Isu Seksi dari ‘Kongres Musik Indonesia 1’

14 March 2018

“Keluarga Koeswoyo selama ini gak terlalu berfikir masalah royalti, lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus bisa memberi kebahagiaan dan menghidupi keluarga musisi pengcover lagu kami, itu sudah merupakan kebahagiaan bagi Keluarga Koeswoyo,” kata Yok Koeswoyo, suatu hari. Bagaimana memahami ‘kebaikan’ bassist Koes Bros / Koes Plus dalam kaitannya dengan upaya penghentian pelanggaran Karya Cipta Musik?

 

Isu Seksi UU Hak Cipta

Dalam Kongres Musik Indonesia 1 yang digelar di Ambon, 7 – 9 Maret 2018 itu, meski pelanggaran Hak Cipta tidak menjadi issue utama, namun jika dikaitkan dengan upaya insan musik dan Pemerintah untuk memperbaiki kesejahteraan musisi lewat pemberian royalti yang transparan dan berkeadilan atas karya cipta musik, baik untuk Pencipta Lagu,  Lirikus dan Penata Musik / Arranger-nya maupun Hak Terkait (player : Pemain Bas Gitar, Gitaris, Keyboardist, Drummer, dan pemain instrumen musik lain plus Vokalis / Penyanyi ) tetap saja menjadi isu seksi.

“Itu pula sebabnya, saya selalu menganjurkan agar musisi aktif mendaftarkan karya ciptanya pada LMK atau LMKN, hingga menjadi anggotanya, bisa memperbaiki database yang mulai dibuat Pemerintah. Dari sana LMK dapat meng-collect royalti dan mendistribusikannya pada anggota LMK, “ saran Candra Darusman, pejabat WIPO yang berkantor di Singapura.

LMK (Lembaga Manajemen Kolektif ) adalah badan yang dibentuk Insan Musik, biasanya berbadan hukum Yayasan, ‘tugasnya’ menarik pembayaran royalti dari para user ( pemakai ) lagu, dari lagu-lagu yang telah didaftarkan para Pencipta Lagu pada LMK, dan kemudian secara berkala, biasanya satu tahun sekali, royalti itu diberikan pada para Pencipta Lagu, Lirikus, Panata Musik dan Pemain Musik dan Penyayi. Di Indonesia ada 8 LMK, dan Pemerintah membangun LMKN yang awalnya diharapkan sebagai ‘tempat pengutipan royalti satu pintu’. 

Sementara Anggota Komisi X DPR Anang Hermansyah yang juga leader dan vokalis Kidnap Katrina menganggap kesadaran para Pencipta Lagu untuk ‘menuntut hak dan kewajibannya’ menjadi superpenting. Itu pula sebabnya, Anang menjadi tuan rumah yang baik, tatkala rombongan musisi dan pekerja seni di bawah komando Glenn Fredly  berbondong-bondong mendatangi Gedung DPR Senayan, September 2017, mengajukan petisi digelarnya percepatan pembahasan RUU Permusikan. "Kami di DPR terus berjuang untuk mensejahterakan musisi, salah satunya adalah membahas RUU Permusikan secepatnya,“ kata musisi asal Jember itu. 

Menkeu Sri Mulyani : Gedung Konser

Sebagai keynote speaker, Menteri Keuangan Sri Mulyani membuka acara dengan menganjurkan agar Bekraf dan pihak terkait dengan musik bisa membangun gedung pertunjukan di 34 Provinsi, tentu saja nantinya akan didampingi dengan pembangunan studio latihan dan rekaman. Menteri Sri Mulyani yang menulis lagu ‘Srikandi’ bersama Kadri Mohamad ini menganggap penting pembangunan gedung konser dan sarana lainnya sebagai tempat para musisi dan pekerja seni lainnya menampilkan karyanya dan berinteraksi dengan publik, terutama seniman lokal. 

Sri Mulyani juga menyinggung masalah pengenaan pajak pada seniman, yang hasil akhirnya juga buat kepentingan pembangunan, termasuk sarana berkesenian.

Ketua Bekraf Triawan Munaf bersama stafnya – antaralain Ari Juliano Gema - sepakat untuk membantu seniman musik berkarya, membuat database musisi-penyanyi, termasuk memfasilitasi musisi berinteraksi dengan  komunitas musik dunia, salah satu diantaranya dengan ikut mendanai keikut sertaan musisi Indonesia mengikuti workshop dan festival musik di Luar Negeri. 

Di era Kabinet SBY, urusan keberangkatan musisi / pekerja seni ke LN mengikuti workshop, festival seni, diplomasi budaya difasilitasi oleh Kemen Parekraf atau Kemendikbud. Tatkala Bekraf mulai berdiri terpisah dengan Kemenpar pada 3 tahun yang lalu, salah satu tugas Bekraf adalah memfasilitasi kegiatan berkesenian. 

