Ketua Umum GPBSI : di 2018-2019 Akan Tumbuh 500 Layar Bioskop Lagi

05 January 2018

Pertumbuhan bisnis perbioskopan di Indonesia terlihat semakin menggembirakan. Sampai akhir Desember 2017, jumlah  layar untuk seluruh Indonesia adalah 1500 layar.  “Memang ada bioskop  baru yang buka, ada pula biokop lama yang tutup," ungkap H. Djonny Syafruddin  SH, Ketua  Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (Dalam pantauan GPBSI) periode 2017-2022 saat mengumumkan kepenguruan baru GPBSI kepada wartawan di Jakarta Pusat,  Rabu (3/2/2018).

 

Dalam pantauan  Djonny, di beberapa propinsi  masih ada yang  belum memiliki bioskop. "Dari 34 Provinsi di Indonesia, yang belum memiliki memiliki bioskop adalah Papua Barat,  Sulewesi Barat, Daerah Istimewa Aceh, Maluku Utara, Kalimantan Utara,” jelas Djonny.

Djonny optimis, sepanjang tahun 2018-2019, akan lahir 500 bioskop baru di seluruh Indonesia. Menurut Djonny,  pertumbuhan  bioskop dipercepat dengan adanya  teknologi  digital yang mutakhir baik untuk sistem tata suara maupun kualitas gambar. “Hasil yang tampak di layar  sangat  memuaskan penonton, khususnya  di daerah.  Jadi kita betul betul menghormati dan melayani penonton. Dan  kondisi layanan kita jauh berbeda dengan apa yang terjadi di tahun 1990-an atau awal 2000-an!” ungkap Djonny yang terpilih untuk keempat   kalinya untuk jabatan di GPBSI.

Dalam rangka pengembangan usaha perbioskopan di Indonesia, GPBSI merekomendasikan kepada Pemerintah, agar memberikan insentif dan kemudahan penanaman modal di daerah, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008, karena bioskop memenuhi kriteria sebagaimana yang diisyaratkan dalam Pasal 5 dalam PP tersebut, antara lain, memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat, menyerap banyak tenaga kerja, menggunakan sebagian besar sumber daya lokal, memberikan kontribusi bagi peningkatan pelayanan publik dan memberikan kontribusi dalam peningkatan Produk Domestik Regional Bruto.

Menurut pengamatan Djonny, peluang bisnis mendirikan bioskop di daerah terbuka lebar. Namun jumlah bioskop  tidak bisa berkembang dengan cepat. “Permasalahannya, karena pengusahannya perlu dibantu, disubsidi. Tidak usah  gratis, tapi diberi pinjaman ringan. Seperti pinjaman untuk UMKM . Dengan begini,  in sya Allah bisa berkembang pesat.  Alhamdulillah Minggu depan, Bank  Mandiri sudah menyodorkan diri  untuk memberikan kredit! Kita  harus presentasikan kepada Bank, bahwa  investasi  di bidang bioskop sangat feasible!”

Djonny berhitung, untuk mendirikan satu layar bioskop berpendingin dan menggunakan teknologi kekinian dibutuhkan dana sebesar 2 sampai 2,5 Milyar. “Sangat jauh dari angka satu layar XXI yang bisa menggapai 6 Milyar! Banyak yang datang dan minta ke saya untuk bikin bioskop. Mereka punya uang. Mereka sangat anthusias menjadi investor. Cuma masih blank. Harus kita jelaskan dulu (bisnis) bioskop itu  seperti  apa,” tutur Djonny.

Pembangunan bioskop baru di daerah, menurut Djonny semua prototypenya meniru  apa yang dibuat oleh Group XXI.  “Alhamdullilah jadwal main film nasional maupun import dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Tidak ada yang tidak serentak, kecuali layar terbatas.  Semua bioskop menggunakan pendingin  AC 2 PK dengan temperatur di bawah 24 derajat!”

Djonny memastikan pengeloaan bioskop adalah bisnis yang sehat.  “Masyarakat datang bukan sekedar  untuk nonton, tetapi juga makan. Kita harus siapkan toko secantik mungkin. Siapkan kafetaria. Saya belajar dari XXI juga, ternyata jualan popcorn itu jangan dianggap enteng.   Mesinnya memang mahal, satunya 140 juta. tapi penjualannya luar biasa. Sehari dari popcorn bisa dapatsebesar 3-4 juta. Belum lagi   minuman, roti dan lain-lain.”

Djonny juga menyampaikan, bahwa bioskop Group XXI  tidak ada lagi yang dikatakan monopoli. “Kalau ada yang monopoli kasih tahu saya, nanti saya tutup bioskopnya. Bioskop XXI  itu profesional. Meski saya Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia, kalau saya mau melihat 21, ya tetap harus izin dulu sama Pak Jimmy,“  tutur Djonny sambil melihat pada Jimmy Haryanto, Direktur Operational Cinema XXI yang hadir hari itu.

Sebagai pengusaha bioskop, Djonny melihat ternyata penggemar film Indonesia di daerah sangat dominan.  “Bahkan ramainya  penonton film lokal bisa menghancurkan (penayangan) film import. Keunggulan film kita sekitar 20-30 persen. Ayat-Ayat Cinta saja bisa mengalahkan penonton Starwars. Saya lihat memang kualitas film Indonesia sekarang sudah semakin oke. Memang dari produksi setahun sekitar 140 an judul, yang berhasil tembus meraih ratusan ribu dan jutaan penonton. Artinya paling banyak hanya 15 film. Ini kan artinya kita memang belum puas dengan hasil yang ada.” XPOSEINDONESIA/NS Foto: Dudut Suhendra Putra




Last modified on Friday, 05 January 2018 05:24
Login to post comments

Film

July 6, 2018 0

Brandon Salim & Aurora Ribero Bikin Baper & Games di Film R- Raja Ratu dan Rahasia

Rumah produsi Starvision Plus dengan produser Chand Parwez...
June 25, 2018 0

Ku Lari Ke Pantai : Film Segar dan Menghibur Saat Liburan

Miles Film dengan produser Mira Lesmana dan sutradara Riri...
June 11, 2018 0

Film Target Tontonan Libur Lebaran 2018

Soraya Intercine Films, Sabtu (9/6/2018) menggelar gala...
May 28, 2018 0

Film ‘Lima’ : Lola Amaria Cs Menerjemahkan Pancasila dengan Cemerlang

Film ‘‘Lima’” adalah sebuah film tentang bagaimana...