‘Modern Metal’ dalam musik Death Distortion

01 May 2016

Musik adalah bahasa universal, pesan moral, pesan sosial bisa digerakkan melalui teks lirik Indonesia, Inggris atau melalui genre musik apapun. Yang penting sebagai karya artistik, dianggap bagus atau tidak. Death Distortion memilih genre Modern Metal dengan gabungan bahasa Indomesia dan Inggris.Spirit : indie.......

Gagasan Rock Lover

Sebuah band dengan passion ‘warna musik” tertentu bisa jadi karya besar atas inisiatif pencinta musik rock ( rock lover ). Di era digital dengan fisik CD mengecil jumlahnya macam sekarang, band baru membuat album dengan hard cover, genre rock, lebih lagi memilih musik metal, termasuk barang langka dan berani. Tapi, itulah yag dilakukan Bang Ilham Johan – begitu biasanya kami menyapa sang Executive Producer Death Distortion, band Modern Metal Jakarta.

“Awalnya Pak Ilham bikin event pergelaran musik rock di  Rolling Stone Cafe melalui Indonesian Rock Collaboration, Agustus 2015. Waktu itu saya main bareng dengan beberapa musisi rock senior dan yunior, satu diantaranya Rian, drummer rock berumur 14 tahun, putera Pak Ilham. Dari sini saya ditawarin bentuk band, harus genre rock, yang metal pun Oke, “ cerita Trison Manurung, lead vocal dan komposer. Bagi Trison, tawaran ini merupakan tantangan, karena Roxx Band yang dibangunnya, lagi vakum panjang.

Rian dibantu Trison lantas mengontak teman lamanya untuk merekrut personel. Antara lain,   Wawan Cher ( ex gitaris Blue Savana,  Wolfgangs dan No Limits ), Ega Liong ( gitaris gahar Blackout Band ), dan Didiek Orange, bassist Roxx dan One Feel. ‘Pasukan’ musik inti ini diyakini Trison,  bisa dahsyat membangun musik metal,  di panggung dan rekaman.

Maka, saat Desember 2015 Indonesian Rock Collaboration 2 digelar di Fame Station Bar & Cafe Bandung, formasi Death Distortion itu mulai diuji coba, melalui 2 superhitnya, ‘Reinkarnasi’ dan ‘Death Distortion’. Penonton kasih aplaus panjang dan panggung mulai panas......

“Sejak awal dibangun  Death Distortion memang punya passion ngembangin musik metal, tapi yang lebih modern, itu yang kami sebut Modern Metal. Musik metal dengan warna kekinian,” ujar Wawan.. Gitaris ini mengaku memilih main rhythm guitar, yang main distorsi dan kenceng abis tugas Ega. Pilihan itu menjadi sangat pas, jika kita menikmati bagaimana padunya duet gitaris Wawan – Ega pada lagu ‘Death Distortion’, ‘Reinkarnasi” atau lagu ‘Ambisius’ yang – kata Trison, dapat referensi dari warna modern rock metal-nya Metallica. Ega dan Wawan masih main padu tatkala Death Distortion dengan sangat sengaja membuat aransemen ‘musik rock yang jualan’ seperti pada lagu ‘Terbang Bersama Garuda’ yang banyak memainkan gitar akustik, dengan perkusi tifa asal Papua. Di sini peran Rian terasa istimewa.

“Saya senang lihat perkembangan Death Distortion, materi lagu dalam album ini, rock banget, metal sekali, dan Rian masih bisa mengimbangi seniornya yang usianya berlipat dari umurnya. Saya juga turun tangan melihat kebersamaan mereka latihan, bikin lagu atau rekaman di studio. Jika perlu, mengusulkan revisi cover Death Distorsion pun saya lakukan,“  kata Ilham Johan, putera Makassar yang menikahi perempuan Papua Vince Lennawaly

Semua Lagu Ditulis Bersama

Album Reinkarnasi Death Distortion digarap sepanjang 4 bulan, dimulai Oktober 2015 direkam lagu pertama ‘Reinkarnasi’  di studio La Voice, selanjutnya beberapa lagu masuk rekaman digital di studio Akalliar, sementara Mixing Mastering dikerjakan di Putra Mandala Studio – Pulo Mas, dilakukan bersama seluruh pemain  pada Februari 2016. Ega Liong ditugasi sebagai Sound Engineer. 

"Kami memang membiasakan bekerja bareng, kerja kolektif, termasuk bikin lagu juga barengan. Itu sebabnya pada teks lirik di cover album tidak ada nama pencipta secara individual, karena delapan lagu Death Distortion, kami tulis secara bersama,” penjelasan Trison, tatkala ditanya tentang ketiadaan nama pencipta lagu pada teks lirik.

Tema lirik. ‘ragam warna musik rock’ juga dipikirkan secara bersama, termasuk pada dua lagu yang menyeberang ke warna ballad rock, seperti ‘Hasrat’ dan ‘Terbang Bersama Garuda’. Pada 2 lagu ini ada perlakuan istimewa. ‘Hasrat’ misalnya, liriknya ditulis Wawan, bercerita tentang perempuan penggoda, dan materialistis, “Sebenarnya banyak perempuan yang suka melodi lagu Hasrat, rock tapi kalem, namun tatkala mulai baca teks liriknya, mendengar cara Trison nyanyi, lirik Hasrat terdengar malah mengkritisi perempuan yang materialistis. Itulah uniknya lagu Hasrat, “ kata Wawan sambil melepas tawa.