Tahun 2017, Bekraf telah membangun Gedung Pertunjukan dan Studio Rekaman dengan standar internasional di Ambon. Membantu pengadaan beberapa peralatan yang diperlukan Museum Musik Indonesia ( MMI ) di Malang. Membuat kegiatan workshop musik di 6 titik kota di Jawa dan Luar Jawa yang dikoordinasi oleh pengamat musik Buddy ACe, dan membuat aktivitas seminar, mengirim delegasi pekerja film Indonesia ke luar negeri. 

Maret 2018 Bekraf menjanjikan memberangkatkan 5 anggota grup indie Efek Rumah Kaca untuk mengikuti festival musik South by Southwest ( SXSW ) di Amerika, tapi karena ketiadaan ‘titik temu’ tentang harga ticket yang ditemukan di online lebih murah dibanding harga ticket yang harus dibeli Bekraf melalui agen yang ditunjuk, akhirnya Efek Rumah Kaca terbang ke SXSW Festival di Amerika atas biaya sendiri pada Senin 12 Maret yang lalu. (Semoga kasus macam ini tidak terjadi lagi, apalagi untuk program Diplomasi Budaya ).

Dari kalangan pejabat negara, hadir dan ikut bicara pada Kongres Musik Indonesia 2018 Menteri Kominfo Rudiantara,  wakil dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Hukum dan HAM, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Dubes RI untuk RRC Djauhari Oratmangun dan wakil dari Kemenpar. 

Musik sebagai Sarana Pendidikan 

Hal lain yang juga mengemuka dalam diskusi kelompok, yakni musik sebagai sarana Pendidikan /Edukasi. Bedi Gunawan dari manajemen Kahitna mengemukakan, betapa sulitnya mendapatkan ijin membuka Lembaga Pendidikan Musik, dalam bentuk kursus belajar musik. Jika mengajukan ijin di Kemendikbud, Lembaga Pendidikan Musik (seperti Farabi, Purwa Caraka, Elfa Musik Studio dan sejenisnya), dianggap sama dengan kegiatan kursus lainnya seperti kursus merangkai bunga, memasak, menjahit dan sejenisnya, “Padahal kursus main musik adalah sarana edukasi, yang unggul bisa menjadi diplomat wisata, “ ujar Bedi.

Bens Leo menyambung, “Lembaga Pendidikan Musik yang non-formal diluar ISI atau IKJ juga harus memenuhi kaidah kualitas, instrukturnya harus bersertifikat, berstandard guru musik, tidak sekadar pemain band lalu dibolehkan mengajar.”

Di luar Lembaga Pendidikan Musik berbentuk ‘kursus’, Bekraf juga meminta masukan, agar  SMK Seni di pulau Jawa dan Luar Jawa jumlahnya seimbang. Data dari BPS menyebut, jumlah SMK Seni diluar Jawa bisa jadi hanya seperlima dari jumlah SMK Seni di Pulau Jawa, “Jika perlu, bangun juga SMA Musik, bukan sekadar SMK,” usul Gita Gutawa, Sarjana S2 Seni lulusan Inggris

Musik sebagai Diplomasi Budaya

Pada Kongres Musik Indonesia 1, juga mengemuka  pentingnya Diplomasi Budaya yang tertata jelas melalui penunjukan Dubes RI di negara-negara ‘superpower dan penting’ seperti di Amerika, China, Jepang, Rusia, dan beberapa negara di Eropa. Sejak era Kabinet SBY hingga Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, peran Duta Besar bertambah dengan melakukan Diplomasi Budaya. 

Dino Patti Djalal saat menjabat Dubes RI di Amerika Serikat pernah menggelar pertunjukan angklung dengan 5.000 pemain angklung lintas bangsa, agama, ras dengan instruktur angklung dari Saung Angklung Mang Udjo, Bandung. Peristiwa budaya itu masuk dalam Guinness Book of World Record.

KBRI di Wina Austria, menyimpan semua alat musik tradisional dari pelosok Indonesia, agar sewaktu waktu dapat dimainkan oleh warga Indonesia dan WNA yang ingin mempelajari alat musik tradisional Indonesia. 

Penggiat seni Sri Astari Rasjid, ditunjuk menjadi Dubes RI di Bulgaria, Albania dan Macedonia. Dubes Wening Esthyprobo -  Ibu kandung musisi reggae Ras Muhamad, ditunjuk Presiden RI menjabat Duta Besar di Budapest, Hongaria, melalui puteranya, Dubes Wening berkeliling memantau event festival musik di Eropa. Di akhir masa jabatannya sebagai Presiden, SBY menunjuk music lover, pendiri program Java Jazz, Peter Gontha sebagai Dubes RI di Polandia (purna tugas Oktober 2017 ), Peter Gontha sering menggelar acara musik di Warsawa, satu diantaranya membuka kerjasama dengan Dwiki Dharmawan. 

