Novel Terbaru Noorca : “Setelah 17 Tahun’, Kisah Nyata Verbal Abuse

19 September 2016

“Setelah 17 Tahun," sebuah novel baru karya Noorca M. Massardi dilaunching pada Sabtu (17/09). “Ini merupakan novel ketujuh,  mengungkap tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan secara verbal atau verbal abuse,” ungkap Noorca saat launcing novel ini di Midtown Bistro & Lounge, SCBD, Jakarta, Sabtu  17/9.

 

Novel yang diterbitkan PT  Gramedia Pustaka Utama (GPU)  ini  menurut Noorca ditulis sepanjang 15 bulan. Novel  berjalan dengan tokoh utama bernama Putri Maulida, seorang wanita muda  yang sejak kecil mengalami kekerasan verbal  di dalam keluarganya. Demi meraih kebebasan, Putri menerima lamaran Alfian, seniornya  yang tengah melanjutkan studi di Prancis.

Putri yang cerdas dan sangat aktif dalam berbagai kegiatan dan diskusi di kampus, tiba-tiba harus menjadi ibu rumah tangga yang wajib berbakti pada suami. Dan tanpa terduga, kekerasan verbal berulang kembali di dalam kehidupan perkawinannya, sama seperti ketika ia masih tinggal bersama Ayah Ibunya.

Sebagai suami, Alfian ternyata bukan imam, juga bukan ayah yang bisa diandalkan. Ia lelaki beku yang sangat mencintai buku namun tak berjiwa. Ia lelaki yang berkata-kata tanpa paham, apa dan bagaimana dampak yang keluar dari mulutnya. Ia tak menyadari sebuah kalimat yang selalu memuat sindiran, kritik dan kecaman bisa mencabik perasaan yang mendengarnya, terlebih anggota keluarganya sendiri.

Setelah 17 tahun bertahan  hidup dengan Alfian, Putri  yang sudah memiliki tiga anak memilih berpisah.  Ia memilih sekolah lagi dan sukses menjadi notaris. Nasib mempertemukannya kembali dengan Andri, teman kampusnya yang kini  menjadi lawyer dan sudah menduda.

“Novel ini diangkat dari kisah nyata, dan merupakan drama psikologis rumah  tangga. Para tokohnya mengalami trauma dan terbelengu kepahitan  masa silam. Demi masa depan anak dan keluarga, akhirnya Puteri mengambil langkah dan keputusan yang berani,” ujar Noorca tentang novel yang ditulisnya sepanjang 256 halaman dan sebelumnya dimuat sebagai cerita bersambung di sebuah harian terbitan Jakarta.

Saat launcing novel ini dihadirkan pula Joice Manurung  C.Ht, Cha, seorang psikolog yang berprofesi sebagai konsultan, fasilitator dan Conselor  & Therapist. “Verbal abuse yang ditulis  Noorca  dalam novel ini, memang nyata dan banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari,”  katanya.

Joice kemudian memberi contoh lain. Para orang tua terbiasa memberi nama panggilan untuk anak-anak di luar nama asli mereka, seperti si hitam, si gendut, si cungkring. “Panggilan semacam ini  sebaiknya  dihindari. Agar anak-anak tidak tumbuh  dengan beban nama itu dan menjadi pribadi rendah diri!”

Menurut Joice, dalam kehidupan sehari-hari verbal  abuse terjadi dalam berbagai lingkungan dan muncul dalam ucapan yang diartikan sebagai bahan canda. “Misalnya ‘ah bego bener sih lue....., dan kita menganggap  itu biasa. Padahal, orang yang kita ajak bicara sudah tersinggung.”

Dalam novel “Setelah 17 Tahun”, kekerasan emosional  yang dialami Putri mengakibatkan ia  melahirkan prematur. “Dalam rentang waktu  10 tahun, ketiga anaknya semua lahir prematur. Sesuatu yang sangat langka dialami seorarang perempuan akibat depresi yang melebihi batas,” ujar  Noorca yang lahir pada 28 Februari 1954.

Novel "Setelah 17 Tahun" tidak hanya memperlihatkan esensi cerita yang kuat, tetapi juga menanamkan kekayaan pengetahuan tentang psikologi bagi pembacanya.  "Novel ini ditulis dengan bahasa santai, dan mudah dimengerti," kata Joice. "Dengan membacanya, kita akan mendapatkan pelajaran berharga tentang efek dari verbal ebuse." XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

Login to post comments