Berebut ‘Rakyat’ di Musik Indie

04 December 2014

Musik Indie kian disegani, meski masih banyak yang salah tafsir tentang istilah indie.  Musik Indie bukan sekadar rock, punya duit bisa rekaman, belum tentu karyanya masuk ranah indie. Tapi ada semangat baru dalam membidani lahirnya album indie yang bagus, yakni terkumpulnya biaya produksi dan promosi lewat konsep crowdfunding.......

 

Indie adalah Spirit

Indie adalah kependekan dari kata independent. Artinya ‘bebas merdeka, tak bisa diintervensi, menolak pendiktean, berkarya dengan bebas’.  Independent alias indie lahir atas pemahaman tentang kreativitas, kebersamaan, penyatuan visi dan iklas melahirkan karya.

Di dunia seni, ranahnya bisa indie pada film, seni rupa, seni kriya, teater, juga musik. Dari ranah musik, jika konsep indie lahir dari formasi band, maka yang harus diutamakan adalah, pemahaman tentang karya harus sama.

Satu visi dalam berkarya, dalam  formasi band. Jika tidak satu visi, sebuah formasi band dengan banyak kepala dan beda pemikiran, akan cepat rontok formasinya.

Itu pula sebabnya, Slank memutuskan indie tatkala anggota intinya tobat memakai drugs, lalu membangun formasi baru, bahkan dengan manajamen baru yang dipegang Bunda Iffet. Album indie pertama Slank adalah Balikin yang dirilis tahun 1998.

Band-band indie yang bertahan lama adalah Superman is Dead, Endank Soekamti, Tengkorak, Naif, Netral, Efek Rumah Kaca, Shuggydog, Cupu Manik, White Shoes and the Couples Company, Sore, Burgerkill, The S.I.G.I.T, Payung Teduh, Mocca, Type-X komunitas reggae yang dibangun Tony Q, atau komunitas Jogja Hip Hop Foundation, bahkan ada pula barisan indie terbaru solois Tulus, dan band tangguh GIGI dan /rif yang sudah lepas kontrak dari Sony Music.

Sejatinya masih ribuan band dan solois indie yang pantas kita catat. Di antara deret nama diatas, juga masih ada yang terikat kontrak dengan label rekaman atau baru saja keluar dari label remakan major.
Superman is Dead (SID) misalnya, ini band indie kondang asal Bali yang menyelusup ke kelompok rekan Sony Music lebih 5 tahun lalu, atas lamaran A&R Director-nya saat itu, Jan Djuhana. Netral misalnya, tahunan lamanya berada di bawah Aquaris Musikindo, sementara GIGI dan /rif, begitu kontrak mereka dengan Sony Music habis, dua band rock ini memutuskan untuk independent, baik dalam berakrya maupun independen dalam manajemen.

Sementara itu, meski SID berada di bawah payung label internasional Sony Music, mereka mengangsur perjanjian tak tertulis dengan Sony, tak mau diinterfensi karyanya, dan meminta perlakuan yang sama – termasuk hak berpromosi - dengan artis kontrakan lain Sony, seperti Sheila on 7, Cokelat, dan seterusnya. 

Tapi SID sempat membuat kecemburuan sosial pada musisi indie diluar major label maupun sesama di bawah label Sony Music, karena dua tahun lalu, SID meminta dibikinkan vynil ( piringan hitam ) untuk album berisi lagu The Best-nya, dan itu dipenuhi oleh manajemen Sony Music. Superman is Dead – menurut saya – termasuk trend setter pencetakan album vynil di Indonesia, yang belakangan juga diikuti oleh The S.I.G.I.T, Glenn Fredly bahkan Musica Studio’s pun berani mencetak 500 vynil para rilis awal album baru D’Masiv September lalu.

