Festival Baduy 2016 Cemerlang Tapi Kurang Pengunjung

07 November 2016

"Festival Baduy" yang menampilkan berbagai produk kerajinan masyarakat suku terasing di pedalaman Kabupaten Lebak terlihat sepi pengunjung. Padahal,  Ketua Festival Baduy, Sarpin via ANTARA sudah memperkirakan dalam dua hari terakhir, “pengunjung wisatawan yang datang akan mencapai 2.000 orang," katanya Lebak, Sabtu.

 

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Lebak, Hayat Syahida via ANTARA mengatakan, Festival Baduy merupakan ajang pariwisata budaya masyarakat terasing di Provinsi Banten. Festival yang baru pertama kali digelar di kawasan hak tanah ulayat masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak ini bertujuan menarik wisatawan domestik dan mancanagara itu berlangsung dari 4-6 November 2016.

Acara yang dibuka oleh Bupati Lebak Iti Oktavia Jayabaya tersebut difokuskan sebagai sarana promosi dari berbagai produk kerajinan masyarakat Baduy antara lain tenun, pakaian batik, golok, samping, lomar, aneka souvenir,gula aren  juga madu.

Pada kawasan seluas 5.100 hektar, masyarakat Baduy hidup damai di tengah penduduk mereka yang berjumlah 11.600 jiwa. Mereka  tinggal menetap di  bagian dalam dan luar. Mereka hidup dengan pola tradisional dan menghormati adat budaya nenek moyang. Antara lain,  mereka yang tinggal di dalam  tidak diperbolehkan naik kendaraan, tidak menggunakan barang elektronik, dan tidak mengenakan perhiasan  bagi perempuan.

Dalam festival ini, perajin tenun dari dalam dan luar Baduy  bertemu dan memamerkan karya di Desa Kanekes. Dalam keseharian masyarakat Baduy, ada tradisi meletakan alat tenun di teras rumah. “Ini salah satu keistimewaan di Baduy. Para perempuan dan anak-anak biasa menenun. Anak perempuan memulai kegiatan tenun sejak usai 12 tahun!” ungkap Rasudin,  kepala warga Desa Kade Ketuk, Kecamatan Leuwidamar, Lebak Banten. 

Doddy (48) wisatawan asal Rangkas Bitung, memuji terlaksananya Festival Baduy,  terutama karena ia bisa melihat dari dekat  proses menenun. “Bahkan juga melihat cara proses pewarnaan benang dengan menggunakan warna-warna dari bahan alam. “Saya baru tahu, kulit dan batang pohon bisa jadi warna yang memikat,” katanya.

Sementara itu Saidam (30 tahun), warga Kadeketuk yang mengupayakan  proses pewarnaan alam untuk  bahan  tenun yang ditenun isterinya, menyebut proses pewarnaan dengan bahan alami makin marak dilakukan. “Dulu,  benang hanya digunakan wana dasar hitam dan biru. Kini, hampir semua bahan alami dari tumbu-tumbuhan bisa kita gunakan. Dan hasilnya,  warna tenun Baduy juga  mengalami perkembangan. “Warna-warna alam ini memang memikat para pengunjung  Festival Baduy,” katanya sambil menyebut sepanjang acara festival karya tenunnya yang berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 1 Juta Rupiah, laku sebanyak 7 lembar.

Sayangnya Festival Baduy yang dirancang untuk lebih menggerakan perekonomian masyarakat Baduy itu tak sepenuhnya berjalan sempurna. Jumlah pengunjung tidak seperti  yang ditargetkan. “Mungkin, acara ini kurang dipromosikan. Dan orang datang ke Baduy langsung menuju ke  desa wisata,  seperti ke Gajeboh, Kadeketuk dan Baduy Dalam tanpa singgah  di tempat acara festival yang berlokasi 100 m dari pintu gerbang utama Baduy,” ujar Agung, yang memipin rombongan wisata dari Sukabumi. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Dudut Suhendra Putra dan Muhamad Ihsan

More Pictures

 

More

More

Last modified on Monday, 07 November 2016 11:07
Login to post comments