Sementara itu, usai menjabat sebagai Dubes RI di Moscow Rusia, pencinta musik Djauhari Oratmangun oleh Presiden Joko Widodo ditunjuk menjadi Dubes di pos barunya, Beijing dan sebelumnya - penggiat musik country, produser rekaman Ceepee Production Tantowi Yahya sejak April 2017 menduduki posnya di Wellington, melakukan diplomasi budaya melalui musik, kuliner dan seni budaya lainnya di tiga negara penting di kawasan Asia Pasifik, yakni New Zealand, Kerajaan Tonga dan Samoa. Genre musik yang bergaung di negara kecil kawasan Pasifik (diluar New Zealand ) adalah sama dengan musik di Papua dan Maluku.

“Saya siap bekerjasama dengan musisi Indonesia untuk menggelar acara-acara budaya di China, terutama yang berkaitan dengan musik etnik, “ ujar Dubes Djauhari Oratmangun dalam sesi diskusi ‘Kongres Musik Indonesia 1’ di Taman Budaya Ambon, Jumat 9 Maret 2018. Bersama Ketua Umum KCI Dharma Oratmangun, etnomusikolog Franki Raden dan Bens Leo, Djauhari Oratmangun membuka diskusi kecil rencana membuat pergelaran sejenis world music atau orkestra bermateri musik etnik Indonesia, di RRC......

Peran para Jurnalis Musik

Dari kelompok diskusi  jurnalis seni budaya mengemuka usulan dibangunnya media online jurnalis musik, penerbitan buku-buku musik, ensiklopedia musik, biografi musisi penyanyi, dan kemudahan wartawan musik melakukan liputan pertunjukan, mengikuti workshop seni budaya, bahkan bisa menjadi bagian dari aktivitas siaran media radio dan televisi.  

Dari jurnalis televisi, perayaan Hari Musik Nasional 2018 dan Kongres Musik Indonesia 1 itu juga menjadi tempat kegiatan liputan besar tentang musik oleh TVRI, Metro TV (program Idenesia dengan host Yovie Widianto) dan Trans TV (Mata Najwa dengan host Najwa Shihab).

Dengan sigap, sejumlah wartawan TV membuat liputan dan mewawancarai puluhan narasumber paling top di dunia musik, senior yunior, lintas genre seperti Glenn Fredly, Tulus, Slank, Bob Tutupoly, Sundari Sukotjo, Ita Purnamasari, Once Mekel, Chicha, Damon Koeswoyo,  Sari Yok Koeswoyo, Erwin Gutawa, Fariz RM, Tompi, Endah ‘n Rhesa, Djaduk Ferianto, Butet Kertaredjasa, James F. Sundah,  Franki Raden, Andre Hehanussa, Titiek Hamzah, Yovie Nabela, Ermy Kullit, personil Rollies, Gita Gutawa, Sylvia Saartje, Dharma Oratmangun, Johny Maukar, Barry Likumahuwa, Iwa K, The KadriJimmo, Ras Muhamad, kelompok indie Jakarta yang eksploratif Kunokini, wakil dari Institut Musisi Jalanan dan banyak musisi lainnya.

Hadir di Ambon atas inisiatif sendiri, pengamat budaya dari Timor Leste, Kiera Zen dan Iria dos Santos, keduanya ikut menyanyi Indonesia Raya versi 3 Stansa dan menyaksikan performa kelompok musisi lokal Maluku seperti grup orkes bambu. “Saya akan bawa pengalaman berdiskusi dan melihat penampilan musisi Indonesia ini ke Timor Leste. Terima kasih atas persahabatannya yang tulus,” ujar Kiera usai foto dan ngobrol dengan Franki Raden dan Titiek Hamzah

Selaku Ketua Komite Kongres Musik Indonesia, Glenn Fredly yang juga pengurus PAPPRI ini menargetkan Kongres Musik Indonesia 2 akan digelar tahun 2020 di Papua, dengan pra Kongres Musik Indonesia akan dibuat di Bali pada tahun 2019, “Kita berharap pra Kongres Musik di Bali bisa membahas penguatan musik tradisional atau budaya lokal, sementara Kongres Musik di Papua bertujuan untuk menguatkan kedigdayaan musik di Indonesia Timur,“ ujar Glenn Fredly. 

Kongres Musik Indonesia 1 ditutup dengan pergelaran musik di Lapangan Merdeka, dikunci dengan show akbar Slank. Walikota Ambon Richard Louhanapessy meminta agar Slank bisa tampil kembali menghibur rakyat Ambon dan Maluku umumnya pada ultah kota Ambon, September mendatang. Bravo Musik Indonesia!  XposeIndonesia/Bens Leo, Foto :  Kiera & Kang Edo

More Pictures

 

 

 

 

Last modified on Wednesday, 14 March 2018 11:16
Login to post comments

Music

July 13, 2013 0

Andi Auriec Menunggu Berkah ‘Sampai Mati’

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke  Ancol Beach City...
July 27, 2013 0

Metalica Live in Jakarta

Metallica, akan manggung di Jakarta pada Minggu, 25...
July 27, 2013 0

“Best Song Ever” dari One Direction

Superstar global, One Direction merilis single terbaru...
July 29, 2013 0

Alicia Keys Manggung di Jakarta

Alicia Keys terkenal di dunia musik sebagai pelantun...