“Boven Digoel” Kisah Nyata Operasi Caesar Pakai Silet

20 June 2016

Film “Boven Digoel”  diangkat dari kisah nyata bakal dirilis  pada hari Kesehatan, Nasional pada November 2016. Film ini menceritakan perjuangan dokter muda (John, 27 tahun) yang ditempatkan di puskesmas pedalaman Papua. Dalam keadaan terdesak, ia berupaya menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya dalam sebuah operasi caesar dengan hanya menggunakan silet bermerk “Tiger”.  Kisah ini sempat diangkat dalam cerita berformat FTV berjudul ‘Silet di Belantara Digoel Papua’ meraih penghargaan Piala Maya 2015 Kategori Film Daerah Terpilih.

 

Dalam versi film,  “Boven Digoel”  diproduksi oleh Foromoko Matoa Indah Film dengan arahan sutradara oleh FX Purnomo alias Ipong Wijaya. Proses syuting sepanjang 20 hari telah berlangsung  di  beberapa tempat di Papua, antara lain Kampung Yahim Sentani, Danau Love Yoka Abepura, Bandara Ama Sentani, Pelabuhan Jayapura, Kampung Netar Sentani, Pantai Kelapa Satu Merauke, Tanah Merah Boven Digoel, Kampung Ampera Boven Digoel, Wilayah Wet Boven Digoel dan Pelabuhan Boven Digoel.

Ipong Wijaya menyebut, banyak tantangan  yang dihadapi dalam proses shooting, “Terutama kondisi alam Papua yang cukup susah dijangkau. Team Produksi melakukan perjalanan darat dari kabupaten Merauke ke kabupaten Boven Digoel selama 10 jam. “Lokasi shooting menggunakan set artistik yang riil dengan tempat kejadian tahun 90-an, yaitu sebuah puskesmas yang dulu digunakan untuk operasi sesar menggunakan silet,” beber Ipong kepada wartawan, Sabtu (18/6/2016).

Film produksi PH pertama asli Papua ini mendapat banyak dukungan, mulai dari aktris senior
Christine Hakim, kemudian aktor muda berbakat Jflow Matulessy, dan para pemeran asal asli Papua seperti Edo Kondologit, Lala Suwages, Ira Dimara, Maria Fransisca, Juliana Rumbarar, Ellen Aragay, Denny Imbiri, Echa Raweyai, Henry W. Muabuay, Bina Rianto, Tiot Karubuy, Yoppy Papey, Serly Wayoi, Jack Wadon, Ellin, Rey, Rossario Ivo dan Antonetta.

Dari deretan produksi di belakang layar, ada nama-nama yang cukup dikenal dalam dunia perfilman, bahkan meraih penghargaan Piala Citra FFI, di antaranya Yudi Datau (Penata Kamera Terbaik FFI 2005, Penata Kamera Terpuji FFB), Thoersi Argeswara (Penata Musik Terbaik FFI 2010 dan FFI 2011) dan Wawan I Wibowo (Penyunting Terbaik FFI 2009).
 
Keterlibatan  Christine Hakim, dalam membintangi film ini menjadi menarik. Christine sendiri mengaku,  " nggak mungkin bisa menolak film ini. Apalagi visi, misi, dan semangatnya sejalan. Jadi, saya sangat senang sekali terlibat dalam film ini," ungkap Aktris kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956 ini.

Menurut Christine, ia  ingin mengenalkan kepada masyarakat, bahwa Papua memiliki potensi besar dalam dunia perfilman. "Ini bisa dibilang film pertama produksi asli Papua. Saat shooting, saya tak mengira kalau putra-putri Papua mempunyai kemampuan akting yang bagus dan sangat natural. Mereka cepat menghapal dialog dan cepat beradaptasi dalam produksi film. Mereka memang punya talenta dan sangat berbakat," pujinya.

Dalam film ini, Christine berperan sebagai ibu dari seorang dokter yang tampaknya memiliki kesan tersendiri, bahkan tak habis-habisnya ia memuji keindahan pulau Papua yang terletak di ujung timur Indonesia. "Saya kira yang sudah pernah ke Papua pasti sangat mencintai pulau yang luar biasa ini, keindahannya, kekayaannya, budayanya, masyarakatnya," pangkasnya.
 
Salah seorang pemeran film ini, Maria Fransisca yang juga Putri Papua 2013 dan Finalis Putri Indonesia 2014 perwakilan Papua berharap film ini bisa jadi pelajaran bagi masyarakat. “Banyak orang menilai operasi sesar dengan silet itu mustahil, tapi begitulah kenyataan yang terjadi di Boven Digoel Papua karena keterbatasan tenaga dan peralatan medis, “ ungkap dara manis kelahiran Papua, 11 Oktober l995, dan kini bersatus mahasiswi Teknik Planologi Uncen sekaligus menjadi Duta Humas Polda Papua dan Duta Pemberantasan Narkoba Papua.

John Manangsang dokter yang menjadi pelaku sejarah, menyebut tetap banyak manfaat yang bisa dipetik dari mengangkat kejadian nyata 25 tahun yang lalu. Fakta membuktikan dibanding 25 tahun lalu dengan sekarang, angka kematian ibu dan bayi di Papua sekarang semakin tinggi dan menduduki rangking nomer satu di Indonesia.

“Padahal, kalau kita lihat jaman dulu, tenaga dokter spesial ibu dan anak belum banyak di Papua di satu propinsi bisa dihitung dengan jari hanya satu-dua dokter. Sekarang di tiap kabupten ada satu hingga empat dokter. Rumah sakit sekarang ada dimana-mana, “ terang John Manangsang.

“Film ini menunjukkan bagaimana kita sebagai dokter Papua berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan ibu melahirkan, “ tegasnya. XPOSEINDONESIA/NS Foto : istimewa


More Pictures

 

 

Last modified on Monday, 20 June 2016 06:58
Login to post comments

Music

July 13, 2013 0

Andi Auriec Menunggu Berkah ‘Sampai Mati’

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke  Ancol Beach City...
July 27, 2013 0

Metalica Live in Jakarta

Metallica, akan manggung di Jakarta pada Minggu, 25...
July 27, 2013 0

“Best Song Ever” dari One Direction

Superstar global, One Direction merilis single terbaru...
July 29, 2013 0

Alicia Keys Manggung di Jakarta

Alicia Keys terkenal di dunia musik sebagai pelantun...