Bali World Musik Festival

07 December 2015

Pertunjukan musik di Bali World Musik Festival (BWMF)  yang digagas Dwiki Dharmawan di Arma Museum, Ubud Bali berlangsung meriah.  Dua panggung yang tersedia, memperlihatkan eksplorasi  permainan para musisinya yang datang dari lokal Bali, Nasional maupun Internasional.  Mereka membawa  akar musik dan identitas  budaya masing-masing ke atas panggung.

BWMF  dilaksanakan dalam dua hari (5 dan 6 Desember 2015) . Di hari pertama, muncul Kabir Project, Bona Alit , World Peace Trio (Gilad Atzmon (Inggris), Kamal Musalam (Jordania),  Lisa Riung, Nicolas Meier (Swiss)), Yaron Stavi  & Asaf Sirkis, Gilad Atzmon (Inggris) dan Ayu Laksmi.

Di hari kedua,  tampil Farabi Percussion ENS with Nasser Salameh (Palestina), Kalimaya, Balawan Batuan Ethnic, Dewa BujanaEmoni, Jes Gamelan Fushion, Planet BambooIvan Nestorman with Sasando, Dwiki Dharmawan Pasar Klewer Project

Seluruh pertunjukan terdengar indah, “ bergizi”, dan terasa berbeda  dari panggung pertunjukan umumnya. Tengok pada  kelompok Bona Alit  yang menyelesaikan panggung dalam 40 menit dengan lagu bertajuk  “Adi Jenaka “, “Melasti” “Plasma O” dan lain-lain. Mereka memainkan lagu yang terdengar tenang menghanyutkan, kadang meriah  lantaran  pukulan gendang dan gamelan. “Kami memang biasa membawakan musik suasana, “ kata I Gusti Ngurah Adi Putra  atau biasa dipanggil Bung Alit, pimpinan sanggar ini.

Atau lihat juga kepiawaian I Nyoman Windha yang memberi komando pada Jes (Jegog dan Semar Pagulingan) Gamelan Fushion.  Jegog adalah salah satu jenis perangkat gamelan yang menjadi ciri khas daerah Jembrana. Sebuah karya seni yang lahir dengan banyak kekhasan khusus yang berbeda dengan ensambel gamelan kebanyakan di Bali. Kekhasan itu terlihat dari sistem pelarasan yang menggunakan laras pelog empat nada. Sementara gamelan Semar Pagulingan memakai laras pelog tujuh nada. Sehingga  mendekati tangga nada diatonis.

“Dengan tonika nada diatonis tersebut, secara praktis akan membuat kedua ensambel ini lebih mudah berinteraksi dan beradaptasi dengan instrument musik Barat,” ungkap Windha dari atas panggung.

Pentas BWMF  menjadi menarik dan  terasa berbeda,  bukan hanya kemasan musik yang full nuansa  etnik,  dan memperlihatkan banyaknya kekayaan alat musik etnik Indonesia. Namun juga  karena 90 persen penonton yang datang berwajah bule. Mereka terpaku  di depan panggung dengan sebagian duduk santai  berselonjor dan bersandar dengan bantal yang disediakan.

“Pentas dengan penonton begini memang sesuai target kami,” kata Dirjen Pemasaran  Kementerian Pariwisata Esti  Reko Astuti di tengah acara BMWF hari pertama. “Inisiatif pentas ini  datang dari Dwiki, Kementerian  Pariwisata mencoba menangkapnya. Kita  melihat dari sisi tourism, orang  (luar) tertarik datang karena 60 persennya  di masalah culture.”

Esti menyebut, bukan secara kebetulan, tempat penyelenggaraan BWMF  diselenggarakan di Ubud, Bali. Ini sejalan dengan target destinasi  Kemenpar.  “Karena 40 persen  wisatawan mancanegara itu sudah ada di Bali, jadi untuk menarik penonton  datang pasti relatif lebih mudah. Kayak kita mancing di kolam ikan yang banyak ikannya,” ungkap Esti menerangkan.

Dwiki Dharmawan  yang naik panggung dalam dua grup berbeda  (World Music Peace dan Pasar Klewer Project)  menyebut konsep  BWMF  sengaja ingin memperlihatkan ekplorasi musik yang jarang ditemukan di panggung musik lain. 

“Pada akhirnya, panggung BWMF terasa lebih intim  dengan penonton, karena secara musikal  semua musisi membawa akar budaya dan identitas masing-masing. Yang ketika disaksikan menjadi sebuah contoh tolerenasi, saling menghargai, saling memberi energi. Musik bisa menjadi contoh bagaimana menyebarkan cinta, damai,  juga persahabatan,” kata Dwiki.

Ia lantas mengambil contoh ketika harus bermain dalam berbagai bangsa dalam satu panggung membawakan lagu “Bubuy Bulan” dari daerah Jawa Barat, misalnya.  “Di mana saya berkolaburasi dengan musisi dari Palestina,  Jordania, dan Inggris.  Ini bukan sesuatu yang mudah, kalau masing-masing tidak saling toleransi dan menghargai.”

Lebih lanjut Dwiki menyebut BMWF  telah menjadi  medium untuk menyampaikan pesan cinta dan damai. “Musik bisa menjadi agen dalam menciptakan perdamaian. Dan pada akhirnya di balik pesan cinta damai itu para turis yang datang bisa merasakan  betapa indahnya Indonesia, di samping menemukan bobot  lain, tentang kekayaan musik, terutama  musik etnik Indonesia.”

Sementara itu Roseno Arya, Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal, Kementrian Pariwisata  yang juga hadir dalam acara BWMF mengakui, musik memang menjadi pintu utama Kemenpar dalam menarik wisatawan. “Ini bagian dari kita memperkenalkan musik dan seni budaya. Dan  kita akan membawa konsep promosi semacam ini ke wilayah lain di Indonesia.”

Tantangan  Kemenpar tahun tahun mendatang dalam menambah jumlah wisatawan, kata Rosane memang masih berkutat pada masalah akses jalan yang belum sempurna ke satu titik tertentu, juga masalah kebersihan.  “Akses jalan yang rusak kalau tidak diperbaiki membuat wisatawan malas berkunjung.” tutupnya./XPOSEINDONESIA - NS  Foto-Foto  Nyoman Arya Suartawan

More Pictures

Last modified on Wednesday, 09 December 2015 01:30
Login to post comments

Music

July 13, 2013 0

Andi Auriec Menunggu Berkah ‘Sampai Mati’

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke  Ancol Beach City...
July 27, 2013 0

Metalica Live in Jakarta

Metallica, akan manggung di Jakarta pada Minggu, 25...
July 27, 2013 0

“Best Song Ever” dari One Direction

Superstar global, One Direction merilis single terbaru...
July 29, 2013 0

Alicia Keys Manggung di Jakarta

Alicia Keys terkenal di dunia musik sebagai pelantun...