “Saya sendiri kadang tak sempat tidur untuk merealisasikan pencapaian itu,” ungkapnya.

Menurut Arief Yahya tantangan dalam hal enviromental sustainability misalnya destinasi wisata Indonesia masih kerap mendapat sorotan dan kritikan terkait pelestarian.  “Indonesia dianggap tidak peduli dengan kelestarian alam. Buktinya indek daya saing yang mengacu pada standar global yakni Travel and Tourism Competitive Index atau TTCI menyatakan rapor pariwisata Indonesia dari sisi Environment Sustainability masih berada di peringkat 131 dari 136 negara,” terangnya.

Terkait digital tourism, penerapannya menjadi sebuah keharusan sebagai strategi untuk merebut pasar dalam persaingan global. Hal ini dikarenakan kondisi pasar wisata sudah berubah belakangan ini.  Arief menyebut hampir 63% transaksi jasa travel dilakukan secara online. Jika travel biro tidak segera menyesuaikan diri ke digital atau tetap konvensional maka nasibnya akan seperti wartel, kandas. “Tak ada pilihan, digital tourism menjadi strategi yang harus dilakukan untuk merebut pasar global khususnya pada 12 fokus pasar yang tersebar di 26 negara,” ungkapnya.

Challenge berikutnya, soal regulasi pemerintah. Jumlah regulasi di Indonesia sekarang ini ada 42.000 regulasi, dan itu sangat menyulitkan pengembangan pariwisata.  Kata Arief Yahya jumlah sebanyak itu bukan menurut dia, melainkan hitungan Presiden Joko Widodo sendiri.  “Kalau pariwisata Indonesia ingin lebih maju, tak ada cara lain selain dengan melakukan deregulasi,” ungkapnya.  Sampai saat ini, sambung Arief Yahya sudah tiga regulasi signfikan yang telah diterapkan, diantaranya pemberlakukan visa free, penyederhanaan perizinan yacht atau kebijakan CAIT, dan Cruise Cabotage Principle.

Menurut Arief Yahya lagi, untungnya Indonesia memiliki Presiden Joko Widodo yang berkomitmen dan berkonsentrasi di sektor pariwisata, sekaligus menjadikan pariwisata sebagai leading sector sebagai andalan penyumbang devisa negara yang sangat besar.

Pengamat ekonomi Faisal Basri  menilai Pariwisata Indonesia perlu melakukan diversifikasi destinasi atau tujuan wisata untuk menekan kemungkinan tingginya jumlah wisatawan dari dalam negeri untuk liburan ke luar negeri.  “Pariwisata dapat dikatakan sebagai primadona baru yang pada 2018-2019 diproyeksikan pertumbuhan outbond lebih tinggi. Oleh karena itu diversifikasi tujuan wisata dan peningkatan daya tariknya sangat penting untuk meredam fenomena tersebut, selain itu penentuan harga dan keseimbangan outbond-inbound," kata Faisal.

Helen Marano Senior Vice-President, Government and Industry Affairs, World Travel and Tourism Council - World Travel & Tourism Council (WTTC) juga mengatakan;  “Indonesia memiliki potensi yang besar namun memiliki pekerjaan rumah di antaranya untuk mendistribusikan jumlah traveller secara lebih merata.Selain juga perlu mengedukasi pelaku industri pariwisata konvensional mengarah pada digital marketing," katanya.

Sementara Head of Destination Marketing Asia Pacific TripAdvisor Sarah Mathew mengatakan potensi dan prospek pariwisata semakin tampak cerah dimana pihaknya mencatat dalam setahun terakhir ada peningkatan 30 persen traveller yang memilih Asia Pasifik termasuk Indonesia sebagai destinasi wisata.

Sebagaimana disampaikan praktisi marketing Yuswohady bahwa era "leisure economy" sudah menjelang ketika masyarakat beralih untuk membeli produk ke membeli "pengalaman" maka dari situlah kemudian pariwisata menjadi sektor yang amat prospektif untuk dikembangkan. XPOSEINDONESIA Foto dan Teks : Dudut Suhendra Putra

More Pictures






 

Last modified on Friday, 03 November 2017 06:05
Login to post comments