Laporan dari Aljazair ( 1 ) : Duta Seni Indonesia, Studio 26 

25 June 2014

Tak banyak Pekerja Seni yang punya kesempatan dapat tampil menggelar karya seninya sebagai Duta Seni Negara di Luar Negeri. Ati Ganda dengan Studio 26 Dance Co melakukan di 3 kota di Aljazair.

Pertamina, KBRI dan Parekraf

Bagi Studio 26, ini adalah penampilan keempat di Aljazai, sejak  tahun 2011, tahun 2012 sebanyak 2 kali, dan bulan Juni 2014.  Pada tahun 2012, Studio 26 di ambil bagian pada Festival Tari Kontemporer di Aljazair.

KBRI Aljazair di Alger adalah inisiator mendatangkan Studio 26 ke Aljazair. Menurut Dubes Drs. Ni’am Salim, MSi, melalui misi kesenian Studio 26, diharapkan ada interaksi antara masyarakat Aljazair dengen Indonesia, yang sejak awal sudah terjalin melalui Konferensi Asia Afrika.

Dubes juga mengundang Dubes negara sahabat di Aljazair, untuk menyaksikan pergelaran tari dan musik ini, lalu menitipkan video, CD album, flyer, foto-foto tentang destinasi wisata Indonesia, kesenian daerah, kuliner, pada para penonton. Aljazair merdeka dari jajahan Perancis pada tahun 1962, dengan Presidennya  yang terkenal Ben Bella.

Ati  Ganda memiliki pengalaman panjang dalam membawa rombongan Seni Budaya macam ini, termasuk para murid SMA yang dilatih menari dan  menyanyi, lalu – dengan biaya swadaya, bekerjasama dengan KBRI setempat, berwisata budaya mempergelarkan ekstrakulikulernya di luar negeri. 

Untuk tampil di Aljazair, Ati Ganda menggandeng  sponsor, yakni Pertamina, KBRI juga menanggung biaya transport lokal, dan menginap di Wisma KBRI atau hotel tempat pergelaran luar kota Algier berlangsung. . 

Satu bulan sebelum bertolak ke Aljazair, bersama Bens Leo dari XposeIndonesia, Ati Ganda melakukan audiensi pada Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DR Sapta Nirwandar, sehingga keberangkatan misi kesenian Studio 26 kali ini juga mendapat titipan promosi tentang destinasi pariwisata Indonesia di negara Aljazair yang terletak di Afrika Utara itu. Bahkan, Wamen Sapta Nirwandar mengirim wartawan Xpose Indonesia untuk meliput aktivitas ini. 

Sebagai koreografer dan sutradara pementasan, Ati Ganda menyiapkan beberapa nomor tari tradisional yang telah dimodifikasi menjadi modern, baik lewat gerak maupun kostumnya, antara lain  Tari Piring, Tari Topeng Klana, Lenggang Nyai, Tari Rampak Kendang, Tari Gandrung Bali, Tari Jaipong Lanang dan tari penutup Indonesia Jaya. 

Dalam rombongan, juga ditemui penyanyi Eka Syahputra, yang membawakan lagu-lagu pop Indonesia atau lagu pop daerah, baik secara medley atau lagu utuh seperti ‘Laksamana Raja Dilaut’, ‘Kembali ke Jakarta’, ‘Sinanggar Tulo’, ‘Bengawan Solo’, sampai lagu hit yang dipopulerkan Cakra Khan.  

Tari Tradisional yang Dinamis

Lebih satu bulan Ati Ganda mempersiapkan Studio 26 dengan penari dan penyanyinya, melalui latihan-latihan yang ‘berat dan ketat jadwal’. 

Kegiatan latihan ini dilakukan di tengah kesibukan para artis tari dan nyanyi ini dengan tugas kantor, sekolah atau kuliah,’Tapi mereka selalu punya semangat yang kuat, jika menghadapi tour LN macam ini. Karena – kecuali sadar akan tam;pil sebagai duta Negara, anak-anak juga akan memanfaatkan waktu kosongnya dengan mengunjungi tempat wisata di Aljazair, “ kata Ati Ganda.

Pentas pertama digelar di mal terbesar di Algier, Bab Ezzouar, Tampil di foodcourt yang ramai dengan heterogenitas pengunjung mall, Studio 26 membuka pergelaran hari pertama tanggal 12 Juni dengan Tari Gadrung Bali, yang ditarikan oleh Pipit, Puput, Diva dan Chandra

Mudah diduga, pengunjung mall ikut larut dengan nomor tarian ini, katrena tak hanya dinamis pada geraknya, tapi juga pada tabuhan gamelannya. 

