Winter in Tokyo : Romantis dalam Balutan Bahasa Baku

02 August 2016

Salah satu novel  tetralogi karya Illana Tan, bertajuk Winter in Tokyo yang telah dicetak 28 kali,  muncul dalam format film layar lebar berjudul sama. Dan pada 11 Agustus mendatang, para pecinta novel best seller tersebut bisa menyaksikan drama romantis ini, dengan skenario ditulis Titien Wattimena dan disutradarai Fajar Bustomi.

Winter in Tokyo yang diproduksi Unlimeted Production dan Maxima Pictures ini berkisah tentang Ishida Keiko (Pamela Bowie), seorang gadis yang tinggal di apartemen di pinggiran Tokyo.  Kemudian berteman dengan tetangga baru Nishimura Kazuto (Dion Wiyoko). Kazuto baru kembali ke Jepang setelah lama tinggal di Amerika.

Kebersamaan mereka di sepanjang musim dingin menumbuhkan perasaan cinta di hati Kazuto. Sementara, Keiko tetap memelihara cinta pertamanya pada  Kitano Akira (Morgan Oey). Hingga di suatu pagi, Kazuto terbangun dan tidak bisa mengingat apapun, bahkan semua yang terjadi antara dia dan Keiko. Dia hanya bisa mengingat cerita lama tentang perempuan yang dia cintai Iwamato Yuri (Kimberly Ryder).

Mendengar musibah yang menimpa Kazuto, Yuri pun ke Tokyo. Pada saat itulah Keiko baru menyadari perasaannya yang sebenarnya. Kazuto berusaha mengembalikan ingatannya, sementara Keiko berusaha melupakan semuanya.

Dari perjalanan sinopsis di atas,  terasa film digarap sebagai drama percintaan,  dengan lokasi setting lebih lebar seperti layaknya drama film televisi.  Lokasi disesuaikan dengan judul, dan mengambil sudut-sudut  bagus di Jepang.

Namun, kota Tokyo yang terkenal sebagai salah satu kota tersibuk dan padat di dunia, digambarkan  menjadi lengang.  Lihat, ketika adegan di stasiun kereta api, hanya ada Kazato dan Keiko, tidak nampak penumpang lain yang biasanya kita tahu dipenuhi lautan manusia.

Kereta Shinkansen yang tiba dan berangkat dengan sangat cepat dan tepat waktu menjadi tantangan tersendiri bagi para crew.  Dalam press conference seusai pemutran film ini di Jakarta (1/8), sang sutradara, Fajar  Bustomi  mengaku beruntung pihak Shinkansen, bisa diajak bekerja sama.  “Mereka membantu mengarahkan penumpang untuk turun dan naik di pintu tertentu, sehingga kami dapat mengambil gambar sesuai dengan yang diinginkan.

Untuk adegan di stasiun, mereka mendapat izin resmi. Dan untuk pengambilan adegan dengan kereta, pihak kereta api sudah memberi jadwal yang tepat, “ jadi kalau mau take break down-nya sudah kami pikirkan," lanjut dia.

Film dengan Berbahasa Baku

Di tengah maraknya pertumbuhan bahasa gaul via film, justru film ini  sengaja mempergunakan bahasa Indonesia yang baik. Namun sayangnya kita tak terbiasa, karena terdengar sangat kaku.

Dengarlah pada dialog  Keiko. "Aku tidak suka gelap dan aku tidak bisa  tidur dalam gelap,"  Atau  temukan  contoh lain, dalam dialog yang disuarakan  Yuri ; "Aku segera kembali ke New York, mau kah kamu ikut dengan ku? Dan satu lagi dialog  dari Kazato. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu", "Apa kamu bisa melepaskan Akira?"
 
Sepanjang film berjalan, dialog macam begini meluncur kaku, sedikit aneh dan terus terang menggangu telinga.  Namun  menurut Fajar Bustomi, hal itu telah dipikirkan secara matang, karena mereka sengaja mengusung konsep film Jepang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia".

Titien Wattimena  mengatakan, "Pemilihan bahasa, dari awal sudah kami bicarakan,” Terlebih  setelah membaca novelnya. Kita menyadari bahwa semua karakter dalam cerita mengenai orang Jepang dan kami tidak mau menghilangkan itu di film,"

Titien  lebih lanjut menyebut, "Tidak mungkin  memakai bahasa Jepang di sepanjang film. Lebih tidak mungkin lagi  jika memakai bahasa Indonesia dan bahasa "gaul". Akan  aneh ketika orang Jepang berbahasa Indonesia tapi dalam bahasa "gaul"," sambung dia.

Sementara itu, para pemain  terlihat cukup berhasil membawakan bahasa Jepang dalam dialog mereka.  Morgan  yang berperan sebagai dokter,  mengaku ada coach khusus bahasa Jepang,  yang membimbing mereka. “Kami belajar selama dua minggu di Indonesia sebelum ke Jepang, dan di Jepang juga belajar bahasa yang benar," ujar Morgan.

Film yang diambil di tengah musim dingin kota Tokyo ini, membuat para pemainnya menggigil kedinginan,  bahkan sampai membuat pemeran utama Pamela Bowie, beberapa kali mimisan.

Di luar kendala cuaca yang berkisar sekitar dua derajat,  faktor dialog  yang kadang perlu diganti juga menjadi “cobaan” tersendiri. "Pernah jam setengah satu malam, aku sudah menghapal  dialog dari Jakarta, tiba-tiba harus diganti semua, karena bahasanya terlalu baku kalau menurut orang Jepang," ujar Pamela.

"Dialog yang diubah, dan harus dihafal itu benar-benar bikin pusing kepala enggak bisa menghapal, brain freeze! tapi pelan-pelan, duduk bentar, bisa juga akhirnya," ujar Pamela.

Sayangnya, adegan romantis antara Pamela dan Dion terasa tidak terlalu sempurna, atau kurang menggigit. Berdasarkan novel,  kisah ini  bukan hanya kuat pada kata-kata namun juga pada ekspresi. Nah, ekspresi  Pamela yang sudah bermain total juga banyak mengeluarkan air mata, itu kurang menyentuh ke jantung hati penonton. Sementara dalam soal ekspresi Dion terlihat lebih unggul. Akting pemeran utama pria di film biopic "Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar", ini  terlihat  menonjol terutama  sebagai lelaki yang diam-diam menyembunyikan kekaguman. XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

Last modified on Tuesday, 02 August 2016 07:18
Login to post comments

Film

January 8, 2018 0

Pafindo Rilis 2 Film Pendek, Trailer Film Horor & Mars Organisasi

Perkumpulan Artis Film Indonesia (Pafindo) merilis dua...
January 5, 2018 0

Ketua Umum GPBSI : di 2018-2019 Akan Tumbuh 500 Layar Bioskop Lagi

Pertumbuhan bisnis perbioskopan di Indonesia terlihat...
December 13, 2017 0

Natasha Rizki Ninggalin Keluarga Demi ACI

Aktris Natasha Rizki (24) tahun terpaksa meninggalkan sang...
December 8, 2017 0

“Satu Hari Nanti” Khusus untuk 21 Tahun ke Atas

Film untuk 21 tahun ke atas seperti apa? Tontonlah Satu...