Ongkos Sendiri & Crowdfunding

Salah satu prinsip baku dari karya indie adalah, membiayai sendiri proses produksi. Jika itu rekaman musik, biaya tertinggi akan datang dari proses  pra ( awal ) maupun pasca ( setelahnya ) rekaman. Setelah rekaman jadi, yang tertinggi akan datang  untuk biaya  promosi, distribusi, membuka ‘jaringan kerjasama’, yang semuanya membutuhkan uang dan link pertemanan.

Untuk sampai ketahapan rekaman, pemasaran serta promosinya, sebuah band atau artis, butuh manajemen yang tangguh, Itupun setelah artisnya memiliki lagu-lagu dengan kualifikasi khusus, seperti : unik berkarakter dan beda di pasar.

Yang paling penting harus dipahami, indie memang buka sekedar rock, apalagi metal rock. Indie adalah spirit, sprit bebas merdeka tadi. Karena itulah, dari deret nama band atau solois di atas, bisa detemui band punk, rock alternatif, pop, jazzy, hip hop, reggae, ska.....

Itu pula sebabnya, karakter atau ciri khas harus lahri dari artis indie. Lagu-lagu hip hop yang berpuisi kritik sosial dari komuinitas Jogja Hip Hop Foundation misalnya, khusus membangun karakternya dengan membuat lirik-lirik atau puisi dalam bahasa Jawa, Lagu-lagu dari album karya Tulus, liriknya ‘gue banget’, dan lagunya ngepop abis.

Penampilan gahar SID, kampiunnya musik punk riock, begitu juga dengan Endank Soekamti yang selalu slengekan, sedang band Slank jualannya pada musik berbasis kritik sosial, The S.I.G.I.T, GIGI, Mocca, Sore dan banyak band indie lain, memanfaatkan sosial media dalam menjual fisik album ( dulu kaset, CD,atau vynil dan DVD ) , merchandise, atau menjual  ticket pertunjukannya.

Band-band indie dengan segala aktivitasnya yang harus kreatif, mau gak mau harus mengandalkan manajemen yang tangguh. Itu terlihat pada Pos Production, manajemen GIGI dan band Omelette. Pos Production  yang mengongkosi ultah GIGI di Stadion Istora Senayan dan membiayai rekaman GIGI di Studio Abbey, London – tahun ini.

Tapi, ada baiknyan kita memahami dinamika musik indie, yang mungkin datang dari otak para penggagasnya. Konser Rakyat Leo Kristi misalnya, album gresnya berjudul  Hitam Putih Orche, seluruh cost produksi, distribusi dan promosinya dibiayai komunitas fans loyalnya, Lkers. Bentuk promosinya antara lain launching album besar-besaran di Taman Mini Indobesia Indah, membuat konser reuni dan diskusi tentang musik Leo Kristi di Surabaya. Untuk fisik albumnya yang hard cover Lkers pasti juga mengeluarkan  biaya ekstra. 

Trio produser yang berlatar belakang laweyer Kadri, Yeni dan Ninot dengan bendera YenNinotz Journey - yang melahirkan album kompilasi 10 band progresif rock Indonesia Maharddhika, biaya produksi albumnya yang ratusan juta perak, juga datang dari sistem crowdfunding – berebut ramai-ramai mendanai produksi. Patungan. 

Yang unik, dana produksi album progrocvk Indonesia Maharddhika itu datang dari orang lintas partai, lintas profesi, lintas agama / keyakinan, lintas usia, mungkin juga lintas kegemaran musik, tapi sama-sama mengharapkan lahirnya karya berkualitas. Dari genre musik apapun.

Maka, yang menarik adalah munculnya nama Fadli Zon, Tantowi Yahya, Ferry Mulsidan Baldan, Wimar Witoelar, Once Mekel, Soerjoko, Hotman Paris Hutapea, Eri Riyana Hardja Pamekas, Chatib Basri, dan puluhan orang lainnya.

Mereka ada yang datang dari profesi musisi, produser rekaman.  mantan menteri, pengacara, anggota DPR dari partai berbeda atau yang kini menjabat menteri pun menyumbang buat lahirnya album Indionesia Maharddhika.