Kemudian tampil Tari Jaipong Lanang yang dbawakan Denden, penari serba bisa yang menatap di Garut. lalui  Tari Piring, Lenggang Nyai dan ditutup dengan ‘Indonesia Jaya’. Pentas pertama ini diakhiri dengan penampilan menarik vokalis Eka Syahputra membakan lagu ‘Sinanggar Tulo’.  

Eka berhasil melakukan komunikasi dengan mengajak 2 wanita Aljazair menyanyi dan menari dengan ulos-nya, lalu memberinya hadiah foto-foto pakaian Nasional Indonesia.. 

Hari pertama pergelaran ditutup dengan foto bersama para artis dengan audiens,  termasuk berfoto dengan Dubes Ni’am Salim  dan Ibu Maesaroh Toha, dan Ibu Ida Susanty, Diplomat Senior KBRI Algier. 

Pada tanggal 13 Juni, petang, Studio 26 tampil di Salle Mouggar, Algier, sebuah gedung pertunjukan teater, seperti Gedung kesenian Jakarta. 

Studio 26 menampilkan nomor tari yang berbeda, antara lain Denden menggelar Tari Topeng, juga menampilkan Tari Rampak Kendang yang menampilkan koreografi dinamis, Diva, Chandra, Pipit dan Puput, membawa 4 kendang besar dan 4 kendang kecil, stick kendang. Lalu dengan musik iringan gamelan Sunda, berempat membuat gerakan yang dinamis, sesekali menonjolkan mimik lucu. 

Atas usul Diplomat Senior Ibu Ida, Eka akhirnya membawakan lagu-lagu daerah yang dimedley, dan ditutup kembali oleh lagu ‘Sinanggar Tulo’. Kali ini Eka mengajak Dubes Ni’am,. Ibu Ni’am dan Bapak Eko  Rukmono, pimpinan Pertamina Aljazair, ikut menari tor-tor di panggung.

Tak kalah menarik adalah penampilan ‘Rampak Kendang’ yang dimainkan oleh local staff dan pegawai KBRI Algier, dengan pelatih merangkap pemain Kendang Mas Budi. Rampak Kendang KBRI menampilkan nomor ‘Rampak Kendang Kebo Jiro’, yang didukung oleh gamelan Sunda. 

Grup Rampak Kedang KBRI Algier ini pernah diminta tampil di Spanyol oleh Wamen  Parekraf Sapta Nirwandar, karena secara musikal, para pegawai KBRI ini sudah seperti para seniman profesional.  

Pada penampilan kedua ini, Ati Ganda, Bens Leo dan Dubes Ni’am Salim menyempatkan diri diwawancara TV Nasional Aljazair, dengan penerjemah bahasa Perancis Mas Zaenal dari staf lokal KBRI Algier, sementara  Mbak Darmia Dimu, banyak mendampingi kami dalam berkomunikasi dengan Panitia lokal, pelayan restoran, petugas keamanan Aljazair yang hanya dapat berkomunikasi dalam bahasa Perancis atau Arab.

Batna dan Briska

Pada pentas ketiga tanggal 15 Juni, Misi Kesenian Indonesia  Studio 26  tampil di Theater Regional di kota Batna, sebuah kota kecil yang terletak sekitar 400 km dari Aligier.  Membawakan nomor tari dan nyanyian yang sama, acara ini juga diisi dengan foto bersama dengan audiens dan Panitia lokal. 

Dalam perjalanan menuju kota Biskra, rombongan Studio 26 yang dipimpin langsung oleh Diubes Ni’am Salim, menyempatkan diri berwisata ke situs Kekaisaran Romawi abad 1 yang terletak di kiota Timgad, sekitar 3 jam menuju ke kota Briska yang sudah dekat dengan perbatasan Turki. Kami sempat foto bersama di Timgad, satu dari 3 situs peninggalan KekaIsaran Romawi di Aljazair. 

Tanggal 16 Juni, Studio 26 menggelar pertunjukan terakhir di kota Biskra, didahului dengan prosesi penyambutan dan pemberian kain ulos Batak dari Dubes RI Ni’am Salim  pada Walikota Biskra dan sebaliknya, Walikota Biskra memberikan plakat dan bendera Aljazair pada Dubes Ni’am Salim. 

Di kota ini, Rampak Kendang KBRI Algier tampil kembali, kali ini disertai salawat Nabi. Dari Studio 26, tampak Tari Rampak Kendang, Gadrung Bali dan penampilan Eka Syahputra sebagai penyanyi, paling digemari penonton. Pergelaran juga ditutup dengan foto bersama antara artis pengisi acara dengan audiens maupun pejabat dari kota Biskra. ( Bens Leo )

More Pictures

 

 

 

Last modified on Sunday, 29 June 2014 06:16
Login to post comments