Diskusi Penonton Film Cerdas : Kenapa Hantu di Film Indonesia harus Semok?

27 November 2016

Psikolog Tika Bisono  mengaku pengemar fanatik film Indonesia termasuk juga film-film horor. Hal ini terkuak dalam diskusi “Penonton Film Cerdas” yang digelar Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbang Film Kemendikbud) dan Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) di Plaza Insan Berprestasi Gedung A Lantai 1 Kemendikbud Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat, 25 November 2016.

“Saya nonton segala jenis film Indonesia,  bukan hanya film yang musiknya digarap Thoersi Argeswara," katanya sambil menyebut nama suaminya. Theorsi dikenal banyak membuat musik film   seperti ‘Kuldesak’, ‘Pasir Berbisik’, ‘Eliana-Eliana’, ‘GIE’, ‘Sebatas Aku Mampu’, ‘Merah Putih’, ‘Nagabonar Jadi 2’, dan ‘Sang Pialang’

“Saya juga menyimak film horor Indonesia yang mungkin banyak orang lihat ngak oke. Misalnya ‘Suster Keramas’, dari teknologinya menurut saya sudah fine, tapi dibanding ‘Conjuring’, ya lebih cerdas penggarapan Conjuring. Yang menggelitik saya, kenapa hantunya mesti semok?  Di ‘Conjuring’ ngak ada yang semok. Nah,  tapi begini inilah ciri film khas Indonesia,” ujar Tika.

Karena itu pula, menurut Tika sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih menonton film asing. Karena masyarakat beranggapan cerita dalam film Indonesia sudah bisa ditebak, berbeda dengan flm asing yang dapat memicu tingkat penasaran dan bagian marketing film pintar menjual.

“Mereka membuat resensi dan mempromosikan film satu sampai dua tahun sebelum edar. Bahkan ada film yang risetnya sampai 14 tahun,” paparnya. “ada gak, produksi film di sini yang membuat reset film  sampai selama itu. Sementara   yang saya tahu film-film  di sini digarap  rata-rata digarap dalam kurun waktu pendek

Diskusi yang sebelumnya diadakan pemutaran film  bertajuk “Mars” itu, dipandu oleh Teguh Imam Suryadi menghadirkan tiga pembicara selain Psikolog Tika Bisono, Psi, M.Psi.T,  terlihat pula produser film Rinayanti Harahap, MSn dan sutradara film Sahrul Gibran serta dihadiri Kepala Pusbang Film Kemendikbud DR. Maman Wijaya, MPD.

Dalam diskusi ini, Rinayanti Harahap menerangkan, bahwa masyarakat Indonesia sebetulnya sudah menjadi penonton cerdas. Tapi  di tengah itu... “Beberapa penonton hanya menilai film sebagai hiburan, sehingga setelah menonton,  mereka tidak mendapatkan inti dari film. Tidak jarang mereka tidak mengerti apa yang sedang ditonton. Mereka menonton  hanya karena film itu sedang hit dan dibicarakan banyak orang, “ katanya.

Sementara itu Sahrul Gibran menyampaikan pengalamannya dalam menyutradarai film “Mars”. “Apa yang saya alami mirip cerita film yang saya sutradarai, yakni  tentang impian hidup yang tidak mudah untuk draih, “ ungkapnya.

Sahrul  juga menghimbau agar masyarakat bisa lebih cinta film Indonesia. “Cintailah produk dalam negeri, tontonlah film Indonesia,“ katanya mengimbau. XPOSE INDONESIA/NS Foto : Dudut Suhendra Putra,  Muhamad Ihsan

More Pictures

Last modified on Sunday, 27 November 2016 08:03
Login to post comments