Menurut Rian, salah satu tantangan dalam menggarap album Death Distortion adalah, musisi harus merem emosi rockers-nya, “Seperti saya harus main tifa pada lagu Terbang Bersama Garuda, ini sesuatu yag baru pada karier saya sebagai drummer, apalagi ini masuk rekaman, “ tambah Rian.

Lirik ‘Terbang Bersama Garuda’ bercerita tentang persaudaraan dan persahabatan yang indah antar suku bangsa, jika melihat pemakaian instrumen gitar akustik dengan dipadu pukulan tifa, bisa diduga ‘Terbang Bersama Garuda’ terinspirasi dari kekayaan budaya Papua, lagu ini menjadi semacam personifikasi dari Rian Dani sebagai musisi yang berdarah Makassar Papua.

‘Death Distortion’ dan ‘Corruption’ adalah 2 lagu Death Distortion yang liriknya bahasa Inggris, Menurut Trison, pada melodi musik Modern Metal, seringkali melafalkan lirik bahasa Indonesia terasa  susah, tapi lirik teks Inggris menjadi lebih mudah dinyanyikan, karena adanya suku kata yang pendek pendek, “Itu saya alami waktu menjadi vokalis Edane akhirnya ada beberapa lagu Edane yang berteks Inggris, karena bikin teks Indonesianya susah. Beberapa lagu Edane menggabungkan teks lirik Inggris dan Indonesia, jadi terdengar unik juga sih, “ cerita Trison.

Album Reinkarnasi Death Distortion dikunci dengan lagu ‘Residivis’, bercerita tentang seseorang yang ‘sudah sepuh’, bertattoo, rantai bergantung di celananya yang robek, bak rocker tua dengan asesorisnya. Tema lirik yang pas buat melodi lagu yang terkesan gahar. Menarik dicatat, Death Distortion juga memasukkan 2 video klip, yakni Reinkarnasi yang disutradarai Oleg Sanchabachtiar dan ‘Death Distortion’ garapan sutradara Hendry Tivo, dalam first album Death Distortion sebagai bonus track. ‘Bonus track dua video klip ini menjadi jawaban dari kerinduan rock lovers pada tayangan video klip musik yang sekarang kian jarang kita lihat di televisi, “ kata Rian.

Karakter Trison ’Yang Kuat’

Ega Liong mengakui, problem paling menantang membuat album Death Distortion adalah bagaimana cara ‘mengakali’ karakter vokal Trison yang superkuat menjadi ciri khas Death Distortion, “ Gak asyik rasanya jika Death Distortion dibanding bandingi dengan album Roxx dan Edane, tempat Trison pernah berkarier sebagai vokalis, “ kata Ega.

Jawaban dari pertanyaan itu adalah, Death Distortion harus memperkuat style permainan duet gitar Ega – Wawan, teknik main drum dan perkusi Rian Dani yang harus padu dengan cabikan Didiek Orange sebagai bassist. Pada Edane, peran Eet Syahranie sebagai gitaris, bisa menyamarkan kekuatan karakter vokal Trison sepanjang kariernya dalam Edane ( 2000 – 2003 ). 

Sabtu 30 April 2016, bertempat di Equus Cafe and Lounge, Kebayoran Baru - Death Distortion mempresentasikan lagu-lagu karyanya melalui launching album dan showcase-nya yang tertata rapi. Siang - petang hari, hadir dalam launching album itu wartawan media cetak, online, TV dan radio, malam harinya showcase Death Distortion  disaksikan sejumlah artis musik, fans 5 musisi pendukung, menampilkan Executive Producer Ilham Johan dari Putra Mandala Production, , 2 clip maker  serta label Bravo Musik selaku Distributor.

Death Distortion adalah :

Trison P Manurung ( Jakarta 22 Maret 1965 ), lead vocal Roxx Band yang pernah menjuarai Festival Band Rock se Indonesia versi Log Zhelebour ( 1990), namanya menjulang lewat single ‘Rock Bergema’.  Bersama Roxx, dirilis First Album (1992), Bergema Lagi, Retake, dan album terbaru Roxx, Jauh Dari Tuhan ( 2012 ). Trison sempat masuk formasi Edane antara tahun 2000 – 2003 dan merilis album 170 Volts pada 2002

Rian Dani Mandala Putra Johan ( Wamena, 30 November 2001 ), pemain termuda Death Distortion ini pernah tergabung pada Racher Band, Ovarium Band dan The Trigger sebagai drummer. Rian memiliki prestasi sebagai drummer terbaik pada 5 Kompetisi Band di Papua, berpengalaman sebagai drummer band metal pada Trigger Band, saat usianya baru 13 tahun,waktu itu Rian baru satu tahun pindah di Jakarta dari Papua. Kini Rian masih duduk di bangku SMP klas 3.

Didiek ’Orange’ Sugianto ( Denpasar, 24 Januari 1968 ), bassist Roxx dan One Feel. Ikut rekaman album kedua Roxx, Nol dan single ‘Tergila Gila’ pada grup lainnya.

Cheryawan Agung Hartono ( Wawan Cher, Semarang 18 Mei 1974 ) antara tahun 2000 sampai 2004, ikut rekaman album band Blue Savana dari Semarang. Wawan juga pernah bergabung dalam band Wolfgang, dan merilis album Fake, 2012.

Ega Liong (Kediri, 30 April 1989) gitaris band Blackout, beberapa kali masuk nominasi Gitaris Terbaik SCTV Music Awards, AMI Awards, dan pemegang  Master Certificate of Guitar, Berklee College of Music, Boston (Berklee online), memenangi juara 3 Global Battle of the Bands Hard Rock Rising 2015.

More Pictures

Last modified on Sunday, 01 May 2016 13:19
Login to post comments