Kompensasi yanh tak tertulis, baik untuk album Leo Kristi maupun Indonesia Mhaaddhika, Eksekutif Produser menulis nama penyandang dana itu pada kolom khusus yang membarengi terbitnya album, juga diumumkan melalui multi media pada saat press conference launching albumnya.

Sejatinya, spirit indie yang muaranya pada aktivitas sosial dan idealisme berfikir untuk lahirnya barang seni yang berkualitas macam ini, juga ada pada proyek-proyek besar sosial kemanusiaan tingkat dunia, macam rekaman album USA fior  Africa yang melibatkan musisi kampiun dunia yang dimotori oleh Bob Geldof, 1986.

Terinspirasi oleh rekamann  dan nyanyi bareng Stevie Wonder Cs pada lagu ‘We Are The World’, di Indonesia lahir album keroyokan, baik model crowdfund  maupun crowd karya, yang diberi judul Suara Persaudaraan, (1987). 

Yang masih saya ingat, saya sedikit dipaksa oleh teman-teman musisi, untuk ikut menulis lirik ‘Pilar Harmoni’ untuk melodi lagu pop rock karya  Solid 80 di album Suara Persaudaraan.

Label Indie

Karena banyaknya musisi yang bergerak di ranah indie, sudah puluhan tahun lalu lahir label rekaman yang menampung produk indie, dengan berbagai bentuk kerjasama. Sejauh ini, yang ( pernah )  paling kondang adalah Aksara Records dari Jakarta.

Lalu, KFC dengan jumlah store diatas 450 buah, memiliki anak usaha label rekaman Swara Sangkar Emas, membuka kerjasama denghan band indie Slank. Mereka bekerjasana dengan membagi persentase hasil bersih penjualan, setelah dipotong pajak dan cost distribusi,

Beberapa label yang nenampung band atau artis indie itu bisa label besar bahkan major label, seperti Universal – mengedarkan album GIGI, Nagaswara – yang menyebut brand usahanya dengan big indie, antaralain merilis album Endank Soekamti, beberapa band Bandung memilih bekerjasama dengan label indie dari Bandung, sedang label indie yang terbesar saat ini adalah Demajors.

Label indie ini mungkin mengusai lebih dari 70% artis musik indie Indonesia masakini, setelah label Aksara yang kondang itu, tamat riwayat perjuangannya. Menurut saya, saat ini adalah waktu yang terbaik bagi artis musik independent untuk berkreasi total.

Musisi indie juga harus aktif browshing internet, melihat sejumlah festival musik lokal maupun interbasional, misalnya Java Festival Production yang lahir dari tangan Peter Gontha saja memiliki sejumlah festival musik Internasional seperti Java Jazz, Java Soul Nation, Java Rock’ n Land, dan yang terbaru Java Sounds Fair. Broshing internet juga bisa menemukan tempat festival musik di luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Dwiki Dharmawan, Mocca, Cupu Manik, Discus, Burgerkill, Iwan Fals dan banyak lainnya ,

Untuk rekaman, artis indie  tidak boleh berharap banyak untuk penjualan fisik album karena era digital sudah datang sejak 5 tahun terakahir, yang mengharuskan musisi indie berfikir keras untuk berpromosi memanfaatkan sosial media. Berpromosi melalui youtube, twitter, facebook, instagram....

Dan jangan lupa, hari ini Sabtu 6 Desember 2014 ini, para musisi dan penyanyi Indonesia akan mendapatkan ilmu istimewa dari Andi Ayunir, musisi Indonesia yang studio formal di Berklee College of Music, tapi beberapa tahun terakhir mulai mempelajari kemungkinan tetap eksisnya musisi, bergerak di bawah major label walayah indie, di era digital. XPOSEINDONESIA Bens Leo untuk Diskusi Musik  Indie di Era Digital, Galeri Malang Bernyanyi

More Pictures



   

Last modified on Thursday, 04 December 2014 23:41
Login to post comments