Candi Sukuh Erotisme masa lalu dari kaki Gunung Lawu

02 October 2013

Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang secara administrasi terletak di wilayah kelurahan Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah.

Dilihat dari tahun pembuatannya pada tahun 1437 M, Candi Sukuh merupakan candi Hindu termuda di Indonesia. Candi ini dibangun pada era kejatuhan Majapahit yang didesak oleh bala tentara Islam Kesultanan Demak. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni.

Candi yang berada diketinggian 910 meter di atas permukaan laut ini, termasuk  kontroversial karena bentuk dan arsitekturnya yang kurang lazim. Bentuknya yang berupa trapesium memang tak lazim seperti umumnya candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru.

Juga dengan banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Candi yang dibangun sekitar abad ke-15  ini tetap meninggalkan bentuk kokoh. Sejak tahun 1995, candi ini telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia.

Situs candi yang dibangun oleh masyarakat Hindu Tantrayana ini ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya ‘The History of Java’. Kemudian pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berkewarganegaraan Belanda, meneliti sisa-sisa bangunan tersebut. Dilanjutkan pada tahun 1864 – 1867, Hoepermans menulis tentang candi ini. Inventarisasi dilakukan oleh Knebel pada 1910 dan pemugaran dilakukan tahun 1928.

Banyaknya patung ataupun relief lingga dan yoni baik secara simbol-simbol maupun natural menjadikan situs ini menjadi candi paling erotis di seluruh dunia. Seperti yang terlihat dari patung seorang lelaki tanpa kepala sedang melakukan onani atau sebuah pahatan berbentuk rahim perempuan dengan pahatan-pahatan relief  dua sisi.  Bagian kiri menggambarkan manusia yang lahir dengan sifat dan perilaku baik, sedangkan bagian kanan sebaliknya.

Candi Sukuh terdiri dari tiga teras yang masing-masing dibatasi pagar. Pada teras pertama terdapat gapura berbentuk trapesium dengan pintu masuk di tengahnya. Kepala raksasa menghiasi bagian atas pintu masuk. Pada lantainya terdapat relief phallus dan vagina. Pada gapura ini ada sebuah Candrasangkala dalam Bahasa Jawa yang berbunyi Gapura Buta Abara Wong yang artinya adalah ‘Gapura Sang Raksasa Memangsa Manusia’. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Di lantai dasar gapura ini, terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Relief ini mirip lingga - yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Siwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan.

Relief tersebut sengaja dipahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar bagi siapa saja yang melangkahi relief tersebut maka segala kotoran yang melekat di badannya menjadi sirna sebab sudah terkena ‘Suwuk’. Untuk saat ini, demi menjaga dari hal – hal yang tidak diinginkan, terdapat pagar besi yang menghalangi kita untuk melewatinya, kita hanya dapat melihat relief tersebut dari balik pintu besi itu saja.

Di teras kedua, terdapat patung Dwarapala atau penjaga pintu. Selain patung penjaga pintu terdapat batu berupa umpak dengan relief penunggang kuda dengan payung kebesaran, empat sapi dan seseorang yang mengendarai gajah. Masing-masing relief dipahatkan pada balok batu yang diletakkan di atas pondasi batu. Gapura pada teras kedua sudah rusak dan tidak beratap.

Pada gapura tersebut terdapat Candrasangkala berbunyi Gajah Wiku Anahut Buntut, yang memiliki makna 8, 7, 3, 1 sehingga jika dibalik akan didapatkan angka tahun 1378 Saka atau 1456 M. Jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir dua puluh tahun dengan gapura di teras pertama.
 
Sementara di bagian teratas, yakni di teras ketiga, berisi candi induk dengan pelataran besar dan beberapa relief di sebelah kiri dan dua buah patung di sebelah kanan. Candi induk menghadap ke barat dengan bentuk piramida terpancung. Pada bagian tengahnya ada tangga menuju ke altar di atas. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Dua buah patung yang terletak di sebelah kanan adalah patung - patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta, di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian.

Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta. Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masih sering dipergunakan untuk bersembahyang.

Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief di bagian kiri depan candi induk diidentifikasi merupakan relief cerita Kidung Sudhamala. Sudhamala adalah salah satu dari 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudhamala, sebab Sadewa telah berhasil “merawat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “merawat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari kayangan bernama Bethari Uma.

Untuk sampai ke Candi Sukuh ini pengunjung harus menempuh jarak kurang lebih 20 km dari kota Karanganyar, 36 km dari Surakarta, dan 65 km di sebelah timur laut Kota Yogyakarta. Lokasi Candi Sukuh juga berdekatan dengan lokasi situs Candi Cetho dan beberapa lokasi air terjun. Jumog, merupakan air terjun yang paling dekat dengan Candi Sukuh. Selain itu ada juga air terjun Parang Ijo kurang lebih 2 km dari pertigaan Nglorok. Jika masih memiliki waktu, kita dapat mengunjungi air terjun di Tawangmangu yang lebih besar dan lebih terkenal.

Untuk ke Candi Sukuh cukup membayar Rp 5.000,-. Harga tiket untuk memasuki Candi Sukuh adalah Rp. 2.500,- untuk wisatawan lokal dan Rp. 10.000, - untuk wisatawan mancanegara. / Indrawan Ibonk (dari berbagai sumber)

More Pictures

Last modified on Friday, 03 January 2014 19:41
Login to post comments