Wonderful Ambon - Mengangkat Potensi Wisata dari Akar Rumput

13 July 2016

Sudah cukup lama kita menyadari bahwa bumi nusantara sarat dan kaya akan potensi alam, seni dan budaya, serta beragam kuliner. Semua dapat kita temukan diseluruh penjuru negeri ini. Namun apakah semuanya terekspos dengan baik sampai kepermukaan? Bisa dibilang tidak, meskipun memang ada beberapa tempat yang mampu mempesona dan menarik wisatawan mancanegara.

Berbicara potensi wisata yang juga mencakup semua hal menarik yang selalu dicari oleh para pemuja keindahan alam, nama Maluku tak bisa dikesampingkan begitu saja. Daerah yang memiliki segala macam potensi alam dan budaya yang bisa menarik minat besar wisatawan ini belum tergarap maksimal.

Tak bisa dipungkiri begitu saja, bahwa handicap yang terjadi sebenarnya sebelas duabelas dengan daerah lain. Seperti tidak maksimalnya Pemda setempat dalam mengelola potensi daerah masing-masing, ditambah lemahnya daya saing masyarakat setempat untuk memanfaatkan kelebihan daerahnya secara luas.

Merujuk kepada hal tersebut, Yayasan Citra Kasih Abadi (CKA) bekerjasama dengan komunitas Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) mencanangkan program Wonderful Ambon yang segera dimulai pada 15 Juli 2016. Program ini akan berjalan selama setahun dengan mengambil konsentrasi di desa Tihulale, Maluku Selatan. Kedua yayasan tersebut mencoba merubah paradigma yang terjadi selama ini dengan mengembangkan dan membentuk jiwa entrepreneurship di industri pariwisata di Maluku. 

Project Lead CKA Wonderful Ambon, Melly Utami dalam penjelasannya pada Selasa (12/7) kemarin di Ancol, Jakarta mengatakan, CKA melihat potensi alam Maluku yang indah, latar belakang kekayaan budaya setempat, kekayaan laut dan kulinernya yang masih belum diangkat menjadi tujuan dan daya tarik wisata dunia. Untuk itu pihaknya ingin dapat menggali potensi wisata Maluku dengan melibatkan penduduk lokal.

“Tujuan dari Wonderful Ambon adalah meningkatkan potensi pariwisata dengan skema active involvement yaitu melibatkan masyarakat secara langsung,” tambahnya lagi.

Gratia Sidabutar selaku perwakilan dari AIESEC menjelaskan, ada 20 orang tenaga intership internasional dari beberapa negara akan terlibat selama dua bulan ini. Mereka akan membantu memberi bimbingan dan mengembangkan masyarakat untuk menjadi pengusaha di bidang pariwisata dimulai dengan pelatihan bahasa Inggris, hingga pembimbingan pengelolaan industri F&B. Tujuannya agar para penduduk dan pengusaha wisata lokal memiliki standar managemen berskala international.

Lewat sebuah penerapan khusus, penduduk lokal akan dimotivasi untuk menekuni beberapa bidang, antara lain menjadikan pengusaha homestay dirumah mereka masing-masing. Selanjutnya menjadi pengusaha makanan untuk menunjang konsep tujuan wisata kuliner lokal. Terakhir adalah sebagai pengusaha cendera mata.

Hal senada juga disampaikan oleh Roy Darmawan, Tim Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, bahwa persaingan makin kuat dalam kemajuan teknologi saat ini. Kompetisi yang terus meningkat, dan yang bisa menangkap peluang, beradaptasi, serta berkarya di di dunia global akan menjadi pemenang.

Selain program ini, CKA juga berencana akan melanjutkan upaya yang sama pada tujuan wisata terbaru yang masih belum banyak terjamah seperti di Pulau Kei yang memiliki pantai eksotik dan daerah pegunungan di pulau Buru./ XPOSE INDONESIA – AM Foto: Dudut Suhendra Putra.

More Pictures

Last modified on Wednesday, 13 July 2016 11:04
Login to post comments