Film Mars: Bukan tentang Planet, tapi Kisah Inspiratif Ibu & Anak

22 December 2014

Pada 7 Januari 2015, Multi Buana Kreasindo dan Leica Production  bakal memulai  kegiatan syuting film bertajuk “MARS”  yang disutradarai Sahrul Gibran dan diproduseri Andy Shafik

Senin, 22 Desember 2014, bertepatan dengan peringatan hari Ibu,  bertempat di Blitz Megaplex Malll Central Park Lantai 3 mereka menggelar syukuran dimulainya produksi film yang dihadiri oleh para pemain, sutradara, rumah produksi dan sejumlah tokoh masyarakat.

Film  yang diangkat dari novel laris  berjudul sama karya Aishworo Ang, dan diterbitkan  DIVA Press ini, diadaptasi ulang oleh  John  de  Rantau.  "Saya jarang mau bikin naskah untuk film orang lain, ini pertama kalinya,” ujar John saat syukuran dan press conference film ini.  John sendiri pernah turun menjadi sutradara untuk film “Denias”, “Senandung di Atas Awan” dan “Obama Anak Menteng”

“Saya sedang bosan dengan film Indonesia. Warnanya  itu-itu saja. Gampang ditebak. Lalu saya melihat novel karya Aishworo Ang yang lulusan Muhamadiyah, novelnya sangat menginspirasi dan tepat untuk ditampilkan sekarang," kata John lagi.

Kisah “Mars”  sendiri berlatar belakang kehidupan keras di Desa Gunung Kidul, yang terkenal memiliki angka bunuh diri tertinggi di Indonesia.   “Fenomena itu terjadi karena tingginya angka kemiskinan. Ini masalah Bangsa, kalau tidak kita angkat, alangkah biadabnya kita sebagai suatu bangsa," kata John.

John mengatakan akan mengusung kesuksesan inspiratif Denias, namun tentu tanpa harus melakukan pengulangan. “Mars” sendiri akan bercerita tentang perjuangan seorang ibu bernama Tupon dalam membesarkan anak perempuannya, Sekar Palupi, di tengah keterbatasan. Kisah inspiratif mengenai ibu dan anak ini, diwarnai perjuangan, air mata dan kehilangan. Semua bentuk rintangan tak membuat mereka menyerah.

Meski buta huruf, sang Ibu selalu menanamkan pentingnya pendidikan pada anak perempuannya sejak masih kecil. Ia ingin nasib sang anak perempuan berbeda dan menjadi bintang yang paling terang bersinar di malam hari, mengalahkan cahaya bintang yang lain di sekitarnya. Sang Ibu menyebutnya lintang lantip (bintang yang cerdas) yang ternyata merupakan planet MARS.

Film yang direncanakan akan tayang di bioskop  bertetapatan dengan hari Pendidikan Nasional 2015 itu, didukung aktor dan aktris seperti Kinaryosih, Teuku Rifnu Wikana, Yati Surachman, Chelsea Egy Fadli, Trisno Bosha dan lain-lain.

Kinaryosih mengaku langsung “meleleh.”  Saat membaca skenario  film ini. Dan tanpa ragu, ia menerima tawaran terlibat dalam produksi film ini.  “Saya sampai nangis baca naskah filmnya, dan langsung mau ikutan film ini," katanya .

Peran sebagai Tupon sangat  berbeda dari karakter Kinar sehari-hari. Dan tantangan terberatnya adalah beraksen khas, berintonasi keras, namun tetap terasa lembut.  Dan Kinar mengaku siap di make-up lebih hitam, untuk mengesankan dirinya sebagai orang miskin dan susah. XPOSEINDONESIA/NS Foto Dudut Suhendra Putra

More Pictures

 

Last modified on Wednesday, 24 December 2014 11:09
Login to post comments